Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Hati Tania


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Sandy, sahabat dari Tania, Gerald segera menemui Ardian, ayah dari Tania. Serta Ferdinand, ayah kandung Tania.


Ia berniat, langsung menikahi Tania tanpa melalui prosesi pertunangan. Ardian dan Ferdinand terkejut mendengar ucapan Gerald.


"Kenapa buru-buru sekali? kalian tidak melakukannya sebelum menikahkan? tanya Ardian.


Gerald mengernyitkan dahi tak mengerti. Sementara Ferdinand terbahak mendengar ucapan Gerald. Pria itu merasa salah tingkah mendapat respon seperti itu.


Melakukan apa maksud ayah Ardian? tanyanya dalam hati.


Ferdinand dan Ardian pun menyetujui permintaan Gerald. Itupun, setelah Ardian mendesaknya untuk mengatakan permasalah mereka. Dengan malu-malu, Gerald mengatakan yang sesungguhnya pada mereka.


"Kalau begitu, lamaran kita majukan besok. Setelah itu, tentukan tanggal pernikahan" saran Ferdinand.


"Apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya Ardian.


Ferdinand menghela nafas. Ia sangat paham maksud dari kakaknya. Ardian takut, akan ada gosip yang menerpa keluarga mereka, jika pernikahan di percepat.


Bagi Ardian permasalahan yang di alami Gerald adalah masalah yang tidak mendesak.


"Jika hanya karena kau takut kehilangan Tania, itu artinya, kau harus berjuang lebih keras, agar Tania memilihmu. Namun jika kalian tidak ditakdirkan bersama, maka kalian tetap akan berpisah. Itu hanya masalah waktu." ucap Ardian


Gerald membenarkan ucapan Ardian dalam hatinya. Akan tetapi, sudut hatinya tidak menerimanya. Ia berusaha keras menggunakan logikanya. Sayang, hatinya berkata lain.


Apa pun yang terjadi, Tania harus menjadi milikku.


Obsesi ataukah cinta yang Gerald rasakan? Pria itu sendiri belum menemukan jawabannya. Sejujurnya, hati kecilnya tak ingin merasakan kehilangan lagi. Cukup baginya kehilangan Lisa.


Kali ini, Gerald bertekad akan memperjuangkan Tania. Gerald berpamitan dan kembali ke ruangannya. Setelah Gerald pergi, Ardian dan Ferdinand pun mulai membicarakan hal ini.


"Sepertinya, kita salah sudah menjodohkan mereka." ucap Ardian. Pandangannya menerawang entah kemana.


"Aku juga merasa seperti itu. Menurutmu, apa Gerald sungguh mencintai Tania?" tanya Ferdinand.


Ardian mengendikkan bahunya tak tahu. Ia juga tidak mengerti tentang hal ini. Pengalamannya mencintai, hanya ia rasakan pada Alena, yang kini sudah ia terima statusnya sebagai adik ipar.


"Kau tahu sendiri, aku tidak punya pengalaman itu." ucap ya sendu.


"Ah, maafkan aku kak." ucap Ferdinand tulus.


"Tidak masalah." Ardian menatap Ferdinand dan tersenyum.


"Bagaimana, jika kita tanyakan pada Kenzi?" usul Ferdinand.


"Kurasa tidak perlu. Kalau pun harus, lebih baik tanyakan pada menantu kita Nathan." saran Ardian.


"Ya, kau benar. Apa Lisa perlu tahu?" Ardian terlihat berpikir.


"Ku rasa, tidak sekarang." Ferdinand mengangguk.


Kemudian, Ardian berpamitan. Ia akan kembali ke kantornya lagi. Ferdinand pun memeluk kakaknya itu. Setelah Ardian pergi, Ferdinand melanjutkan pekerjaannya. Namun, pikirannya tak bisa ia fokuskan.

__ADS_1


Hingga waktu makan siang tiba, Ferdinand pun memilih untuk makan di luar kantor. Kali ini, Ferdinand menelepon Tania. Ia ingin mendekati putrinya itu.


"Temani papi makan siang." pinta Ferdinand, saat telepon itu tersambung.


"Oke pi. Dimana?"


"Kau saja yang pilih tempatnya." ucapnya lagi.


"Ya sudah, Tania share lock ke papi ya."


Telepon pun terputus bertepatan dengan lift yang terbuka. Ferdinand melangkah memasuki lift. Ia segera menuju lobby. Di lobby, supirnya sudah menunggu.


Saat memasuki mobil, ponselnya berbunyi. Pesan dari Tania. Ia segera membukanya. Setelah membaca alamat yang di kirimkan Tania, Ferdinand memberitahu supirnya untuk menuju lokasi itu.


*****


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Ferdinand saat mereka telah duduk bersama.


"Tania baik. Papi kenapa kelihatan muram?" tanya Tania. Wajar saja Tania bertanya. Wajah Ferdinand, terlihat tak bersemangat dan lelah.


Ferdinand mencoba memaksakan senyumnya. Tetapi, tetap terlihat kaku.


"Boleh papi bertanya?" Tania mengangguk.


Entah mengapa, jantungnya berdetak lebih cepat saat Ferdinand mengatakan ingin bertanya padanya.


"Apa ada pria lain yang kau suka?" Tania mengernyit.


"Kenapa papi bertanya seperti itu?" tanya Tania.


"Apa papi yakin?" tanyanya lagi.


"Ya." jawabnya singkat.


Tania menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ia mengamati wajah ayah kandungnya dengan seksama. Mencoba mencari tahu permasalahan yang tengah pria itu pikirkan.


Nihil, tidak ada apapun di sana. Setelah terdiam cukup lama, Tania baru akan membuka mulutnya saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Makan dulu saja. Kau bisa menjawabnya nanti." ujar Ferdinand.


Mereka pun menyantap hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Sesekali, mereka saling bertukar pandang.


"Tidak ada." jawab Tania setelah menenggak minumannya.


"Boleh papi bertanya lagi?" Tania mengangguk.


"Apa kau menyukai Gerald?" Tania menatap Ferdinand.


"Sebenarnya ada apa pi?" tanyanya.


Sejak Ferdinand dan Ardian mengatakan ingin menjodohkannya dengan Gerald, tak pernah sekali pun ada di antara mereka yang bertanya tentang hatinya. Saat menerima Gerald pun, mereka tak sekali pun menanyakan perasaannya.

__ADS_1


"Papi takut menyakitimu nak." lirihnya. Ferdinand menundukkan wajahnya dalam.


"Pi, Tania senang papi bertanya tentang perasaan Tania." Ferdinand mendongak.


"Jujur saja, Tania tidak punya cinta untuk Gerald." terlihat keterkejutan di mata Ferdinand.


"Tapi Tania akan berusaha untuk membuka hati pada Gerald demi papi dan ayah." lirihnya.


Seakan sebuah pisau menikam tepat di jantung Ferdinand. Putrinya merelakan kebahagiaan dirinya demi keegoisannya dan kakaknya.


"Tidak Tania. Jika kau tidak menyukainya, katakan pada kami. Maaf, karena kami memaksamu. Tidak seharusnya kami memaksakan kehendak kami." Ferdinand menggenggam kedua tangan putrinya.


"Untuk Tania, kebahagiaan ayah dan papi adalah segalanya." Ferdinand menggeleng. Kali ini, setetes airmata jatuh di pipinya.


"Tidak sayang. Papi akan batalkan pertunangan kalian. Silahkan jika kau ingin mencari pria yang lebih baik dan lebih mencintaimu. Papi dan ayah tidak akan memaksamu lagi. Kau, tidak boleh tidak bahagia." ucapnya.


Mata Tania berkaca-kaca mendengar ucapan ayah biologisnya itu. Meski mereka baru saling mengenal beberapa waktu, mendengar ucapan itu langsung dari papinya, membuat Tania bahagia.


"Bolehkah Tania berkeliling dunia?" Ferdinand mengernyitkan dahi mendengar permintaan Tania. Rasanya, tidak ada permintaan Tania dengan pembicaraan mereka tidak berhubungan.


"Tania ingin berjalan-jalan. Mungkin sekaligus mencari sosok pria yang Tania inginkan. Bertemu pria lain dan menjalin hubungan pertemanan, Tania rasa bisa membantu Tania." ucapnya.


"Apa di Jakarta tidak ada?" tanya Ferdinand.


Rasanya berat melepas putrinya ini untuk pergi jauh darinya. Setelah puluhan tahun, ia bisa mengenal dan bersama putrinya. Hal itu membuatnya tak ingin melepas putrinya itu begitu saja.


"Entahlah, Tania tidak tahu." ucapnya. Sampai saat ini, hatiku masih menginginkan Nathan. Aku hanya ingin melupakannya. Mungkin dengan tidak melihatnya, aku bisa melupakannya. batinnya.


"Baiklah nak. Akan papi pikirkan. Papi juga akan memberitahu mami mu." Ferdinand memutuskan akan membicarakan hal ini dengan Alena dan Ardian.


🌼🌼🌼🌼🌼


Hai genks.... Maaf telat update...


Terimakasih untuk setiap dukungan kalian.


**Daftar ceritaku:



My husband my brother personal bodyguard : status cerita -TAMAT


2. Pernikahan Impian : status cerita -on Going


3. He is my boyfriend : status cerita -on going (chat story')


4. Love After... : status cerita -(belum di tulis (on proses))


5. Affair with my Boss** : in platform ungu (on Going)


__ADS_1


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain ya. untuk cerita ke 4 dan ke 5 belum di publish.


Thank you all


__ADS_2