
"Pa, bangun, aku ngompol!", kuguncang tubuh suamiku yang sangat lelap tidurnya. Aku bingung karena aku terbangun dan mendapati sprei kasur sudah basah kuyub.
"Papaaa, banguuun!" sekuat tenaga aku berteriak, namun suara yang keluar dari mulutku sangat lemah.
Karena suamiku tak kunjung bangun, aku melemparnya dengan bantal. Akhirnya usahaku membuahkan hasil.
"Ada apa sih, ma?. Ini masih malam. Tidur lagi lah", setelah mengucapkan kata - kata itu, suamiku meraih guling dan ingin kembali tidur.
Sebelum itu terjadi, aku tarik gulingnya dengan kasar.
"Kebo banget sih, dari tadi mama bangunin tapi gak dengar. Ini mama ngompol, pada basah semua. Tapi, anehnya gak bau pesing, malah agak sedikit berlendir gitu."
"Kita telepon dokter Ratna!", panik suamiku langsung menyambar ponselnya dan menelepon dokter Ratna.
'*Halo dok, maaf tengah malam begini saya mengganggu. Ini saya Erland, suami Nadia."
'Iya gak apa-apa kok pak, sudah tugas saya sebagai dokter harus standby 24 jam. Ada yang bisa bantu'
'Begini, dok, istri saya ngompol tapi tidak berbau pesing, namun sedikit berlendir katanya*' , Erland menjelaskan dengan panik.
__ADS_1
'Oo, itu ketuban Ibu Nadia pecah pak. Bapak harus segera bawa ke Rumah Sakit. Sebelumnya Bapak perhatikan arahan saya ya.'
Erland mengangguk-angguk, mendengar dengan seksama apa yang disampaikan oleh dokter Ratna.
'Baik, dok, segera saya lakukan sesuai arahan dokter. Terima kasih dok, sampai ketemu di Rumah sakit.'
"Ayo, sayang, kita harus ganti dulu semua baju kamu. Aku tuntun kamu ke kamar mandi", Erland membantu Nadia turun dari tempat tidur, dan memapahnya ke kamar mandi.
"Dokter Ratna, bilang, kamu jangan banyak bergerak. Itu ketuban kamu yang pecah, dan kita diminta agar segera ke Rumah sakit. Takutnya nanti air ketubannya kering."
"Tapi, sayang, aku enggak ada merasa mules ataupun kontraksi. Dari buku kehamilan yang aku baca, ciri - ciri Ibu yang mau melahirkan itu ya perutnya mulas, sakit, sering kontraksi atau berasa ingin BAB. Lagipula ini belum waktunya lho. Bukannya kemarin kata dokter Ratna, HPL ku itu jatuh di tanggal 9 Oktober?, ini masih tangal 25 September, sayang", Nadia menjelaskan apa yang dia rasakan sekarang.
Selesai memakaikan baju Nadia, Erland langsung menyambar tas yang berisi perlengkapan Ibu dan bayi, yang sudah dipersiapkan Nadia beberapa hari lalu saat Nadia sudah cuti kerja.
"Kamu tunggu disini ya, aku bangunkan mama, dan menelepon taksi. Jangan bergerak, tenang saja", setelah memberi perintah, Erland pergi ke kamar mamanya.
"Ma, mama..., Nadia sudah mau melahirkan ini Ma", ucap Erland sambil mengetuk pintu kamar Mamanya.
Seorang wanita yang sudah berusia lanjut, usianya sekitar 65 tahun dengan rambut yang sudah memutih, keluar dari kamar. Raut wajahnya masih mengantuk dengan mata yang masih setengah terbuka.
__ADS_1
"Kenapa, land?", tanya mama Erland.
"Nadia, mau melahirkan, Ma. Ketubannya sudah pecah. Tadi, aku udah telepon taksi. Ini kami mau pamit mau ke Rumah Sakit", jawab Erland cepat dengan ekspresi tegang.
"Mama ikut, tunggu bentar Mama ganti baju."
#######
"Kita harus segera mengambil tindakan sesar pada Ibu Nadia, pak. Ibu Nadia tidak mengalami kontraksi, dan pembukaannya juga tidak maju - maju. Kita sudah menunggu selama 3 jam tapi masih di pembukaan 3. Sementara air ketubannya semakin sedikit. Saya takut bayinya bisa keracunan air ketuban." Dokter Ratna menjelaskan secara detail kondisi Nadia kepada Erland.
"Baik, dok, lakukan yang terbaik untuk isteri dan anak saya", seru Erland cepat dengan wajah yang masih tegang.
"Malas menantu saya ini, dok, jalan pagi. Bangunnya selalu siang. Mencuci pun pakai mesin cucinya. Padahal sudah saya bilang, mencuci pakai tangan aja, jongkok. Biar melahirkannya normal", ucap Mama Erland.
"Bukan karena itu, Bu. Memang ini belum waktunya. Menurut perkiraan saya terakhir kali saat Ibu Nadia datang periksa, seharusnya 2 minggu lagi. Tapi ini, sudah pecah ketuban. Biasanya dari kasus ibu melahirkan yang ketuban pecah jauh sebelum waktunya, itu karena si ibu kecapekan atau stress. Jadi, tolong support menantu ibu ya. Ibu Nadia juga tidak ingin melahirkan sesar. Justru dia sangat ingin melahirkan normal", dokter Ratna membungkam mulut Mama Erland dengan penjelasan panjang x lebar.
"Ikut saya pak untuk tanda - tangan operasi sesar!", perintah dokter Ratna kepada Erland
"Bantu doa ya, bu, untuk menantu ibu dan kita para dokter dan suster yang membantu persalinan. Permisi bu!", dokter Ratna tersenyum ke mamanya Erland dan berlalu.
__ADS_1
Di belakangnya Erland mengikutinya.