
Di sebuah bar yang biasa Tania datangi, duduk seorang pria yang terlihat seperti tengah mengalami patah hati. Pria itu pun, duduk di tempat Tania biasa duduk.
Dari arah belakangnya, dua orang pria lain ikut bergabung. Mereka menepuk pundaknya dan duduk mengapitnya. Mereka pun memesan minuman mereka.
Belum terjadi pembicaraan di antara mereka. Ketiganya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing. Meski sesekali, kedua pria yang baru saja datang itu melirik pada temannya.
Wajahnya terlihat kusut tak bersemangat. Hingga kedua pria itu menghela nafas bersamaan.
"Lo kenapa?" tanya Sandy.
"Tania lagi?" kali ini, Diki bertanya. Gerald mengangguk.
"Dia marah." tutur Gerald.
Diki dan Sandy saling menatap. Baru kali ini mereka mendengar Tania marah hingga berlarut-larut. Mereka berdua sangat mengenal bagaimana Tania. Sepertinya, ada masalah lain yang tidak mereka ketahui.
"Kali ini kenapa?" tanya Sandy.
Gerald terdiam. Cukup lama ia membungkam mulutnya. Dalam hatinya timbul pertanyaan, apakah ia harus memberitahu mereka tentang masalah yang ia hadapi?
Saat ia akan menjawab pertanyaan Sandy, ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama ibunya Laras menelpon. Gerald sedikit mengernyitkan dahinya heran.
"Sebentar, gue angkat telepon dulu." ucap Gerald meninggalkan Sandy dan Diki. Keduanya mengangguk.
Di luar, Gerald segera menghubungi ibunya karena telepon tadi sudah di matikan. Belum sempat ia menekan tombol hijau, kembali ibunya menghubungi.
"Iya Bu?" tanya Gerald setelah mengangkat panggilan ibunya.
"Kami di mana nak?" terdengar suara ibu yang panik.
"Ibu kenapa?" tanya Gerald.
"Bapak nak, bapak...." ucap ibu terbata.
"Bapak? Bapak kenapa Bu?" tanya Gerald. Kali ini, rasa khawatir mulai menjalari nya.
"Bapak pingsan." terdengar suara ibunya yang menahan isak tangis.
"Ibu tenang. Ibu sudah panggil ambulance?" Gerald mulai terlihat panik.
"Sudah, mungkin sebentar lagi sampai." ucap ibunya.
__ADS_1
"Gerald jalan sekarang. Nanti Gerald telepon lagi." dengan segera, Gerald memutuskan panggilan telepon itu dan berlari kedalam untuk mengambil jas yang tersampir di kursinya tadi.
Di sana, kunci mobil dan dompetnya berada. Tanpa basa basi, Gerald segera mengambil jasnya dan meninggalkan Sandy dan Diki yang menatapnya bingung.
"Woy.... Mau kemana Lo?" teriak Diki.
Gerald tak menjawab dan bergegas keluar. Diki dan Sandy mengumpat melihat Gerald yang tiba-tiba pergi. Penjaga counter bar pun menanyakan tentang pembayaran minuman yang di pesan Gerald tadi. Lagi-lagi, kedua pria itu memaki dan mengumpat Gerald kesal.
*****
Gerald memacu mobil yang di kendarai nya dengan kecepatan tinggi. Wajah sangat terlihat khawatir dan panik. Ia mengambil earphone di dashboard mobilnya, dan menelepon ibunya.
Pria itu memastikan, jika ayahnya sudah tiba di rumah sakit. Saat panggilan tersambung, terdengar suara ambulance di telinga Gerald.
"Ibu sudah hampir sampai. Kamu segera ke rumah sakit Medika ya." pinta ibunya.
"Oke Bu." jawab Gerald.
Gerald semakin menambah kecepatan mobil yang di kendarai nya.
Ia pun tiba di rumah sakit dan segera menuju IGD. Matanya menelisik setiap orang yang ada di sana untuk melihat ibunya. Hingga sosok wanita paruh baya itu nampak di matanya. Ia mendekati ibunya dan memeluknya.
Laras mendekap putranya erat dan menumpahkan tangisnya. Saat ini, dokter tengah memeriksa kondisi ayahnya. Gerald mengusap punggung ibunya. Tidak bisa di pungkiri, jantungnya ikut berdegup kencang menunggu dokter
Kebetulan, baby Tama sudah tertidur saat kabar itu mereka terima. Lagi pula, udara rumah sakit tidaklah baik bagi kesehatan bayi seperti baby Tama yang masih begitu kecil.
"Ibu..." Lisa menghampiri Laras dan memeluk wanita itu, setelah Gerald melepasnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa William bisa pingsan tiba-tiba?" tanya Ferdinand.
"Sejak pagi, dia memang kurang sehat. Karena itu kami tak hadir di pernikahan Kenzi dan Mia." tutur Laras.
Mereka menghela nafas. Mereka merasa bersalah pada sahabat mereka. Sudah beberapa hari ini mereka begitu sibuk.
Saat itu, dokter pun keluar. Dengan segera, Gerald menghampiri dokter.
"Bagaimana ayah saya dok?" tanya Gerald.
"Sudah tidak apa. Saat ini, kita harus menunggu pak William sadar." mereka pun menghembuskan nafas lega.
"Jika ingin masuk, silahkan. Tapi, di batasi dua orang saja ya, sampai pasien kami pindahkan ke ruang rawat." dokter itu tersenyum dan segera berpamitan.
__ADS_1
Laras dan Gerald segera masuk dan melihat kondisi William. Dan keluarga Lisa dan Nathan, menunggu di luar. Tak lama kemudian, petugas segera masuk dan membawa brankar William. Di susul oleh Laras dan Gerald yang mengiringi.
Mereka pun mengikuti petugas dan menuju ruang rawat inap. William di tempatkan di ruangan VVIP rumah sakit tersebut. Setelah itu, petugas tadi segera berpamitan pada mereka.
Lisa ingin sekali menunggu di sana. Namun Gerald dan Laras mencegahnya. Pria itu meminta Lisa pulang dulu.
"Biar Lisa ikut jaga bapak ya Bu?" tanyanya.
"Tidak usah. Kamu pulang saja." ucap ibu seraya tersenyum lembut.
"Tapi Bu?" Lisa masih terus memaksa.
"Lis, kasihan baby Tama kamu harus pulang. Biar aku dan ibu yang menjaga bapak. Kalau ada apa-apa, aku akan segera menghubungi mu. Pulanglah." sela Gerald.
"Gerald benar sayang, sebaiknya kita pulang dulu. Besok, kita kesini lagi ya." bujuk Nathan.
Akhirnya, Lisa pun menyetujuinya dan berjanji, jika besok ia akan datang lagi.
Setelah keluarga Lisa dan Nathan pergi, tinggallah Gerald dan Laras yang melihat wajah damai William dalam tidurnya. Gerald membetulkan selimut ayahnya.
"Ibu sebaiknya istirahat. Biar Gerald yang jaga bapak." ucap Gerald seraya mengusap punggung ibunya.
"Tidak nak. Kamu saja yang istirahat." tolak Laras.
"Bu...." ucap Gerald sendu.
"Ibu tidur ya. Di sofa saja. Biar Gerald tunggu bapak di sini." pinta Gerald seraya menunjuk sofa yang ada di ujung ruangan itu.
Laras pun mengangguk dan berpindah ke sofa. Tak lama kemudian, Laras pun terlelap. Gerald meminta selimut tambahan pada perawat yang berjaga di dekat ruang rawat William.
Setelah itu, ia menyelimuti ibunya. Yang tidak Gerald ketahui adalah, dari balik tembok ada gadis yang mengamatinya. Hatinya sedikit terenyuh melihat perhatian Gerald pada kedua orangtuanya.
Gadis itu masuk, saat Gerald tertidur di dekat ayahnya. Tepat saat itu, Laras terbangun dan melihatnya. Ia menghampiri gadis itu.
"Tania?" ucap Laras lirih.
Tania terkejut dan tersenyum. Dua wanita beda generasi itu pun keluar dari ruang rawat, dan menutup pintu dengan amat perlahan. Mereka duduk di depan ruang rawat.
"Kenapa tidak bangunkan Gerald?" tanya Laras.
"Dia terlihat lelah, biar saja Bu." jawab Tania.
__ADS_1
Apa yang di katakan Tania memang benar. Pria yang sudah mengisi hati nya, sekaligus menyakitinya itu terlihat begitu lelah. Hingga ia tak tega membangunkannya.