
Erland dan mamanya menunggu diluar ruangan operasi dengan perasaan campur aduk.
Berulang kali, Erland melihat jam yang tergantung di dinding Rumah Sakit itu. Sudah 1 jam lamanya Nadia ada di dalam, sejak Erland menandatangani surat persetujuan tindakan operasi istrinya, Nadia.
"Bagaimana Nadia?", mama Nadia tiba - tiba datang mengagetkan Erland dan mamanya.
"Belum tahu, ma. Nadia masih di dalam", jawab Erland, setelah dia menguasai dirinya dari kekagetannya tadi.
"Kita berdoa saja ya, semoga Nadia dan bayinya baik - baik saja.", ucap mama Nadia dengan tenang.
Bagi mama Nadia, ini bukan kejadian pertama kali menemani puterinya melahirkan. Kedua puterinya yang lain yaitu kakak Nadia yang tertua dan kedua, sudah duluan punya anak.
Jadi, mama Nadia sudah terbiasa menghadapi situasi menunggu diluar kamar persalinan.
"Bapak mana ma?", tanya Erland ke mama Nadia untuk mengurangi sedikit ketegangannya.
"Masih ada kerjaannya, ada Busnya bermasalahan. Nanti pasti datang kok", jawab mama Nadia dengan senyum di bibirnya.
Erland menyebut papanya Nadia dengan panggilan Bapak, karena katanya papanya Nadia sangat berwibawa, kebapakan. Bukan seperti papanya, yang selalu diam, jarang bicara. Kebalikan dari mamanya yang sangat senang bicara dan suka bertandang ke tetangga.
Seperti sekarang ini, mamanya Erland mendominasi pembicaraan dengan mamanya Nadia. Mama Nadia hanya menjawab singkat atau mengangguk - angguk, sekedar menghargai besannya.
"Aku udah nasehati Nadia, agar sering jalan pagi, agar bisa melahirkan normal. Ini sekarang malah operasi dia, biayanya juga mahal. Tadi kata dokternya paket yang paling murah aja 5 juta. Entah bagaimana nanti bayarnya", walau niatnya jelas bersungut - sungut namun mama Erland bisa tampak santai mengatakannya.
"Bukannya baru 1 hari Nadia cuti kerja? Selama ini kan dia kerja. Berangkat pagi - pagi, jadi bagaimana dia mau jalan pagi?, bela mama Nadia yang tidak terima puterinya seolah - olah dianggap malas.
"Ini kehamilan pertama Nadia, dia bekerja dari pagi hingga sore. Bahkannya kantornya pun berada di lantai 3. Nadia sering bercerita sejak kehamilan 7 bulan, dia lebih memilih naik tangga daripada naik lift. Katanya hitung - hitung olahraga, pengganti jalan pagi. Nadia sangat ingin melahirkan normal. Bahkan dia takut melahirkan sesar."
Mama Nadia kelihatan kesal atas sikap besannya itu. Sering sekali besannya itu memojokkan Nadia di hadapannya, di hadapan mamanya sendiri. Menceritakan kesalahan - kesalahan Nadia, lebih tepatnya mencari - cari kesalahan. Seolah - olah ingin mengatakan kalau mama Nadia tidak becus mengurus puterinya selama ini.
__ADS_1
"Uangmu ada berapa, Erland?", tanya mama Nadia.
Erland hanya menunduk, tidak tahu mau mengatakan apa. Karena memang dia tidak punya uang sepeser pun.
"Nanti aku tanya dulu sama Nadia, ma", jawab Erland lesu.
"Selama ini, apa kalian tidak ada membahas mengenai biaya persalinan?, cecar mama Nadia.
"Ada sih, ma. Tapi, itu biaya persalinan normal di bidan. Kita tanya kemarin katanya hanya sekitar 500.000 - 700.000 ma. Nadia bilang dia punya tabungan", jelas Erland
Mama Erland kesal, karena sebelumnya Nadia sudah pernah bercerita, kalau Erland jarang sekali memberinya uang. Alasannya lagi tidak punya uang.
Bahkan untuk membeli perlengkapan melahirkan, dan perlengkapan bayi, Erland menyarankan memakai perlengkapan bekas milik kakaknya Nadia dan kakaknya Erland.
Begitupun dengan mamanya Erland, dia memberi perlengkapan bekas milik kakaknya Erland kepada Nadia yang selama 5 tahun ada di gudang. Dan, menyuruh Nadia untuk mencucinya.
Tak sehelai pun popok yang ada dibeli mamanya Erland untuk calon cucunya. Padahal ini adalah cucu pertama dari anaknya laki - laki. Dua anaknya yang perempuan sudah memberinya 5 orang cucu.
"Ini anak pertama kita, sayang, masa sudah langsung pakai bekas punya kakak - kakaknya", protes Nadia ke Erland saat dia meminta uang mulai menyicil perlengkapan ibu dan bayi.
"Kayak anak yang gak diharapkan saja dia. Setidaknya dia punya 1 lusin perlengkapan yang baru. Malulah bawa yang bekas ke Rumah Sakit kalau melahirkan nanti", sungut Nadia lagi.
Tapi seperti biasa, Erland hanya diam, tidak memberikan solusi apapun.
Erland sangat jauh berubah sifatnya saat mereka menikah. Bahkan Nadia seperti tidak mengenalnya, 180° berubah. Padahal mereka berpacaran 5 tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat untuk mengetahui dan memahami pasangan kita.
"Suami Ibu Nadia?", seorang suster keluar dari ruang operasi, menghentikan perdebatan mama Nadia dan Erland.
"Ya, saya sus!", spontan Erland berdiri dari duduknya di bangku tunggu pasien yang ada diluar ruangan operasi.
__ADS_1
"Selamat pak, anak bapak perempuan. Ibu dan bayinya sehat. Sekarang lagi dibersihkan", ucap suster itu dengan senyum di bibirnya.
"Puji Tuhan, terima kasih Tuhan."
Tanpa komando, Erland, mamanya dan mama Nadia serentak mengucap syukur.
"Nanti saya panggil lagi ya pak, untuk menyerahkan ari - arinya. Bapak bawa potnya?", tanya suster itu.
"Tidak ada sus, nanti biar sekalian saja saya beli", jawab Erland.
"Baik, pak. Saya tinggal dulu ya, permisi."
Suster Rani berlalu dan menghilang masuk ke ruang operasi lagi. Di baju dinasnya tadi tertera namanya Rani. Jadi, siapapun yang melihat bisa langsung tahu namanya Rani.
######
"Hey, selamat datang ke dunia, sayang papa", Erland mencium gemas puterinya yang baru lahir, setelah dibersihkan dan dibawa ke ruang perawatan khusus bayi.
Erland, mamanya dan mama Nadia, diizinkan oleh dokter untuk melihat bayi mungil itu. Setelah melewati beberapa pemerikaan yang dilakukan oleh Dokter Spesialis Anak (DSA), tidak ada ditemukan hal yang mengkhawatirkan pada bayi Nadia dan Erland. Bayinya sehat dan kuat.
"Mirip banget ya sama kamu", ucap mama Erland dengan mata berbinar.
"Iya ma, mirip banget malah", senyum Erland selalu terukir di bibirnya. Matanya memancarkan cahaya bahagia melihat putrinya yang sangat cantik.
"Hitam manis nih kayak kamu, semoga gak pendek ya", entah kenapa mama Nadia tidak sengaja mengucapkannya atau menyindir. Yang pasti ada perubahan rona tidak suka di wajah mama Erland.
Edelweis, itulah nama yang sudah dipersiapkan Nadia untuk putri pertamanya. Nama itu diambil dari bunga Edelweis yang melambangkan cinta dan keabadiaan.
Welcome to the world, little Edelweis
__ADS_1
••••••••••••••• ######### •••••••••••••••••