
Seperti rencana Lisa dan Nathan sebelumnya, mereka kini tengah mempersiapkan segalanya. Sore itu, Nathan kembali ke rumah lebih cepat. Pekerjaannya pun, selesai dengan cepat.
Awalnya, Lisa ingin berbelanja sendiri. Namun Nathan melarangnya. Melihat kondisi perutnya yang kian membuncit, membuat Nathan tak tega membiarkannya pergi berbelanja sendiri. Di tambah lagi, bobot tubuh Lisa yang sudah bertambah hingga 5 kilo. Semakin membuat wanita itu sulit bergerak.
Nathan tiba di rumah, bertepatan dengan Lisa yang baru saja selesai mandi. Lisa tengah menggunakan hair dryer saat itu. Nathan tersenyum dan mengambil benda itu dari tangan istrinya. Lisa tersenyum melihat perhatian suaminya itu.
"Baru jam segini kok sudah pulang kak?" tanya Lisa.
"Hemm... Kebetulan, pekerjaanku sudah selesai." ucapnya seraya mengeringkan rambut Lisa dengan hair dryer.
"Selesai. Sekarang, aku mandi dulu ya. Baru kita pergi." Nathan mengecup pipi Lisa, setelah istrinya mengangguk menyetujui ide Nathan itu. Kemudian melangkah menuju bathroom.
Sambil menunggu suaminya, Lisa mengganti pakaiannya dan merias wajahnya ringan. Hanya sekedar pelembab dan lipstick nude. Setelahnya, ia mempersiapkan pakaian Nathan.
Rencananya, setelah berbelanja mereka akan ke rumah orangtua Lisa dan menaruh belanjaan mereka di sana.
*****
Saat ini, mereka tiba di rumah keluarga Lisa. Saat memasuki halaman rumah, terlihat sebuah mobil juga memasuki halaman. Lisa tersenyum melihat mobil itu. Ia tahu, itu adalah mobil milik kakaknya Tania.
Tania keluar dari mobil dan membalas senyum Lisa. Mereka saling berpelukan.
"Tumben kesini!?" ucap Lisa.
"Kenapa, gak boleh? Kan bukan cuma kamu anak papi dan mami." Tania mendelik mendengar pertanyaan dari Lisa.
"Ih... Ngambek..." Lisa terkekeh.
Mereka pun tertawa bersama. Nathan ikut tersenyum melihat keakraban kakak beradik itu.
"Om Ardian gak ikut kak?" tanya Lisa. Mereka tengah memasukkan barang belanjaan yang di bawa Lisa tadi ke dalam tempat penyimpanan.
"Ayah lagi ke luar kota." jawab Tania.
"Terus besok bagaimana?" raut wajah Lisa sedikit khawatir.
"Tenang saja. Ayah pasti datang. Ayah sudah janji sama aku." jawab Tania menenangkan.
Lisa menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Tania.
Tujuan Lisa mengadakan makan bersama dengan keluarga besar nya adalah untuk mempersatukan keluarganya kembali. Ia ingin, keluarganya melupakan masalah yang sudah terjadi di masa lalu. Dan kembali mengeratkan tali persaudaraan itu.
••••••••
Ke esokkan harinya, Lisa, Nathan dan kedua mertuanya tiba di kediaman Atmadja sebelum tengah hari. Nindya, menggandeng lengan Lisa dan berjalan bersama.
__ADS_1
Di halaman pun, terlihat mobil keluarganya yang lain. Tidak hanya keluarga, teman dekat Lisa dan Nathan pun turut hadir. Seperti Kris. Ya, Nathan memang hanya mengundang Kris untuk mengikuti acara ini.
Sementara Lisa mengundang Kenzi dan Mia. Bukan hanya sekedar makan bersama, tetapi mereka pun membuat acara barbekyu di halaman belakang rumah itu.
"Bumil.... Kangen...." Mia menghampiri dan memeluk Lisa.
"Gimana sama Kenzi?" tanya Lisa dengan berbisik-bisik.
Mia merenggut sebal. Tiba-tiba saja suasana hatinya memburuk. Kemudian, ia menatap tajam pada sosok yang tengah mereka bicarakan. Bibirnya sudah mengerucut.
"Ken..." panggil Tania. Di sana, hanya Tania yang memanggilnya 'Ken'.
Seketika, d*** Mia bergemuruh kesal. Tahu begini, gue males datang. Bikin gue kesel saja. Terus saja deket-deket sama cewek itu. Mentang dia calon pewaris. Mia mengomel dalam hatinya.
Entah sudah berapa kali Lisa memanggil sahabatnya itu. Namun tak juga di gubrisnya. Lisa mengikuti arah pandang Mia. Ia pun mengerti, jika Mia tengah diliputi kecemburuan pada kakaknya Tania.
"Lo cemburu ya?" Lisa menepuk pundak sahabatnya itu. Mia terkejut dan tersenyum kecut.
"Cemburu sama siapa?" tiba-tiba saja terdengar suara Gerald di belakang mereka. Mereka pun menengok ke arah suara.
Gerald belum mau terbuka pada Lisa. Pria itu masih merasa harus menjaga jarak sampai cinta yang pernah ada untuk Lisa padam.
Terlihat, aura Gerald yang mendominasi. Pria pemilik rahang tegas dan wajah rupawan itu, berdiri dengan gagahnya. Bahkan, ia hanya menggunakan kaus oblong dengan celana bahan.
"Kok diam?" tanya Gerald lagi.
"Itu kak, Mia hmmpph..." Mia langsung membekap mulut Lisa dan tersenyum kaku.
Gerald mengerutkan dahi. Sedetik kemudian, Mia menghampiri Gerald dan merangkul lengan pria itu. Lisa sampai mengangakan mulutnya tak percaya.
Mia sudah menyeret langkah Gerald untuk bergabung dengan Kenzi dan Tania.
"Gak ada apa-apa kok. Kita gabung sama mereka saja ya." ucapnya.
"Bagaimana kandungan mu nak?" tanya Bu Laras yang ikut memperhatikan putranya itu.
"Sehat Bu. Dia juga sangat aktif." jawab Lisa seraya mengusap perut buncitnya itu.
Bu Laras, ikut mengusap perut Lisa dan menuntun Lisa untuk duduk bersama Nindya dan Alena. Para orangtua itu, turut mengusap perut buncit anak dan menantu mereka.
Terdengar suara tawa yang menggema dari arah kolam renang. Para orangtua melihat kebahagiaan mereka.
*****
Berbagai hidangan kini tersaji di atas meja. Ardian datang terlambat. Saat mereka akan mulai makan, terlihat Ardian berjalan cepat ke arah mereka.
__ADS_1
"Maaf, aku terlambat." ucap Ardian.
Ia menghampiri Tania dan mengecup puncak kepalanya. Kemudian, menghampiri Lisa dan melakukan hal yang sama. Lisa tertegun sejenak. Baru kali ini, sejak kejadian terakhir kali, Ardian mengecupnya sayang.
Dalam hati, Lisa merasa bahagia.
Mereka pun memulai acara makan bersama malam itu. Seraya bersenda gurau, dan sesekali menggoda para anak muda.
"Ardian, aku punya ide." ucap Ferdinand tiba-tiba.
"Katakan." Ardian tengah melepaskan duri dari ikan dalam piringnya, kemudian memberikan daging ikan yang sudah tak berduri itu pada Lisa dan Tania yang duduk di hadapannya.
"Bagaimana, kalau kita jodohkan Tania dengan Gerald." Ferdinand menyampaikan idenya.
Gerald dan Tania yang tengah makan tersedak. Ardian, memberikan air dihadapannya pada Tania. Nathan, memberikan air pada Gerald.
"Kalian seperti berjodoh, tersedak bersamaan seperti itu?!" ucap Ardian.
"Ayah...." Tania merenggut.
Lisa terkekeh melihat reaksi Tania dan Gerald. Sementara Mia, merasa senang di hatinya. Namun seketika, harapannya terhempas dengan dahsyatnya. Saat William, ayah kandung Gerald menolak rencana itu.
"Biarkan mereka menentukan jalan hidup mereka sendiri. Ini bukan zaman Siti Nurbaya." sambar William.
Mendengar ucapan William, semua yang ada di sana mengangguk setuju.
"Mami setuju dengan usul pak William Pi." timpal Alena.
"Ini bukan lagi zamannya perjodohan."
"Jika kita paksakan, belum tentu akan berakhir bahagia." imbuhnya lagi.
Thank you mami. Your the best parents. Kalau gak ada mami, bisa-bisa papi akan tetap menjodohkan ku dengan manusia tanpa ekspresi seperti dia. gumam Tania dalam hati.
Tania dan Gerald merasa sedikit lega mendengar ucapan Alena. Dengan siapa akhirnya Tania bersatu?
Gerald, Kenzi, atau Bimo?
🌼🌼🌼🌼🌼
Yey..... revisi selesai.....
Selamat menikmati semua....
Yang sudah sempat baca, bisa baca ulang ya. Karena sudah banyak perubahan yang terjadi. Setelah ini, mari kita mulai bab baru....
__ADS_1