
Gerald sungguh tak bersemangat menghadiri undangan pernikahan Kenzi dan Mia. Entah mengapa, ia harus memaksa kakinya untuk melangkah ke sana.
Ia berangkat dari rumahnya bersama ayahnya William dan Laras ibunya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Hanya keheningan yang menemani hingga mobil yang di kendarai Gerald, memasuki pelataran parkir hotel.
Banyak tamu undangan yang telah hadir. Saat ia turun dari mobil, Lisa dan Nathan menghampiri. Mencium tangan William dan Laras, serta menyapa Bimo. Laras mengambil baby Tama dari gendongan Lisa.
Bayi mungil itu, tidak takut sedikit pun dengan keramaian dan bertemu orang lain. Justru, ia begitu senang dan selalu tertawa saat melihat beberapa tamu yang menjawil pipi gembilnya itu.
Gerald ikut tertawa melihat tingkah lucu bayi itu. Tak lama kemudian acara pun segera di mulai. Alunan musik terdengar saat pintu ballroom hotel terbuka.
Kedua mempelai mulai melangkah ke arah singgasana mereka. Setelah acara keagamaan pagi tadi, kini acara resepsi akan di mulai. Nathan, Lisa dan Gerald memang tidak mengikuti acara pernikahan itu sejak pagi.
Mereka langsung datang ke hotel tempat di langsungkan nya resepsi pernikahan. Lisa tersenyum manis melihat kedua sahabatnya. Ia menitikkan airmata bahagia melihat impian keduanya sudah terlaksana.
Menikah dengan pria yang di cintai, memakai gaun putih bak putri raja, dan di iringi oleh pengiring pengantin. Senyum Lisa memudar. Kembali ia melihat wanita yang berjalan di belakang Mia dan Kenzi seraya melemparkan kelopak bunga.
"Kak Tania?" lirihnya.
Gerald yang ada di sampingnya belum menyadarinya. Pria itu masih berada dalam angan-angannya.
Tania tersenyum dan mengeringkan sebelah matanya pada Lisa. Lisa balas tersenyum. Begitu pun Nathan.
"Kapan Tania kembali?" tanya Nathan lirih seraya memeluk bahu Lisa.
Lisa mengendikkan bahunya. Karena sejujurnya ia pun tak tahu.
"Aku juga tidak tahu." jawabnya. Matanya masih mengikuti kemana Tania berjalan.
Saat Tania melewatinya, Gerald terdiam membeku. Ia merasa matanya mulai menampakkan halusinasi. Terlalu banyak memikirkan Tania, sepertinya membuat matanya seakan melihat bayangan Tania.
Ah, s*** kenapa aku jadi membayangkan Tania? Gerald menggelengkan kepala cepat. Mencoba menghalau bayangan Tania yang menari-nari indah di kepalanya beberapa waktu ini.
__ADS_1
Tania kini bergabung dengan orangtuanya dan Lisa. Sementara Gerald tengah berbincang dengan rekan bisnis yang juga di undang ke acara itu.
Gerald baru menyadari kehadiran Tania, saat Ia mengalihkan pandangannya. Beberapa rekannya yang melihat arah pandang Gerald, mengikuti pandangannya.
"Anda mengenal wanita itu?" tanya salah seorang rekannya.
Gerald menatap rekannya. "Yang mana?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Itu, yang menjadi pengiring pengantin tadi." pria itu menunjuk pada Tania.
Jadi aku gak berhalusinasi tadi? Sungguh, itu Tania? Tanpa sadar, Gerald menganggukkan kepalanya.
"Gadis itu sangat cantik." puji pria itu.
Dan kedua pria lain yang berdiri di sana pun, turut memuji Tania. Ada sedikit perubahan dari raut wajah Gerald. Tiba-tiba saja ia merasa sangat kesal mendengar para rekannya memuji Tania.
Gerald memutuskan menghampiri Tania. Ia pun berpamitan pada rekan-rekannya. Matanya menatap Tania yang terlihat mempesona hari itu.
"Tidak sekarang." desis Tania.
Akhirnya, Gerald mengurungkan niatnya untuk membawa Tania dan meminta penjelasan dari gadis itu. Ia pun memilih bergabung bersama dengan mereka.
Tidak terasa, acara sudah mencapai puncaknya. Saat ini, Mia akan melempar bujet bunga pengantinnya. Di jaman modern seperti ini, memang masih ada saja yang mempercayai mitos. Namun, berbeda dengan Tania. Gadis itu justru menyingkir dari kerumunan para jomblo yang ingin menangkap buket bunga itu.
"Kenapa kakak gak ikut?" tanya Lisa.
"Aku belum mau menikah. Biar mereka saja." jawabnya.
Lisa dan Tania terkekeh bersama. Kejadian selanjutnya, tak bisa Tania duga. Karena justru, ia di tarik masuk ke dalam kerumunan oleh seseorang. Ia menaikkan pandangannya dan terkejut melihat Gerald.
"Lepas." pekik Tania tertahan. Ia tak ingin mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang.
__ADS_1
Gerald tak melepaskannya. Buket bunga pun sudah di lempar. Tania melihat buket itu mengarah padanya. Dia yang memang tidak ingin mengikuti acara itu, memilih bergeser ke balik punggung Gerald. Hingga akhirnya, buket itu di tangkap salah seorang gadis yang berdiri di dekat Tania tadi.
Gerald menatap Tania heran. Dan di balas dengan senyum miring milik gadis itu. Gerald pun melepaskan pegangan tangannya dari Tania. Tania segera berbalik dan pergi.
Lisa yang melihat itu merasa sedikit cemas. Namun Nathan menepuk pundaknya dan tersenyum. Seolah berkata, jika semua akan baik-baik saja. Pria itu pun membisikkan sesuatu ke telinga sang istri.
Lisa mengerti dan mengangguk. Nathan segera menghampiri Gerald dan mengajaknya pergi. Lisa menghembuskan nafas dan pulang bersama kedua mertuanya.
*****
Tania kini berada di kamar hotel. Ia menatap jalan yang terlihat seperti garis panjang dari tempatnya berdiri itu. Sebelum ia mendatangi Mia siang tadi, ia sudah mem-booking kamar untuknya.
Tania melipat tangannya di atas perut. Beberapa kali gadis itu menghembuskan nafas dengan kasar. Melihat Gerald, bukanlah sesuatu yang ingin di lakukan nya. Terlebih, Tania menyadari jika Gerald memiliki perasaan pada orang lain.
Tania berpikir, untuk apa Gerald mencoba menjalin hubungan dengannya jika hatinya tidak bersama Tania? Apa Gerald pikir, Tania tak memiliki perasaan sedikitpun?
Gerald salah, sejak Ferdinand berencana menyatukan dirinya dengan Gerald, ia sudah jatuh cinta. Awalnya, Tania menyangkal semua rasa itu. Hingga saat gadis itu mengikuti keinginan orangtuanya untuk mencoba menjalin hubungan, membuatnya melihat jika Gerald tak sepenuh hati menerimanya.
Sebenarnya, melupakan Nathan juga menjadi salah satu alasan dirinya pergi berlibur. Dan di sana ia merasakan kerinduan yang berbeda seperti saat rindu pada Nathan.
Tapi Tania tahu, Gerald hanya menjadikannya pelarian. Tak di pungkiri, Tania sempat berharap kehadirannya mampu membuat Gerald melupakan orang yang mengisi hati Gerald.
Hingga pertunangan mereka semakin dekat, Gerald tak terlihat berpaling padanya. Tania merasa lelah. Jika memang mereka berjodoh, biarlah Tuhan yang menunjukkan jalan.
Sudah lebih dari sepuluh kali, ponselnya berbunyi. Tidak sekali pun Tania mengangkatnya. Meliriknya pun tidak. Gadis itu masih menikmati pemandangan ibukota dari lantai di mana kamarnya berada.
๐น๐น๐น๐น๐น
Sore genks.... Maaf baru sempat up. Di usahakan hari ini up lagi ya. Tapi gak janji. karena satu dan lain hal yang menyebabkan aku gagal up dua hari ini.
Terimakasih buat kalian semua yang selalu mendukung aku. Jangan lupa klik like๐, komen๐ญ, kalau boleh hadiah dan votenya. Jika kalian tidak keberatan.
__ADS_1
Thank you genks๐๐๐๐๐