Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Nomor Misteirus


__ADS_3

“Mas, mau aku bantuin nggak?” tanya Nada melihat Kaysan sedang memperbaiki lampu teras. Hari sudah menjelang magrib pas keduanya sampai di rumah, lampu teras depan tidak menyala. Untung saja Kaysan punya persediaan cadangan lampu, sehingga ia langsung mengambil tangga di samping rumah dan naik mengganti bohlam.


“Pegangin tangganya aja, sayang.” Nada pun menurut, ia lekas memegang tangga yang sudah dipijaki oleh sang suami.


Rumah yang diberikan ustad Budi pada Kaysan ini merupakan rumah kontrakan yang sebelumnya Kaysan tinggali. Melihat Kaysan pemuda yang baik dan santun, ustad budi tidak segan memberikan rumah tersebut sebagai hadiah pernikahan Kaysan dan istrinya. Mengingat, Kaysan tidak memiliki siapapun dalam artian Kaysan seorang yang sebatang kara. Pertemuan Kaysan dengan ustad Budi pun cukup singkat. Ketika di pasar Ustad Budi kecopetan, Kaysan yang jadi juru parkir pun saat itu langsung menolong ustad Budi mendapatkan dompetnya. Beruntung pencopet saat itu langsung diamankan pihak polisi sehingga tidak membuat masyarakat was-was lagi ketika hendak ke pasar. Dari situlah, awal mula perkenalan Kaysan sampai pada akhirnya ustad Budi memberikannya hadiah rumah yang saat ini Kaysan tinggali bersama istrinya.


“Alhamdulillah, akhirnya nyala juga.” Ucap Kaysan saat baru saja turun dari tangga dan bersiap menuju mesjid mengikuti solat berjamaah.


***


Bunyi dering ponsel Nada sejak tadi di atas nakas membuat Kaysan yang baru saja kembali dari mesjid mengambil ponsel itu. Sementara itu, Nada usai solat magrib ia langsung menyiapkan makan malam di dapur.


Karena merasa ponsel istrinya adalah hal privasi, Kaysan pun membawa ke Nada.

__ADS_1


“Sayang, nih ada telfon nomor baru,” ujar Kaysan seraya menyerahkan benda pipih yang sejak tadi berdering.


“Angkat aja, Mas kemudian loudspeaker, Aku lagi sibuk ini.” Sahut Nada yang tengah membalikkan ikan goreng.


Kaysan lekas menggeser tombol hijau pada layar tersebut sesuai perintah sang istri.


‘Sayang lama banget, sih ngangkat telepon aku. Kamu ke mana aja, sih?’ tanya seorang laki-laki di seberang.


Mendengar suara laki-laki yang berkata mesra pada sang istri, urat leher Kaysan menegang timbul. Tangannya terkepal erat menatap tajam pada sang istri.


‘Maaf, ini dengan siapa, yah?’ tanya Kaysan dingin. Sedari tadi kedua netranya tidak lepas berhenti menatap curiga sang istri. Kaysan hanya was-was jika selama dirinya sakit, apakah ada kemungkinan Nada berselingkuh di belakangnya bersama laki-laki lain.


Bukannya menjawab si penelpon misterius itu justru bertanya kembali.

__ADS_1


‘Eh, situ siapa? Berani-beraninya jawab ponsel kekasihku!’


Ucapan laki-laki itu membuat Nada menatap suaminya sambil menggeleng kepala seraya tidak tahu siapa penelpon itu.


‘Memangnya ada janji apa dengan kekasihmu itu?’


Laki-laki di seberang sana belum sempat menjawab, Kaysan pun melanjutkan ucapannya.


‘Maaf, anda salah sambung!’ Lalu dengan cepat Kaysan menyerahkan ponsel tersebut pada sang istri yang masih mematung di depannya.


Kaysan berlalu dari meja makan. Mood untuk makan malam pun seketika lenyap gara-gara telepon misterius itu.


Nada menyusul suaminya ke kamar. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu perihal nomor asing tersebut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2