
Perjalanan ke Bumi Perkemahan Sibolangit yang seharusnya ditempuh selama 4 jam, terasa begitu lama.
Bagaimana tidak lama, aku merasa kekurangan pasokan oksigen di paru-paruku. Tubuh membeku, kaku.
Kak Erland duduk di kursi tempel yang ada di depan kursiku. Kursi tempel ini berada di sebelah supir diantara kursi penumpang kanan dan kiri. Tepatnya ditengah-tengah.
Kebiasaanku kalau bepergian dengan Bis atau Bus, aku lebih suka duduk di kursi di belakang supir. Ya, alasannya sih simple, agar mataku bebas melihat ke depan. Tidak terhalang apapun.
"Nad, kok diam aja sih dari tadi?" Suara Kak Sinta, seniorku, mengagetkanku. Kak Sinta duduk di sebelahku. Dia seniorku di MAPALA dan juga kakak stambuk di fakultas. Kalau di organisasi dia angkatan 6, dan di fakultas dia stambuk 2000.
"Eeee, gak kenapa-kenapa sih kak. Lagi males ngomong aja." Ucapku kaku.
Entahlah, lidahku terasa kelu. Bagaimana tidak, Kak Erland sering tertangkap mataku mencuri-curi pandang padaku.
Kak Erland berbicara ke Kak Santi, tapi matanya tertuju padaku.
*Hufft...
'Tuhan, tolonglah hambaMu ini*.'
"Ada yang mau permen coklat Chacha gak? Suara Kak Erland mengagetkanku.
Seketika anak-anak pada berebutan. Dan, dalam sekejab permen coklat itu habis tak bersisa.
"Yaaah, habis. Buatku gak ada Kak?" Tanyaku berusaha mencairkan diri ini. 'Andai aja ada kompor ya!' Harapku di dalam hati.
"Kamu mau juga?, kirain gak mau. Nih, ambil" Kak Erland menyodorkan permen coklat Chacha yang dalam bentuk tube atau tabung dengan suara lembut.
"Makasih kak" jawabku singkat.
__ADS_1
"Yee, gak adil! Kak Nadia dapat 1 tube, sementara kami 1 bungkus keroyokan." Protes Irma, juniorku, yang duduk di kursi penumpang sebelah kiri.
Kak Erland hanya tersenyum, dan melirik ke arahku.
"Kata Indra, kamu Korlap ya di Diksar ini? Angkatan berapa dek? Kok, aku jarang ya melihat kamu di Basecamp? Oh iya nama kamu siapa?"
"Yaelaaa Bang Erland, pertanyaannya kok keroyokan sih? Sekalian aja tanya dimana rumahnya. Kapan abang bisa datang melamarnya ke mama papanya" ledek Kak Sinta.
"Nadia, angkatan 8, stambuk 2002 Fakultas Ekonomi kak." Jawabku, sambil mengulurkan tangan.
"Kalau rumah, gak saya bawa kak. Kebesaran dibawa-bawa. Kalau soal lamaran, saya belum siap menikah kak. Mama papa bakal menggantung saya nanti di pohon cabe" sambungku dengan berusaha melucu, agar kebekuan tubuh ini mencair.
"Hahaha.... Kamu anaknya Srimulat ya?" Kak Erland tertawa lepas.
Ya Tuhan, indahnya ciptaanMu ini. Aku terpana melihat Kak Erland tertawa. Walau dia berkulit hitam manis, dan sedikit pendek, tapi tawa dan senyumnya merupakan daya tarik yang mematikanku.
"Ngelamar jadi polwan kali woii!" Kak Sinta menepuk lenganku dengan tawa di bibirnya.
"Oo, gitu ya kak, hihihi" jawabku singkat
Kak Erland masih tertawa dan terus memandangku.
"Kita udah mau sampai nih, ayo siap-siap. Jangan ada barang-barang yang sampai tertinggal ya!" Komando Bang Indra tiba-tiba yang sudah berdiri di kursinya. Ternyata dia duduk tepat di belakangku.
'Dari tadi suaranya gak kedengaran. Tidur kali ya' tanyaku pada diriku sendiri.
"Nad, cek lagi ya semua Calon Anggota. Pastikan semua lengkap. Manatau tadi di jalan ada yang terbang keluar" perintah Bang Indra lagi kepadaku. .
"Ayam kali Bang, terbang" jawabku tanpa melihatnya.
__ADS_1
Namun, mau tak mau, akhirnya aku bangkit juga dari kursiku dan berjalan ke belakang menemui adik-adik calon anggota.
"Kita udah mau sampai ya. Kakak sarankan, agar kalian periksa semua barang-barang kalian. Jangan ada yang ketinggalan ya. Terutama alat-alat untuk mounteneering ya!" perintahku lembut.
"Baik kak" jawab mereka serentak.
Setelah memastikan adik-adik calon anggota lengkap, gak ada yang terbang, ehh.. aku kembali lagi ke tempat dudukku. Tak lupa aku melaporkannya ke Bang Indra.
"Semua lengkap Bang, gak ada yang terbang. Mereka bilang sayap mereka udah dipotong dulu tadi sebelum berangkat"
"Hmmm, baguslah" jawab Bang Indra sambil berjalan mendekat ke arah Kak Erland.
Kuraih tasku dan mengecek semua perlengkapan yang tadi aku bawa, dan bersiap untuk turun.
"Sini, aku bantuin bawa perlengkapannya" Tawar Kak Erland dengan senyum manis terukir di bibirnya.
"Itu peralatannya biar aku masukkan aja ke Carrier ini, biar gak ribet dan berantakan. Masih kosong juga hanya beberapa baju dan cemilan." Sambung Kak Erland lagi.
"Ooo.. kalau gak keberatan, boleh deh Kak"
Aku menyerahkan peralatan yang kupegang ke tangan Kak Erland.
Kulit kami bersentuhan, dan mata kami saling bertatap.
Ada yang aneh di matanya. Sesuatu yang kurasakan aneh juga di hatiku.
Cintakah??
'Terlalu cepat Nadia'
__ADS_1