Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Kecelakaan


__ADS_3

Bimo memilih pulang lebih dulu dari sana. Sejujurnya, hatinya pun belum mencintai Mia. Sedikit pun tidak. Maka, saat Mia memutuskan pertunangan, Bimo menyetujuinya.


Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit lebih cepat dari biasanya. Saat itu pikirannya tengah melayang. Sekalipun matanya menatap jalan di hadapannya, namun fokusnya teralih.


Apa yang salah dari ku? Kenapa setiap wanita yang pernah dekat denganku memutuskan hubungan dalam waktu singkat? Apa aku kurang tampan? Itu tidak mungkin. Lalu?


Ketika Bimo tersadar, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dengan segera, Bimo membanting stir ke arah jalan. Hingga mobil di hadapannya menabrak pagar pembatas jalan hingga hancur.


Beruntung saat itu kendaraan tidak terlalu ramai. Hingga tidak terjadi kecelakaan beruntun. Bimo keluar dan menghampiri mobil itu. Ia mengetuk jendela mobil itu.


Dia melihat seorang gadis yang wajahnya tertutup oleh rambut. Bimo segera memaksa membuka pintu. Saat pintu terbuka, gadis itu terkulai lemas tak sadarkan diri.


Bimo pun membantu mengeluarkannya dan membawa tas gadis itu. Ia berpikir, mungkin ada sesuatu yang bisa membantu.


"Mba.... Mba...." Bimo menepuk pipi gadis itu. Namun tak ada sahutan dari gadis itu. Bimo terhenyak, wajah gadis itu terasa familiar.


Bimo pun memutuskan membawanya ke rumah sakit terdekat.


*****


Setelah dokter memeriksa gadis itu, Bimo masuk dan menunggunya sadar. Setelah dua puluh menit berlalu, gadis itu mulai bergerak. Bimo segera memencet bel untuk memanggil perawat. Bertepatan dengan terbukanya mata gadis itu, perawat pun memasuki ruangan.


"Ada yang bisa di bantu pak?" tanya perawat itu ramah.


Bimo tak menjawab, dan hanya memberikan kode pada perawat. Perawat itu pun mengalihkan padangan pada gadis itu.


"Sebentar, biar saya panggilkan dokter." perawat itu segera berlalu.


"Ada yang sakit?" tanya Bimo.


Gadis itu menatap kosong pada langit-langit rumah sakit. Sedikitpun tak menjawab pertanyaan Bimo. Bimo menatap gadis itu heran. Dokter pun datang dan memeriksanya.


"Apa ada yang tidak nyaman yang anda rasakan?" tanya dokter setelah berbicara panjang lebar, namun tak mendapat tanggapan.


Baik Bimo, perawat dan dokter saling melempar pandangan. Mereka heran pada gadis itu. Dokter pun mengambil senter kecil dari jas yang di gunakan nya.


"Apa dia buta?" tanya Bimo.


"Saya tidak buta. Saya masih bisa melihat dengan jelas." ucap gadis itu ketus.

__ADS_1


Bimo terkejut. Ia menggaruk tengkuknya salah tingkah.


"Maaf, sejak tadi anda di ajak berbicara namun tak merespon. Wajar jika saya berasumsi seperti itu." ucap Bimo.


Gadis itu kembali terdiam dan tak menanggapi ucapan Bimo.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit dokter dan perawat setelah mengatakan bahwa gadis itu tidak apa-apa, dan sudah boleh pulang setelah cairan infus habis.


Setelah dokter keluar, Bimo kembali mendekatinya.


"Di mana rumah mu? Biar ku antarkan." ucap Bimo.


"Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri." jawab gadis itu.


"Ah, iya mobil mu tak bisa kau gunakan untuk sementara ini. Kondisinya sangat buruk." ucap Bimo.


Gadis itu menoleh dan menatap tak percaya pada Bimo. Matanya seolah menyiratkan pertanyaan, bagaimana mungkin?


"Apa kau lupa, kau tadi menabrak pembatas jalan hingga hancur. Apa kau pikir bagian depan mobilmu masih baik-baik saja setelah kejadian itu?" gadis itu menghela nafas.


"Maaf, aku lupa. Kau pulang lah. Aku bisa menggunakan taksi. Oh iya, terimakasih sudah menolongku." tutur gadis itu.


"Terserah kau saja." gadis itu merebahkan dirinya dan menutup wajahnya dengan selimut.


Bimo memperhatikan gadis itu lamat-lamat.


Gadis ini cantik, tapi kenapa dia seperti sedang banyak masalah? Wajahnya terasa familiar untuk ku. batinnya.


Bimo pun duduk di kursi samping ranjang dan memainkan ponselnya. Hingga salah seorang perawat masuk dan memeriksa cairan infus.


"Sudah bisa pulang ya." perawat melepas jarum infus di tangan gadis itu.


Gadis itu duduk di tepi ranjang. Ia terdiam sesaat. Dalam benaknya, Ia tidak tahu harus pulang kemana.


"Kenapa diam? Apa masih ada yang sakit?" tanyanya khawatir.


Gadis itu menggeleng. "Aku hanya bingung, akan pulang kemana?"


Bimo membelalakkan kedua matanya tak percaya. Apa mungkin gadis ini mengalami amnesia? pikirnya.

__ADS_1


"Tunggu, apa kau tahu nama mu sendiri?" tanya Bimo sedikit panik.


gadis itu mengerutkan keningnya berpikir. Tak lama ia menggeleng. Bimo menggaruk pelipisnya bingung.


Masa harus aku bawa ke rumah? Bisa-bisa, papah akan mencecar ku dengan berbagai pertanyaan. Tunggu, jangan panik. Bimo menarik nafas perlahan dan menghembuskannya perlahan.


"Tadi kau bilang, kau bisa menggunakan taksi? Apa kau ingat alamat rumahmu?" tanya Bimo saat ia mengingat perkataan gadis itu.


Gadis itu kembali menggeleng. Bimo menghembuskan nafas frustasi.


*****


Pada akhir nya, Bimo membawa gadis itu ke apartemennya. Ia tidak tahu harus membawanya kemana lagi.


"Untuk sementara ini, kau tinggal di sini dulu. Oh iya, aku harus memanggilmu apa ya?" Bimo mengetuk dagunya dengan jari panjangnya.


"Ya sudah, istirahat lah. Aku pulang dulu." ucap Bimo.


Gadis itu mengangguk. Bimo pun segera berbalik dan meninggalkan gadis itu di apartemennya.


Gadis itu melihat isi apartemen itu. Kemudian, ia duduk di sofa yang tersedia di sana.


Bimo segera melajukan mobilnya pulang. Saat sudah di perjalanan, ekor matanya menangkap benda yang ada di kursi belakang. Saat ia berhenti di lampu merah, ia meraih benda itu.


"Ah, iya. Aku baru ingat tas ini. Kenapa tidak terpikirkan mencari tahu alamat atau pun nama gadis itu dari tas ini?" gumam Bimo pada dirinya.


Ia mencoba mencari identitas gadis itu. Ia menemukan KTP dan barang berharga lainnya. Bimo membaca aksara yang tertulis di KTP tersebut.


"Stevi Putri. Nama yang bagus." Bimo pun menyimpan tas itu dulu. Besok, ia akan memberikannya pada gadis itu.


Ia kembali melajukan mobilnya, hingga tiba di rumah. Ketika ia sampai, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Bimo segera membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya.


Entah mengapa, saat ia tengah memejamkan matanya, bayangan gadis yang di tolong nya itu, menari-nari di pelupuk matanya.


Kenapa rasanya kami sudah saling mengenal? Siapa dia?


Bimo mencoba untuk istirahat. Hingga entah jam berapa akhirnya, ia tertidur. Ia terbangun tepat pukul tujuh pagi. Setelah membersihkan tubuhnya, ia berniat sarapan.


"Hari ini, undangan akan di kirim." ucap Hendrik pada Bimo.

__ADS_1


Bimo yang sedang mengoles rotinya dengan selai berhenti. Ia belum memberitahu papanya tentang pembatalan pertunangan semalam. Kesepakatan ini, memang hanya antara dirinya dan Mia. Entah keluarga Mia sudah mengetahuinya atau belum.


__ADS_2