Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Cemburu


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, kini kehidupan rumah tangga Kaysan dan Nada begitu harmonis. Walau kadang ada sedikit salah paham, namun sebisa mungkin mereka menyelesaikan masalah tersebut dengan kepala dingin. Hal itu pula yang memperkuat jalinan ikatan pernikahan mereka. Baik Nada dan Kaysan menganggap masalah itu sebagai bumbu-bumbu pernikahan mereka. Oleh karena itu, sebisa mungkin mereka menyempurnakannya jika ada kekurangan. Kaysan dan Nada sudah sepakat tidak ada rahasia apapun yang mereka sembunyikan. Sekecil apapun itu, mereka berdua harus terbuka dan menceritakannya kepada pasangan masing-masing agar tidak terjadi yang namanya salah paham.


“Mas, jangan lupa bawa bekal, yah!” ujar Nada memperingatkan Kaysan yang baru akan berangkat kerja. Sementara itu dirinya kini bersiap ke kampus.


“Terima kasih, sayang sudah repot-reot menyiapkan makanan untuk suamimu ini.” Kaysan berkata sembari mengelus kerudung sang istri yang kini tengah bercermin di dalam kamar.


“Sama-sama, Mas.”


Kaysan pun lekas beranjak menuju dapur.


Saat ini, keduanya sudah bersiap meninggalkan rumah. Mulai hari ini, Nada menjadi mahasiswa pasca sarjana untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi.


“Sayang, hati-hati di jalan.” Usai Nada mencium tangan suaminya dengan takzim.


“Mas, juga. Hati-hati dan waspada jika ngantar paket!”

__ADS_1


Kaysan mengangguk. “Siap, Bu bos,” ujar Kaysan seraya menaikkan tangan di samping mata pertanda hormat.


Nada tertawa cekikan melihat tingkah sang suami. Usai mengunci rumah dan mengucap salam, keduanya pun berpisah dengan tujuan masing-masing.


Sampai di kampus seperti biasa Nada memarkirkan kendaraan roda dua kesayangannya di parkiran sebelum masuk ke kelas pagi. Berhubung hari ini jadwal Nada hanya sampai siang hari, jadi rencana sepulang dari kampus ia akan menuju ke rumah orang tuanya. Sejak menikah, Nada jarang pulang ke rumah orang tuanya. Terakhir kali ia ke sana sewaktu mengambil motor dan laptop.


Di awal semester baru ini seperti biasa, Nada disibukkan dengan tugas proyek. Beda dengan jenjang S1 kemarin yang masih sedikit agak santai. Saat free sekarang ini ia melangkah menuju perpustakaan untuk mencari referensi tambahan terkait tugas yang ia butuhkan. Setelah mendapatkan buku yang ia perlukan, Nada pun meminjam buku tersebut untuk dibawa pulang, sebelumnya ia sudah mengisi format peminjaman buku online di laman perpustakaan kampus dan akan dikembalikan dalam tenggang waktu yang telah ditentukan. 


Berhubung matahari sudah sangat terik, Nada pun kelauar dari perpustakaan melangkah menuju parkiran. Namun, ditengah perjalanan ia bertemu dengan Randi dosennya.


“Assalamualaikum, Nada sudah mau pulang?” tanya Randi menatap perempuan bergamis peach di depannya.


Randi tersenyum masih menatap mata perempuan di hadapannya. “Walau keputusanmu untuk tetap lanjut kuliah di sini, semoga kamu sukses, Nada.”


“Aamiin. Terima kasih doa nya, Kak. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum.”

__ADS_1


Randi mengangguk. “Waalaikum salam.”


Dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya, tiba-tiba motor Nada mengalami mogok di tengah jalan.


“Astagfirullah, bisa-bisanya aku lupa isi bensin.” Nada menepuk keningnya lalu menepi di pinggir jalan.


“Lebih baik, aku telfon mas Kaysan aja.” Lekas Nada pun mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menekan nomor suaminya. Saat sambungan terhubung, tiba-tiba Nada menoleh saat ada yang memanggil namanya.


“Nada, kamu butuh bantuan?” tanya laki-laki yang tidak lain adalah Randi. Randi yang melintasi jalanan ini melihat Nada berhenti turun dari motor.


“Nggak kok, Kak.” Tolak Nada. Ia tidak ingin berduaan di jalanan yang sepi ini yang bisa menimbulkan fitnah.


“Tidak usah sungkan. Dalam keadaan darurat seperti ini kamu sangat butuh pertolongan. Sepertinya kesayangan kamu butuh diisi. Maksud Randi ‘kesayangan’ adalah motor Nada. Ya, sudah tolong kamu buka ‘itunya’ aku cek sebentar, tunjuk Randi pada sadel motor Nada.


Sementara itu ponsel Nada terus terhubung sejak tadi pada Kaysan. Di seberang, Kaysan sudah berpikir aneh. Ia sangat cemburu mengetahui sang istri dekat dengan lawan jenisnya. Apalagi saat istrinya bersama dengan seorang laki-laki. “Sialan!” ucap Kaysan mematikan ponselnya dan melanjutkan menyelesaikan antaran paket. Sepanjang perjalanan ia tidak fokus karena kalimat laki-laki yang bersama Nada tadi seolah menyiratkan yang tidak-tidak.

__ADS_1


Bugh!


Kaysan menabrak tiang listrik karena tidak fokus. Kaysan terkapar di atas aspal dengan darah yang mengalir deras di kepalanya.


__ADS_2