Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Kotak bekal


__ADS_3

Matahari belum terbit saat Mia terbangun dari tidur lelapnya. Ia melihat jam yang terpajang cantik di atas nakas samping tempat tidurnya.


Pukul 4.30 pagi. Mia yang sudah membuka kedua matanya, memutuskan beranjak dari tempat tidurnya.


Entah mengapa, ingatannya melayang ke satu Minggu yang lalu. Ia, tak sengaja melihat Kenzi menyapa Tania dengan ramah. Bahkan, tatapan kagum yang tertangkap oleh matanya pun membuatnya iri. Apalagi, ia melihat Kenzi memperhatikan kotak bekal yang di bawa oleh Tania.


Apakah harus gue buatkan dia bekal juga. Soal masak memasak sih, gue masih bisalah. Meski rasa, tidak seperti masakan Lisa. Coba gue buat deh. Tapi, kalau di tolak gimana? Ah, belum juga gue coba, masa sudah mau menyerah saja! Tapi, kalau dia malah jadi menjauh gimana? Arrgghh... kenapa jadi pusing begini sih.... Mia tengah berperang dengan pikirannya sendiri.


Mia memang tidak se-percaya diri Lisa. Dirinya, selalu saja merasa insecure. Bukan hanya Lisa yang selalu meyakinkannya. Kenzi pun turut membantu Mia. Sayangnya, jiwa Mia seakan sudah di penuhi dengan rasa insecure sendiri.


Entah keyakinan apa yang mendorong Mia untuk membuatkan Kenzi bekal makan siang. Akan tetapi, sepertinya Mia belum menyadarinya.


Matahari mulai menampakkan sinarnya. Mia pun telah selesai dengan masakannya. Ia menata makanan itu ke dalam kotak bekal. Memberikan hiasan dan tersenyum puas dengan hasil karyanya.


Sebenarnya, Lisa dan Mia sama-sama memiliki bakat masak memasak. Sejak awal kuliah dulu, Mia dan Lisa bahkan bekerja sama membangun sebuah restoran, yang bahkan tidak di ketahui keluarga mereka.


Oke, urusan bekal selesai. Saatnya mandi....


Tiba-tiba saja sang mama memergokinya. Hingga Mira mengusap d***nya terkejut.


"Tumben banget pagi-pagi sudah bangun..." ejek Rina mama dari Mia.


"Mama ngagetin saja sih." keluh Mia.


Rina tersenyum dan melihat kotak bekal di tangan Mia.


"Kamu mau bawa bekal?" tanya Rina. Mia mengangguk membenarkan.


Rina melangkah semakin dekat dengan Mia dan menaruh telapak tangannya di dahi sang putri.


"Enggak panas kok. Normal." ucapnya.


"Mama apaan sih...." keluh Mia.


"Pagi-pagi kok sudah ribut saja?" sahut sang papa begitu keluar dari kamar.


"Pa, pagi ini kita sarapan dengan masakan Mia." ucap Rina pada suaminya.


Mata Dani, ayah dari Mia langsung terlihat berbinar mendengar ucapan sang istri. Senyum pun terkembang di wajah tuanya.

__ADS_1


"Beneran ma?" Rina mengangguk dan menunjuk pada kotak bekal yang di pegang Mia.


Seketika, Mia menyembunyikan kotak bekal itu dari pandangan sang papa.


"Wah.... Sudah lama papa gak makan masakan anak gadis papa." ujar Dani.


Ah.... gue cuma bikin satu porsi tadi. Gara-gara kelamaan mikir menu, gak sempat bikin lebih. batin Mia.


"Maaf pa, ma... Mia cuma bikin satu porsi." lirihnya.


Rina dan Dani saling bertukar pandangan.


"Itu buat siapa? Kamu sudah punya pacar? Siapa? Mama sama papa kenal? Apa pekerjaannya?" Rina mencecar putri semata wayangnya dengan banyak pertanyaan.


"Mama kaya wartawan saja, nanya panjang banget. Mia sampai bingung mau jawab yang mana?" jawab Mia.


"Mama sih kebiasaan." imbuh Dani.


Rina hanya bisa tersenyum kaku. Perlahan namun pasti, Mia meninggalkan kedua orangtuanya di depan meja makan dan membawa kotak bekal itu, sebelum kedua orangtuanya itu bertanya lagi.


Selesai bersiap, Mia segera keluar dari kamar. Saat masuk kamar tadi, terdengar protes sang mama lagi karena di tinggal begitu saja tanpa jawaban oleh putri tercintanya.


Sambil memperhatikan kedua orangtuanya yang tengah sarapan, Mia berjalan keluar. Belum mencapai pintu keluar, aksinya tertangkap oleh tatapan tajam sang mama.


"Hayo.. mau pergi tanpa pamit?" Mia terpaksa menghadap orangtuanya lagi. Tak mungkin ia main kabur begitu saja. Apalagi, tatapan mamanya itu bagai ingin menelan dirinya bulat-bulat.


"Duduk." perintah Rina.


Mia pun menuruti keinginan sang mama. Ia duduk tepat dihadapan mamanya.


"Kamu sudah punya pacar?" Mia menggeleng. Rina mengernyitkan dahinya. Lalu, bekal itu untuk siapa? pikirnya.


"Itu untuk siapa?" Rina menunjuk kotak bekal itu dengan dagunya.


"Kenzi ma." lirihnya.


"Kamu pacaran sama Kenzi?" kali ini, Dani yang buka suara.


Pacaran apa, dia saja gak peka gue kasih kode. Masa gue harus terang-terangan. gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Mia..." panggil Dani. Mia pun menggeleng.


"Terus kenapa kamu buatkan bekal untuk dia?" tanya Rina lagi. Kali ini, nada yang terdengar bercampur dengan rasa heran.


Mia tak bisa menjawab. Haruskah ia memberitahu orangtuanya tentang perasaannya pada Kenzi?


"Kamu suka Kenzi?" Dani menatap penuh selidik pada putri kesayangannya itu. Ia menggenggam jemari putrinya yang ada di atas meja.


Mia menatap papanya. Dani bisa melihat jelas jawaban yang terpancar dari mata itu.


"Tadinya, papa dan mama ingin menjodohkan mu dengan anak dari teman mama mu. Tapi, sepertinya kamu punya pilihan sendiri. Jadi, papa dan mama akan mendukungmu." Dani tersenyum menenangkan putrinya itu.


"Terimakasih pa." mata Mia berkaca-kaca mendengar penuturan papanya. Cinta pertamanya itu, memang selalu bisa mengerti akan dirinya.


"Baiklah. Mama tunggu kabar baiknya. Usiamu tidak lagi muda Mia. Dua puluh delapan tahun, adalah usia matang. Jika Kenzi tidak membalas cintamu, tidak perlu bertahan. Kau mengerti?" Mia menghampiri mamanya dan memeluknya.


Dalam dekapan sang mama, Mia terisak seraya mengangguk, pertanda menyetujui ucapan mamanya.


Beruntung orangtuanya tak memberi batas waktu. Mia bertekad, akan membuat Kenzi melihat dirinya di luar persahabatan yang sudah terjalin.


*****


Tiba di ruangan Kenzi, rupanya pria itu belum datang. Mia akhirnya meletakkan kotak bekal itu di mejanya. Dan menggambar bentuk hati di atas kertas, lalu menyelipkannya di bawah kotak bekal itu. Ia pun kembali ke ruangannya.


Kenzi yang baru masuk pun melihat kotak bekal itu. Ia juga melihat gambar hati itu.


Siapa yang mengirim ini? pikirnya.


Kenzi membuka pintu ruangannya dan bertanya pada Putri, sekertaris Gerald yang berada di depan ruangannya dan Gerald.


"Put, tadi siapa yang masuk ruangan saya?" tanya Kenzi.


"Maaf pak, saya juga baru datang." jawab Putri.


"Oh... Ok." Kenzi kembali ke ruangannya.


Ia membuka kotak bekal itu. Ingin melihat isinya. Nasi goreng tanpa kecap. Seingat Kenzi, hanya Mia dan Lisa yang tahu makanan kesukaan Kenzi. Ia mengambil sendok dan mencicipinya.


Dari rasa, seperti masakan Mia. Tapi, tumben banget tuh anak ngasih gue sarapan? Ada angin apa? gumamnya seraya memakan bekal itu.

__ADS_1


Kenzi, memang selalu menjadi kelinci percobaan Mia dan Lisa ketika kedua sahabatnya itu memasak. Ia, akan menjadi orang pertama yang mencicipinya. Tapi, itu dulu sebelum mereka terjun ke dunia pekerjaan.


__ADS_2