
Pagi itu keduanya berbagi kehangatan di atas ranjang usai berbaikan. Kaysan menarik selimut lalu mengecup kening sang istri yang masih berbalut keringat. Setelah kegiatan berbagi peluh tadi membuat Nada kelelahan dan akhirnya kembali tidur.
Kaysan segera bangkit membersihkan tubuh. Sejenak ia melirik penunjuk waktu yang tertempel di dinding. “Masih ada satu jam sebelum masuk,” gumamnya lalu segera masuk ke kamar mandi.
Setelah berpakaian, Kaysan menuju ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Berhubung istrinya sedang istirahat, dirinya pun tidak tega membangunkan Nada hanya sekedar membuat dua porsi piring nasi goreng.
Kaysan memasukkan minyak goreng yang ke atas wajan yang telah dipanasi sebelumnya, lalu menuangkan bumbu ulek bersamaan dengan nasinya. Kaysan cukup berpengalaman dalam hal soal memasak. Tinggal sendiri membuatnya mandiri dan bisa mengerjakan pekerjaan dapur yang notabene di dominasi oleh kaum hawa.
Aroma nasi goreng kecap yang telah matang menggema di dalam rumah. Tidak terkecuali di dalam kamar. Nada perlahan membuka matanya karena indra penciumannya mencium aroma makanan.
“Siapa yang memasak haru banget.” Melilitkan selimut di tubuhnya, Nada pun meraih baju mandi yang tergantung di belakang pintu, lalu keluar kamar dengan rambut yang digelung keatas menampilkan leher putih nan jenjangnya. Bisa dilihat jejak kemerahan perbuatan Kaysan membekas di lehernya.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Kaysan yang melihat sang istri berdiri di depan meja usai meletakkan sepiring telur ceplok yang baru saja ia goreng.
__ADS_1
Nada mengangguk. “Mas, yang menyiapkan semua ini?” tanya Nada saat kedua netranya memperhatikan nasi goreng dan lauk di atas meja makan.
“Iya, sayang. Duduk, yuk. Kita sarapan!” ajak Kaysan sembari membuka kursi duduk untuk istrinya.
“Maaf ya, Mas. Aku ketiduran jadinya, Mas yang repot menyiapkan ini semua, padahal ‘kan sebagai seorang istri ini adalah tugasku. Aku memang istri yang tidak bisa apa-apa,” sesal Nada sembari menunduk.
“Hai, sayang. Kok, kamu ngomong seperti itu sih. Kamu kan tahu kalau selama ini aku tinggal sendiri. Jadi kalau untuk urusan memasak, aku juga bisa sedikit.” Kaysan menggenggam tangan Nada lalu menciumnya. “Jadi, mulai sekarang jangan salahkan dirimu, sayang. Kamu ketiduran kan karena perbuatan, aku kok. Jadi, wajar aja karena kamu pasti lelah.”
Kaysan tidak ingin membuat istrinya kurang nyaman, jadi sebisa mungkin ia melakukan apapun demi membuat Nada bahagia.
“Iya, Mas.” Sahut Nada mengangguk.
“Nah, gitu dong. Kan kalau senyum gitu cantik. Makan gih, pasti kamu kelaperan karena habis melayani, Mas,” ujar Kaysan genit sembari memamerkan gigi putihnya yang rapi.
__ADS_1
Raut wajah Nada memerah seketika mendengar ucapan vulgar suaminya. “Apaan, sih, Mas!” rajuk Nada memanyungkan bibirnya ke depan.
“Duh, sayang. Ekspresi kamu itu, loh. Coba kalau saja, Mas tidak ingat kita sedang sarapan, Mas bakalan nyantap kamu lagi, hehehe.”
Nada yang baru menyuapkan nasi ke dalam mulutnya pun lantas tidak jadi, karena perkataasn Kaysan yang membuatnya keal bercampur malu.
“Mas! Udah, dong. Kapan kita selesai sarapannya kalu, Mas terus ngoceh yang nggak jelas.” Keluh Nada.
“Hehehe.... becanda, sayang.”
“Bercanda sih bercanda, Mas. Namun jangan lupa ingat waktu, dong. Mas, mau kalau terlambat ke kantor gara-gara telat sarapan karena kebanyakan ngomong nggak jelas!” skak Nada membuat Kaysan kikuk.
“Iya, sayang. Maaf. Ini udah mau makan, kok!” Kata Kaysan menyendok nasi goreng di piringnya.
__ADS_1
Selama sarapan pagi, Kaysan terus tersenyum menatap istrinya. Ia seperti sangat luar biasa bisa membuat jejak-jejak di tubuh istrinya yang putih mulus itu. Coba tidak ingat kerjaan, Kaysan bakalan mengurung Nada kembali dan berbagi peluh melintasi cakrawala hingga terbang menuju nirwana.