
Entah sudah berapa kali Gerald menghubungi ponsel Tania. Namun hingga kini, gadis itu tak jua mengangkatnya. Pasrah, akhirnya Gerald memutuskan mengirimi gadis itu pesan.
Tania, tolong temui aku besok di cafe xx jam 10 pagi.
Gerald meletakkan ponselnya dan beranjak menuju bathroom. Ia mencoba menyiram kepalanya dengan air dingin. Berharap rasa kesal karena ucapan Nathan padanya bisa mereda.
"Apa yang mau Lo bicarakan?" ucap Gerald dingin.
"Gue cuma mau tanya aja sama Lo. Apa Lo benar-benar mencintai Tania?" Nathan menatapnya tajam.
Nathan memang memperhatikan Gerald dan Tania sejak awal acara. Di tambah, dengan permintaan mertuanya yang mengatakan bahwa Tania enggan menjalin hubungan dengan Gerald.
Nathan tahu, Tania sudah melupakannya sejak kejadian dirinya mengetahui, jika Lisa adalah adiknya. Dan itu semakin terlihat, jika Tania sudah tak lagi menginginkannya sejak mertuanya ingin menjodohkan Gerald dengan Tania.
Nathan bisa melihat, jika Tania sudah mulai membuka hati pada Gerald. Nathan yang mengenal Tania sejak masih duduk di bangku SMA, tahu jika Tania akan menutupi perasaannya hingga gadis itu yakin akan perasaannya.
Gerald masih terdiam setelah pertanyaan Nathan beberapa menit lalu. Nathan menghembuskan nafas lelah menghadapi pria di hadapannya. Pria yang masih saja mengharapkan istrinya Lisa.
"Gue rasa Lo masih mencintai Lisa." Gerald menatap Nathan tak percaya.
"Kenapa Lo bisa bicara seperti itu?" kedua mata Gerald menyipit.
"Lo itu cowok paling gagal move on." ucap Nathan dengan mata yang melotot kesal.
"Cih, dasar sok tahu." cibir Gerald.
"Gue bukan sok tahu. Tapi kalau Lo memang sudah move on dari istri gue, Lo pasti bisa melihat perasaan Tania yang terluka karena sikap Lo. Jangan Lo kira, gue gak tahu apa-apa. Buka mata Lo, lihat baik-baik ke dalam mata Tania. Lo tahu, Tania terluka. Gue yakin, dia tahu kalau Lo tidak memiliki sedikitpun rasa untuk dia.
Cepat lah sadar, sebelum Tania memutuskan berpaling dari Lo dan memilih pria lain. Jika itu terjadi, Lo akan menyesal. Ingat satu hal, sampai kapanpun, Lisa tidak akan menganggap Lo lebih dari kakaknya. Meskipun, kalian tidak sedarah." Nathan menepuk pundak Gerald dan meninggalkan pria itu di taman belakang hotel.
Gerald mendesah lelah. Pria itu begitu kesal, karena Nathan memberinya nasihat. Tahu apa pria itu tentang perasaannya? Tahu apa dia tentang dirinya sudah move on atau belum? Bagi Gerald, Nathan hanyalah pria sok tahu yang mencoba memberinya nasihat.
Setelah ia selesai mandi, pria itu membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang empuk miliknya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. ***** makannya lenyap begitu saja bersamaan dengan ucapan Nathan yang masih saja terngiang di kepalanya. Padahal, pria itu hanya memakan sedikit hidangan di pesta tadi.
Pikirannya menerawang jauh. Pria itu seakan sedang mengorek isi hatinya sendiri. Menatanya ulang, dan mencari setitik rasa yang mungkin terlewatkan olehnya.
__ADS_1
*****
Tania sudah membersihkan dirinya. Wajahnya kini polos tanpa riasan. Ia mengambil ponsel yang di letakkan nya di meja tadi.
Melihat daftar panggilan yang di lakukan Gerald hingga kurang lebih tiga puluh panggilan yang tak di jawabnya. Tania tersenyum getir. Jika saja pria itu sungguh mencintai dirinya, Tania pasti akan merasa di awang-awang saat ini. Namun kenyataannya, membuat gadis itu harus menelan pil pahit.
Kemudian, ia membaca pesan yang di kirimkan Gerald padanya. Setelah itu, tanpa membalasnya Tania meletakkan ponsel itu dan mencoba menutup matanya.
Ia mencoba berguling ke sisi kiri dan kanan. Sayangnya, empuknya ranjang milik hotel itu tak bisa membantunya tidur. Ia kembali terduduk. Tania menopang kepalanya dengan kepalan tangan.
Ia memutuskan melihat beberapa drama yang belum ia tuntaskan hingga akhir. Tania memang pecinta drama. Baik drama Korea, Thailand ataupun China. Drama itu berputar di ponselnya, namun sepertinya ia tak fokus sedikitpun.
"Jika kau mencintainya, kenapa kau tidak mempertahankannya?" kata-kata Mia kembali terngiang di telinganya.
"Kau tahu, aku sempat menyerah dengan hubunganku dan Kenzi?" Tania mengangguk.
"Aku dan gerald yang menyadarkannya. Kami tahu, bagaimana hancurnya hati Kenzi saat dia tahu kau bertunangan dengan pria lain." sambung Tania.
"Jika kakak bisa membuat Kenzi menyadari perasaannya, Kenapa kakak tak bisa membuat Gerald menyadari perasaannya?" tanya Mia.
"Itu hal yang berbeda Mi." keluh Tania.
"Aku tahu. Sekarang, apa kakak ingin menyerah?" tanya Mia.
"Entahlah." jawabnya.
"Kenapa kakak tidak minta bantuan Lisa? Apa kakak tahu, jika Gerald sangat mendengarkan Lisa?" Tania tersentak dan kembali dari lamunannya.
"Lisa. Apa Gerald menyukai Lisa?" gumamnya.
"Tidak, itu tidak mungkin." Tania menangkupkan wajahnya.
"Jika itu benar, maka Gerald hanya menjadikanku pelariannya." Tania menggeram.
Dalam hati ia bersumpah akan menanyakannya langsung pada pria itu. Jika dugaannya benar, ia akan memberi pelajaran pada pria itu. Tidak peduli betapa hatinya mencintai Gerald, dan tak ingin Gerald terluka
__ADS_1
*****
Keesokkan harinya, seperti isi pesan Gerald, kini mereka bertemu. Namun mereka tak saling bicara. Mereka masih terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Tania setelah mereka terdiam cukup lama.
Gerald menatap Tania. "Maaf." ucapan Gerald membuat Tania mengernyit heran.
"Maaf untuk apa?" tanyanya.
"Maaf karena aku tidak sungguh-sungguh mencoba membuka hatiku untukmu." jawabnya dengan raut wajah serius.
Tania terdiam dan menatap dalam mata pria di hadapannya ini. Terlihat ada penyesalan dalam mata pria itu. Sepertinya, Gerald sudah menyadari kesalahannya. Tania membuang pandangannya.
"Tania, aku tahu aku salah karena memanfaatkan mu." ucap Gerald.
Tania tersenyum perih. Ia teringat akan spekulasi nya tadi malam. Ternyata itu benar. Dirinya hanyalah pelarian Gerald. Tanpa diminta, airmatanya jatuh membasahi pipi. Hatinya terasa sakit dan perih.
"Bisakah kau memberi ku kesempatan lagi?" tanyanya. Kali ini, Gerald menggenggam jemari Tania yang berada di atas meja.
Tania menarik jemarinya yang di genggam oleh Gerald. Namun pria itu menggenggamnya erat.
"Ku mohon." pintanya.
Tania menantang mata Gerald. terlihat kilat amarah di dalam matanya.
"Kesempatan?" Gerald mengangguk.
"Untuk apa?" pria itu terdiam membisu.
"Untuk kau sakiti lagi?" wajah Tania memadam menahan amarahnya.
"Gerald, jika kau hanya menjadikanku pelarian mu tanpa berniat melupakan wanita yang lebih dulu kau cintai, lupakan saja." Tania bangkit dan meninggalkan tempat itu.
πΌπΌπΌπΌπΌ
__ADS_1
Malam genks.... Maaf kemarin gak jadi up lagi. Aku terlalu lelah. Terimakasih untuk kalian semua. Jangan lupa likeπ, komenπ, dan vote atau hadiahnya ya.... jika kalian berkenan.
Thank you all...ππππππ