
Lisa mulai takut. Namun, sebisa mungkin ia tidak ingin memperlihatkannya. Ia melihat pria paruh baya yang mungkin seusia papinya. Tubuhnya masih tegap. Rahangnya yang tegas, menambah ketampanannya. Sekilas ia merasa mengenali wajah itu.
Wajahnya tak asing. Tapi, aku pernah lihat dimana? pikirnya.
"Ternyata benar ada kemiripan antara putraku dan dirimu." ucap pria itu.
Lisa terdiam, mencoba mencerna setiap kata-kata pria di hadapannya. Putra? Siapa? pikirnya.
Tubuh Lisa mulai merasakan dingin. Ia meremas jemarinya. Berharap bisa mengurangi ketakutannya.
"Jadi benar, kau sedang hamil?" pria itu mulai melangkah mendekati Lisa.
Reflek, Lisa memeluk perutnya sendiri. Seakan pria itu ingin mengambil calon bayinya. Pria itu tertawa. Lisa mengerutkan dahinya. Lisa merasa, tidak ada yang hal lucu yang bisa di tertawa kan.
"Aku tidak menginginkan bayimu. Tapi aku menginginkan nyawamu." pria itu tertawa.
Jika ia menginginkan nyawaku, itu berarti bayi ku pun dalam bahaya. Kak Nathan tolong aku dan anak kita. Tuhan, selamatkan lah kami.
Tanpa terasa, air mata Lisa mengalir.
"Kenapa, kau takut? Tapi sebelum itu, mari ku bawa kau bertemu perempuan dalam video itu." pria itu menyuruh anak buahnya membawa Lisa.
"Aku bisa jalan sendiri." ucap Lisa cepat.
"Bagus kalau begitu. Ikut aku." pria itu mulai berjalan di ikuti Lisa dan anak buahnya belakang Lisa.
Lisa melihat sekelilingnya. Mereka memasuki sebuah ruangan yang menuju ruang bawah tanah.
Kemana mereka akan membawaku? tanyanya dalam hati.
Lisa masih mencoba mengingat pria di depannya itu. Sampailah mereka di halaman rumah yang lain. Entah dimana ia sekarang. Namun, ia tidak di bawa ke dalam rumah itu melainkan ke gudang yang berada di sisi kiri rumah itu. Gudang itu terpisah bangunan dari rumah di sampingnya.
__ADS_1
Lisa melihat seorang wanita. Wanita itu terlihat lemah tak berdaya. Usianya, tak membuat wanita itu kehilangan kecantikannya. Wanita itu terbangun ketika mereka semakin mendekat.
Matanya berkaca-kaca melihat Lisa. Ada raut penyesalan di wajahnya. Lisa tak mengerti, mengapa wanita itu terlihat merasa bersalah? Ada apa ini?
Pria itu mengangkat tangannya. Menyuruh anak buahnya membuka kain yang menutupi mulut wanita itu. Seketika, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Lisa semakin tak mengerti. Rasa takutnya bahkan menguap begitu saja.
"Kau pasti merasa bingung." Lisa menatap pria itu. Pria itu mengambil sesuatu dari balik jasnya dan memberikannya pada Lisa.
Lisa mengambilnya dan melihat. Itu adalah sebuah foto. Lisa memperhatikan foto itu. Satu pasangan, sangat ia kenali. Itu adalah papi dan mami nya. Ia tahu, karena ia melihat foto itu terpajang di rumah papinya. Foto berikutnya, adalah pria itu dengan wanita yang mirip dengan maminya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Lisa.
"Silahkan kau perhatikan baik-baik wanita itu." tunjuk pria itu pada wanita di hadapan kami. "Apakah dia yang ada bersama ayahmu atau aku?"
Apa maksud pria ini? Apa kedua wanita dalam foto ini adalah wanita yang sama? Lisa semakin bingung. Ia kembali memperhatikan kedua foto itu.
Lama ia menatap kedua foto itu. Ia mencoba mencari perbedaan dari kedua foto itu. Sia-sia, ia tak bisa mengetahuinya.
"Sepertinya kau tidak bisa membedakan yang mana ibumu, yang mana Tante mu. Sama seperti ayahmu yang bodoh itu." Lisa terperanjat. Pria itu tersenyum sinis.
"Sudahlah. Biar aku yang memberitahumu." rahang pria itu terlihat mengeras.
"Hentikan Hendrik. Aku yang akan memberitahunya." wanita itu akhirnya bersuara.
Wanita itu pun mulai menceritakannya.
Dua puluh delapan tahun yang lalu. Satu bulan sebelum kelahiran Lisa. Putri pertama Alena dengan pengusaha ternama Ferdinand Surya Atmadja.
Siang itu, Alena di temani oleh kakak kembarnya Alea dan putri kecilnya Cantika, berbelanja keperluan bayinya. Setelah selesai, mereka menemani Cantika bermain, dan makan siang bersama. Alea adalah istri dari sahabat suaminya Hendrik Widiatmoko.
Namun naas, ketika mereka akan kembali, mobil yang di kendarai Alea, tertabrak truk. Hingga mobil itu terguling. Alea yang saat itu menyetir, sambil menelpon suaminya pun terjepit. Begitupun dengan putri kecilnya.
__ADS_1
Hendrik, yang memang sedang di hubungi istrinya itupun panik begitu mendengar teriakan istri dan adik iparnya. Ia segera melacak keberadaan istrinya itu.
Ia tiba di lokasi kejadian. Saat itu, polisi sedang melakukan penyelamatan. Namun sayangnya, ketika istri dan anaknya di keluarkan, mereka tak lagi bernyawa.
Hendrik yang tidak terima dengan kematian istri dan putri tercintanya, mulai menaruh dendam pada Alena. Karena kecelakaan itu, Alena harus segera melahirkan dengan jalan operasi untuk menyelamatkan bayinya.
Hendrik akhirnya memutuskan menukar mayat istrinya Alea dengan adiknya Alena. Tiga jam setelah kelahiran putri Alena, Alena mengalami koma. Hendrik memanfaatkan kondisi itu dan membawa Alena pergi jauh. Ia menyuruh anak buahnya untuk membawa Alena pergi.
Setelah Alena pergi, barulah Hendrik menghubungi Ferdinand. Ia mengatakan, jika Alena telah meninggal setelah di operasi.
Ferdinand tiba di rumah sakit tiga jam kemudian. Saat itu, Ferdinand tengah berada di luar pulau. Itulah sebabnya ia tidak tahu tentang kecelakaan itu.
Hendrik berpura-pura turut bersedih atas musibah yang menimpa sahabatnya sekaligus adik iparnya itu. Ia pun bersedih, atas kepergian putri kecilnya Cantika dan istrinya, yang akan di makamkan oleh Ferdinand. Kini, Ferdinand akan merawat putrinya sendiri.
Ferdinand, memberi bayi itu nama Queen Elisa. Hendrik pun pamit pada Ferdinand untuk melakukan perawatan pada istrinya Alea yang sebenarnya adalah Alena.
Entah, apakah Ferdinand tahu atau tidak kebenaran itu. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu.
•••••••••••
Lisa tercengang mendengar kenyataan itu. Maminya masih hidup. Mami kandungnya, kini ada di hadapannya.
"Saat usia mu sepuluh tahun, aku pernah mengunjungimu dan berniat membunuhmu. Karena aku ingin Ferdinand merasakan kehilangan yang sama sepertiku. Setelah itu, baru ku bunuh ibumu." ucap pria itu dengan raut penuh amarah.
"Om, bukankah ini kesalahpahaman? Apa om pernah bertanya pada papi, apakah papi mengenali jenazah yang sudah om tukar?" air mata Lisa terus mengalir. Begitupun dengan Alena.
"Kenapa om begitu kejam? Bukankah putri om meninggal karena kecelakaan? Apa ada hubungannya denganku?" pekik Lisa dengan airmata yang terus mengalir.
"Papi mu, tidak mencintai mami mu. Aku yakin itu." pria itu terlihat sangat yakin.
"Om tidak akan pernah tahu jika om tidak bertanya. Atau jika om tidak berada di posisinya. Lisa tahu, papi pasti menyadari itu." Lisa mencoba meyakinkannya.
__ADS_1
"Diam. Setelah ini, aku pasti akan membunuhmu dan ibumu."
"Jangan Hendrik. Ini salahku, biar aku saja yang menanggungnya. Lepaskan putriku, dia tidak tahu apa-apa." Alena menangis histeris.