
Mia dan Kenzi mulai menghubungi pihak wedding organizer. Setelah acara lamaran dan tanggal pernikahan yang sudah di tentukan beberapa waktu lalu, saat ini mereka akan menentukan konsep dari pernikahan mereka.
Di sana, mereka melihat galeri foto dari setiap konsep. Baik indoor maupun outdoor. Di lanjutkan dengan catering, lalu mereka mulai memilih gaun serta tuksedo yang akan Kenzi gunakan.
Saat tengah memilih gaun, tidak sengaja pandangan Mia melihat Gerald dan Tania yang ada di luar butik. Mereka terlihat sedang bertengkar.
"Zi...." panggil Mia.
Kenzi menoleh dan menghampiri Mia. "Kenapa?"
"Bukannya itu Gerald dan Tania?" Kenzi menatap ke arah yang Mia tunjuk.
"Sepertinya, mereka bertengkar lagi." ucap Kenzi. Mia mengangguk.
*****
Di luar.
Tania begitu kesal melihat Gerald yang tak bereaksi apapun saat mereka tengah memilih kebaya, yang akan Tania gunakan dalam acara pertunangan mereka.
Gerald hanya menganggukkan kepala mengiyakan semua yang Tania coba. Hingga kebaya kelima, pria itu tetap melakukan hal yang sama. Tania geram dan memilih keluar dari butik.
Gerald yang melihatnya, mengikuti Tania keluar. Dengan segera, Gerald menarik lengan Tania.
"Kamu kenapa sih?" Tania hanya diam dan bersedekap.
Jujur saja, hatinya masih terasa panas menahan emosi. Ingin rasanya ia memaki pria minim ekspresi di hadapannya itu.
"Kita bisa bicara baik-baik kan?" bujuk Gerald.
Sabar Tania. Inilah resikonya punya hubungan dengan berondong. ucapnya dalam hati.
"Ayolah, jangan seperti ini." Tania menatap Gerald tajam dengan rahang yang mengetat.
"Jadi, Lo gak ngerasa bersalah sedikit pun?" Gerald mengernyitkan dahinya.
Ia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa gadisnya ini mulai merubah panggilannya lagi? Apa ada yang salah dari dirinya? Gerald belum menyadarinya.
"Kenapa? Gak terima? Pikir dimana salah Lo." Tania segera berlalu dari hadapan Gerald. Ia segera menghentikan taksi yang kebetulan melintas.
Gerald tersadar, saat taksi yang digunakan Tania melaju. Ia mengusap wajahnya kasar. Tak lama, muncul Kenzi dan Mia.
"Bos..." sapa Kenzi.
Gerald berbalik dan melihat Mia menggandeng lengan Kenzi. Terbersit rasa iri dalam benaknya.
__ADS_1
"Kalian di sini juga?" tanya Gerald.
"Butuh teman curhat?" Mia menawarkan.
"Lebih baik, kita bicara di cafe seberang saja." ajak Kenzi.
Mereka pun memasuk ke mobil masing-masing, dan menuju cafe yang di tunjukan Kenzi.
*****
Di cafe.
Setelah memesan minuman, Gerald mulai menceritakan permasalahannya dengan Tania. Bagaimana Tania yang tiba-tiba pergi meninggalkannya, dan terlihat kesal.
Setelah Gerald selesai bercerita, Mia berusaha keras menahan tawa yang akan menyembur dari bi***nya. Sementara Kenzi, menghela nafasnya kasar. Pria di hadapan mereka ini boleh saja memiliki segalanya. Harta yang melimpah, wajah yang tampan, otak yang cerdas dalam menjalankan bisnis dan melihat peluang. Tapi, untuk yang ke peka-an nol.
"Dulu, waktu gue hampir kehilangan Mia, bukannya Lo yang ngasih gue saran untuk kasih tahu perasaan gue ke Mia? Kenapa sekarang Lo terlihat lebih b**** dari gue?" ejek Kenzi terus terang.
Gerald menatap Kenzi tajam. Egonya terluka kala mendengar Kenzi mengatakan ia b****.
"Wah.... Rupanya bos kita itu, hanya peka pada hubungan orang lain di banding hubungannya sendiri." Mia menimpali.
Gerald mengernyitkan dahinya. Kejadian di butik tadi, seperti rekaman yang kembali di putar dalam benaknya. Seketika, ia membenarkan ucapan Kenzi dan Mia.
"Jadi, Lo udah tahu dimana kesalahan Lo?" tanya Kenzi.
Gerald mengangguk. Kini ia tahu, bahwa Tania menginginkan dirinya mengucapkan pendapatnya dan membantunya memilih kebaya. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Sekarang, waktunya Lo bicara sama kak Tania." ucap Mia.
Gerald segera berdiri dan meninggalkan Mia dan Kenzi di cafe. Mia dan Kenzi menatap punggung tegak Gerald yang semakin jauh.
"Jadi, kamu bilang sayang dan cinta ke aku itu, bukan inisiatif atau kesadaran kamu sendiri?" Mia menopang dagunya dengan telapak tangan dan menatap Kenzi.
Kenzi gelagapan dan tak bisa bicara. Kemudian, ia berdeham dan mengatakan semuanya.
"Jelasan kesadaran aku dong. Gerald, hanya memberitahuku. Itu membuatku bertanya pada hatiku sendiri tentang posisimu di hatiku. Akhirnya, aku sadar kamu itu segalanya untukku." ucap Kenzi. Ia memegang jemari Mia dan menatapnya penuh cinta.
"Ehemm..." Mia dan Kenzi menoleh ke arah suara.
Setelah melihat kedua orang yang mengusik keromantisan mereka, membuat mereka memutar kedua bola mata mereka.
"Udah berani mesra-mesraan ya?" ejek Lisa.
"Kok kalian cuma berdua?" tanya Mia.
__ADS_1
"Biasa, baby Tama udah di culik sama opa dan Omanya." jawab Nathan sedih.
Sejak baby Tama kembali ke rumah, Nathan dan Lisa sangat jarang bisa mengasuh anak mereka sendiri. Baik orangtua Lisa maupun orangtua Nathan, akan segera membawa baby Tama.
"Itu artinya, kalian di suruh produksi bayi lagi." timpal Kenzi.
Lisa dan Nathan menatap Kenzi tajam. Tidak tahukah Kenzi beratnya kehamilan dan melahirkan. Nathan yang selalu ketakutan saat Lisa mengalami morningsickness dan kontraksi saat akan melahirkan. Lisa yang merasa kesulitan bergerak saat perutnya mulai membuncit.
Kenzi mengkerut mendapat tatapan tajam sepasang suami istri itu.
"Kamu kalau ngomong enak banget. Nanti kalau aku hamil dan merepotkan, baru kamu tahu perasaan Lisa dan Nathan." ucap Mia.
Lisa menepuk pundak Mia bangga. Bangga, sebab sahabatnya itu sudah membelanya. Kenzi meringis mendengar ucapan Mia. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf ya." ucapnya pada Lisa dan Nathan.
"It's okay. Gue sih wajar kalau Lo gak tahu. Tapi, saat Lo mengalaminya nanti..." ucapan Lis terpotong.
"Gue bakalan jadi orang pertama yang menertawakan Lo." ucap Nathan.
Kenzi menelan salivanya susah mendengar ancaman Nathan. Di tambah melihat seringai jahat di wajah Lisa.
*****
Gerald tiba di rumah Tania. Ia segera melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Terlihat asisten rumah tangga menghampirinya.
"Den Gerald cari non Tania?" tanyanya.
"Iya bik." jawab Gerald.
"Non Tania, sudah pergi lagi tadi den." bibik memberitahu Gerald.
"Kemana bik?" tanya Gerald.
"Kurang tahu den." jawab bibik.
"Terimakasih bik." Gerald segera meninggalkan rumah itu.
Gerald memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Wanita dengan segala perasaannya, membuatnya pusing.
Perlahan, ia mulai menjalankan mobilnya dan menjauh. Berpikir kemana Tania pergi. Gerald mencoba melakukan mobilnya menuju bar yang biasa di kunjungi Tania di saat pikirannya kacau.
Tiba di sana, Gerald memarkirkan mobilnya asal dan masuk ke dalam tempat gelap dan remang-remang itu. Ia mencoba mengedarkan pandangannya dan mencari Tania dengan menajamkan penglihatannya.
Matanya menangkap sosok perempuan yang tengah bercanda ria dengan beberapa pria. Perlahan, ia mulai mendekati mereka. Tania terlihat tertawa lepas dengan para pria itu. Tania terlihat masih dalam kondisi sadar.
__ADS_1