Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Mari bertemu


__ADS_3

Kenzi mengemudi dengan tatapan kosong. Pikirannya di penuhi dengan pemandangan mesra Bimo dan Mia. Ia merasakan sesak di d*** nya.


Kenzi merasa kalah dalam segala hal. Sekilas, ia mengetahui, jika Bimo adalah pria yang baik dan mandiri. Ia tidak pernah terlihat mempermainkan wanita. Dekat pun tidak. Hanya dengan Mia ia terlihat dekat. Itu pun, karena mereka bertunangan.


Apa Bimo tunangannya Mia? Kalau benar,..... Lawan yang sulit. Apa Mia akan tetap lihat gue dengan tatapan penuh cinta seperti dulu, atau dia sudah berubah?


Kenzi merasa kalut. Ia membelokkan mobilnya ke arah lain. Ia menuju tempat biasa menghilangkan rasa penatnya. Tak lama kemudian, ia tiba di sana.


Ia segera berganti pakaian dan menuju arena tinju. Ia berlatih lebih dari satu jam. Hingga keringat membanjiri tubuhnya. Ia pun kelelahan.


"Lo kenapa? Punya masalah?" seseorang menghampirinya dan memberikan air mineral padanya.


Dengan nafas tersengal, ia berusaha duduk dan menyambar botol itu. Dalam sekejap, isinya tandas dan berpindah ke dalam perut Kenzi.


"Gak ada." ucap Kenzi setelah itu.


"Bohong. Lo kan udah lama gak kesini. Kalau bukan karena punya masalah, Lo gak bakal ingat ke sini." ucap pria itu.


"Sok tahu Lo." ucap Kenzi kesal.


Pria itu terkekeh dan meninggalkan Kenzi sendiri. Pikiran Kenzi kembali menerawang. Kembali terngiang di benaknya ucapan Gerald.


Ungkapkan perasaan Lo ke Mia. Sebelum dia menikah. Gue dengar, pernikahannya sudah di atur satu bulan lagi.


Kenzi mendengus.


Apa dia akan memilih gue?


Kenzi, usaha dulu... Jangan pesimis. 😇


Udahlah Kenzi, nyerah aja. Kayak gak ada cewek lain aja. 😠


Batin Kenzi berperang. Kenzi mengacak rambutnya. Ia pun mengambil keputusan untuk berusaha dulu. Hasilnya, ia serahkan pada Tuhan.


*****


Tania dan Gerald kini terlihat lebih dekat. Sebelumnya, Tania memang menyetujui permintaan ayahnya untuk mencoba menjalin hubungan dengan Gerald. Meski padanya, pria itu minim ekspresi. Senang ataupun sedih, tak ada bedanya.


Saat ini mereka tengah melihat bayi lucu yang baru saja lahir itu. Tania ingin mencoba menggendongnya. Dengan gerakan kaku, ia menggendong bayi mungil itu.


"Kalian sudah punya nama?" tanya Tania pada Nathan dan Lisa.


"Kakak punya ide?" tanya Lisa.

__ADS_1


Tania terlihat berpikir hingga menyipitkan matanya. Ia mencoba mencari nama untuk bayi tampan di gendongannya ini. Ya, bayi Lisa dan Nathan berjenis kelamin laki-laki.


"Adhitama Narendra." ucap Nathan.


"Wah... Wah.... Rupanya kau sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Mulai dari perlengkapan bayi, sampai nama pun sudah di siapkan." ucap Ardian ketus.


"Ayah...." Tania menatap tajam pada Ardian.


"Oke...." Ardian menyerah dan mengunci mulutnya.


Ferdinand dan yang lainnya tertawa melihat hal itu. Lisa menyadari, bahwa Kenzi tak lagi di sana.


"Kenzi mana?" tanyanya.


Mereka mulai menelisik ruangan itu dan tak menemukannya.


"Mungkin sedang beli makan atau minum." ucap Ferdinand asal. Lisa menganggukkan kepala.


Namun Gerald dan Tania saling menatap. Seolah berbicara melalui mata mereka. Dalam sekejap, raut wajah Mia pun berubah sendu. Ia pun berpamitan lebih dulu


"Lis, gue pulang dulu ya. Besok, pulang kerja kesini lagi deh." ucapnya memaksakan senyuman.


"Iya hati-hati. Terimakasih sudah datang." ucap Lisa.


"Bim, antar tunangan mu dulu." perintah Hendrik yang juga hadir di sana.


"Gak usah pah. Mia bawa mobil sendiri tadi." setelah bertunangan, Hendrik memang meminta Mia memanggilnya papah seperti Bimo.


"Tinggalkan saja. Besok baru bawa pulang." ujar Bimo.


Mia bimbang, namun ia tetap melakukan ucapan Bimo. Mereka pun menuju mobil Bimo di area parkir.


*****


Sesampainya di rumah, Mia segera mengirim pesan pada Kenzi. Ia cukup penasaran dengan apa yang ingin Kenzi katakan tadi. Mereka bahkan tak sempat makan. Saat ini, seleranya pun menguap begitu saja.


Zi... Tadi Lo mau ngomong apa?


Hingga Mia tertidur, Kenzi tak kunjung membalas pesannya. Tepat jam dua belas, pesan dari Kenzi masuk ke ponselnya. Namun Mia yang sudah terlelap, tak lagi meresponnya.


Nanti saja, saat kita bertemu.


Isi pesan Kenzi yang baru saja di baca oleh Mia di pagi hari. Dari sekian banyak teman yang mengiriminya pesan, hanya pesan Kenzi yang di baca Mia. Mia sedikit kecewa, karena Kenzi tak langsung mengatakannya.

__ADS_1


Tiba di loby, Mia berpapasan dengan Gerald. Mia tersenyum dan menganggukkan kepala. Gerald membalasnya.


Mia pun segera menuju ruangannya.


*****


Beberapa hari sudah berlalu, namun Kenzi tak juga memberinya kabar. Pada akhirnya, Mia tak lagi berharap.


Biarlah. Toh Bimo pria yang baik. Maaf Kenzi, bukan aku tak mencintaimu lagi, tapi semua sudah terlambat. Aku akan melupakan cintaku padamu dan berusaha kembali menjadi sahabatmu. batinnya.


Mia pun tenggelam dalam pekerjaannya. Ia tak lagi mengharapkan Kenzi memperjuangkannya.


Sementara Kenzi, sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun tengah mencari cara, untuk merebut Mia. Semalam, Lisa mengiriminya pesan dan menanyakan keberadaannya.


Dengan berbagai alasan, Kenzi menghindarinya. Bahkan kado untuk si kecil, ia kirimkan melalui kurir.


Dua Minggu menjelang pernikahannya, Mia dan Bimo melakukan fitting baju pengantin. Sementara Kenzi, menemui kedua orangtua Mia dan meminta restu mereka.


"Om, Tante, saya mencintai Mia." ucap Kenzi. kedua orangtua Mia terkejut.


"Maaf Kenzi, tapi kami tidak mungkin membatalkan acara pernikahan. Undangan akan segera di sebar." ayah Mia menjelaskan.


"Belum di sebarkan om. Berarti Kenzi masih punya kesempatan." ayah Mia menggelengkan kepalanya.


"Kenzi, seharusnya kamu mengatakan hal ini sebelum Mia bertunangan. Atau di awal Mia dan Bimo bertunangan. Jadi, tidak akan ada yang merasa di permalukan. Apa lagi, pertunangan Mia dan Bimo kemarin hanya di saksikan keluarga inti saja." ibu Mia pun turut menjelaskan.


"Maaf Tante, tapi Kenzi yakin Mia mencintai Kenzi. Dan Kenzi akan buktikan itu." mereka menghela nafas dan menggelengkan kepala.


Malam itu, Kenzi mencoba menghubungi Mia dan meminta bertemu.


Mi, ayo kita bertemu dan menyelesaikan urusan kita. Kalau boleh, ajaklah Bimo.


Isi pesan Kenzi pada Mia. Mia mengernyit heran membacanya. Menyelesaikan urusan kita? Yang mana? Ajak Bimo? Untuk apa? pikirnya.


"Ada apa?" tanya Bimo saat melihat perubahan raut wajah Mia.


"Gak apa-apa." jawab Mia. Mia menyunggingkan senyum terpaksa.


"Katakan saja. Aku tahu, ada yang ingin kamu katakan." Mia menunduk.


Kemudian, ia menunjukkan isi pesan dari Kenzi pada Bimo. Bimo membacanya dan menyerahkan kembali ponsel Mia.


"Oke. Katakan saja padanya aku setuju." Mia membelalakkan matanya tak percaya. Benarkah apa yang di dengarnya itu?

__ADS_1


Mia pun mengangguk dan membalas pesan dari Kenzi.


__ADS_2