
Kini, Ferdinand menyadari Ardian hanya melampiaskan emosi yang sudah tertumpuk lama di hatinya. Mungkin saja, kini sudah membisikkan hatinya.
Sejak kecil, kedua orangtuanya selalu memberikan semua yang di inginkan nya. Tetapi tidak dengan Ardian. Terkadang, Ferdinand merasa iba pada Ardian. Namun, ia tak bisa berbuat apapun.
Saat dirinya lulus dari SMA, ia memutuskan melanjutkan kuliahnya keluar negeri. Saat itu, ia berharap orangtuanya bisa memberikan perhatian pada Ardian ketika dirinya tak ada.
Selama tujuh tahun kepergiannya, ia tak pernah tahu apa yang terjadi. Apakah orangtuanya melakukan hal yang ia harapkan atau tidak. hingga di tahun ke delapan, saat usianya menginjak 26 tahun.
Saat ia kembali, ia menanyakan keberadaan Ardian. Karena Ardian tak terlihat sedikitpun. Orangtuanya mengatakan, bahwa Ardian lebih memilih tinggal di apartemen. Ia tak lagi bertanya.
Tepat di usianya yang ketiga puluh, papinya menyuruh Ferdinand menduduki posisi CEO di perusahaan mereka. Ferdinand sempat menolak dan meminta Ardian yang menduduki posisi itu. Tapi kedua orangtuanya berkata, jika Ardian sudah memiliki perusahaan sendiri.
Ferdinand tidak langsung mempercayainya. Ia mencari tahu kebenarannya. Dan benar saja apa yang di katakan orangtuanya. Perusahaan milik Ardian pun tengah berkembang saat itu.
Ferdinand pun menyetujui permintaan kedua orangtuanya. Tidak selesai sampai di situ, satu tahun kemudian, Ferdinand di perkenalkan pada Alena. Jujur saja, Ferdinand jatuh cinta pada Alena pada pandangan pertama.
Ferdinand yang tidak mengetahui jika Alena adalah kekasih Ardian, mulai mendekatinya. Selama enam bulan, Ferdinand mulai mendekati Alena. Kedua orangtuanya sangat bahagia.
Hingga kemudian, orangtuanya menyarankan dirinya menikahi Alena. Mungkin itu keberuntungan Ferdinand. Saat ia melamar Alena, keluarganya menerima lamaran itu. Dan mereka pun menikah.
"Kau tahu, aku bisa merelakan semuanya. Kasih sayang orangtuamu, harta mereka, bahkan keluar dari rumah mewah kalian dan di coret dari daftar ahli waris pun aku tak marah. Tapi saat orangtuamu menyuruhku melepas Alena untukmu, saat itu aku mulai membenci dirimu.
"Kenapa kau tidak bisa mengalah untukku satu kali saja? Kenapa aku harus kehilangan segalanya? Apa lagi yang harus hilang dariku hingga kau dan orang tuamu puas?"
Ferdinand tak bisa menjawab. D***nya bahkan semakin terasa sesak. Dia tidak tahu, jika kehadirannya menyakiti Ardian. Kakak yang di cintainya. Inikah jawaban dari setiap pertanyaannya dahulu? Inikah alasan kenapa Ardian tak pernah ingin berdekatan dengannya?
Airmata Ferdinand tak lagi bisa di tahan. Sama seperti Ardian yang sudah melepaskan semua rasa sakitnya.
Ardian sudah memendam rasa sakit itu lebih dari tiga puluh tahun. Tapi ini salah. Tidak seharusnya ia memisahkan anak dari orangtuanya. Tidak seharusnya ia membuat sang kakak membenci adiknya.
"Jadi benar, Tania putriku?" tanya Ferdinand. Kali ini, nadanya terdengar penuh harap.
__ADS_1
"Ya." ada kelegaan terpancar dari mata Ferdinand. Setidaknya, putrinya mendapat kasih sayang melimpah. Ferdinand yakin, Ardian tidak akan mungkin menyakiti Tania.
"Ardian..." Ferdinand tercekat.
"Aku minta maaf. Sejujurnya, aku tidak tahu perasaanmu. Seharusnya, sejak dulu, aku mendekatimu. Tapi, yang kulakukan adalah menjauhi mu. Maaf."
"Tidak kau dekati pun, aku tak akan mendekat padamu. Karena papi dan mami mu, melarang ku mendekatimu." Ferdinand kembali tercengang.
"Mereka juga orangtuamu Ardian." ucap Ferdinand.
Ardian tertawa sinis. "Kau salah. Aku hanya anak angkat mereka. Karena mereka, menggunakan aku sebagai pancingan." sorot mata Ardian menyiratkan kemarahan.
Ferdinand menatap tak percaya. "Kau bohong. Kau bohong kan?" airmata Ferdinand semakin deras.
"Kau tanyakan saja pada orangtuamu. Mereka masih hidup kan?" muncul seringai di wajah Ardian.
Ferdinand mengerutkan dahinya. Seingatnya, sepuluh tahun yang lalu, orangtuanya mengalami kecelakaan mobil. Mobil yang di tumpangi kedua orangtuanya terjatuh ke jurang yang terlalu dalam. Bahkan, mobil itu meledak. Hingga pihak berwenang, tak bisa melakukan evakuasi.
"Apa maksudmu?" Ardian tak menjawabnya.
"Belum saatnya kau mengetahui segalanya. Kenyataan aku anak angkat mereka saja, baru ku ketahui lima tahun lalu." Ferdinand mengusap wajahnya kasar.
Tanpa mereka sadari, Tania mendengar semua itu. Jujur saja, ia merasa iba pada Ardian. Namun, ia tak pungkiri selama hidupnya, Ardian selalu mencurahkan kasih sayang tulus padanya. Meski kenyataan nya, ia hanyalah alat balas dendam untuk Ardian.
Tania tahu, tempat Ardian menyekap Lisa. Meski Ardian tak memberitahunya, tania sangat paham karakter Ardian. Perlahan, Tania mencari keberadaan Lisa. Ia yakin, Lisa ada di rumah itu.
"Dimana ayah menyembunyikan Lisa?" gumamnya.
Tania teringat ruang bawah tanah. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat itu. Saat mendekati tempat itu, ia melihat beberapa anak buah ayahnya berjaga.
"Benar, ayah pasti menaruh Lisa di sana." gumamnya.
__ADS_1
Ia pun mulai mendekati tempat itu, dan kembali menjadi Tania yang mereka kenal. Angkuh dan arogan. Para penjaga yang melihat keberadaannya menunduk hormat.
"Sedang apa kalian di sini?" tanyanya dengan wajah heran.
"Kami sedang bertugas nona." Tania hanya mengangguk seakan tak peduli.
Ia mulai berpikir dan mencari cara membebaskan Lisa. Haruskah ia meminta tolong Gerald dan Nathan? Ia memilih kembali dulu kedalam rumahnya.
Saat ia masuk, ia melihat seorang pelayan membawa baki berisi banyak makanan. Ia memiliki ide.
"Buat apa makanan sebanyak itu?" tanyanya.
"Ini untuk...." pelayan itu merasa bingung ingin menjawab apa.
Tania yang melihat kebingungan pelayan itu tahu, dan tak memperpanjang pertanyaannya.
"Oh iya. Bawakan aku jus alpukat. SEKARANG." ucapnya memaksa.
"Oh ya, kau yang harus mengantarnya. ke kamarku. Dan makanan ini juga, tinggalkan saja dulu." ucapnya dengan arogan. Kemudian, memasuki kamarnya.
Mau tidak mau, pelayan itu mengikuti keinginan sang majikan. Tak lama kemudian, Tania kembali keluar, dan menaruh sesuatu di dalam minuman. Lalu segera meninggalkan tempat itu.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu mengantarkan pesanan nona nya. Setelah meletakkan jusnya di atas meja, pelayan itu keluar dan mengantarkan makanan itu pada para penjaga.
Setelah melihat pelayan itu kembali, Tania segera menuju ruang bawah tanah tadi. Ia menunggu obat yang di masukkan nya bereaksi.
Setelah menunggu 30 menit, para penjaga itu pun terkapar. Dengan segera, Tania masuk ke dalam ruangan itu. Benar dugaannya. Hatinya sempat bergemuruh dengan hebat. Airmatanya bahkan mengalir deras.
Ia berusaha mengendalikan dirinya. Kemudian, melepaskan tali yang mengikat Lisa, serta penutup mata Lisa. Lisa sempat tertegun melihat kehadiran Tania.
"Cepat ikut dengan ku. Kita harus menyelesaikan masalah ini. Atau, semuanya akan semakin berlarut-larut." ucap Tania.
__ADS_1
Lisa masih tertegun. Hingga ia hanya bisa mengikuti langkah Tania. Mereka berhenti di satu ruangan lain di sebelah Lisa. Merasa ada suara, Tania mencoba membuka pintu itu.