
"Tuan.." dokter wanita itu menatap pria paruh baya itu.
"Jadi, Lisa kembali depresi?" dokter wanita itu mengangguk.
"Tunggu dulu, siapa mereka bu?" tanya Nathan penasaran pada ibu Laras mertuanya.
"Sekarang kita harus fokus pada kondisi Lisa dulu nak. Kau akan segera tahu." ucap bu Laras dengan isak tangis.
Apa yang di katakan ibu mertuanya benar. Kondisi Lisa saat ini benar-benar harus di perhatikan. Mereka berkumpul di ruang keluarga kecuali Nathan. Ia tetap berada di sisi Lisa.
Nathan menatap Lisa. Saat ini, posisi Lisa duduk bersandar di kepala ranjang. Ia membelai lembut pipi dan tangan Lisa. Lisa masih terdiam. Entah mengapa, air mata Nathan mengalir. Ia memeluk Lisa erat.
Berkali-kali ia mengucapkan maaf. Lisa terlihat mulai kembali pada kondisinya. Ia bergerak dan menangkup wajah Nathan. Ia menghapus air mata Nathan.
"Bukan kakak yang salah. Tapi aku." tatapan Lisa tak lagi kosong. Tanpa mereka sadari, dokter wanita yang merawat Lisa melihat interaksi mereka. Ia menuju ruang keluarga dan memberitahukannya pada Tuannya.
Mereka menuju ke kamar dimana Lisa dan Nathan berada. Mereka melihat interaksi itu secara langsung.
"Bagaimana menurut mu Clarisa?"
"Kondisinya membaik Tuan. Tapi kali ini, pengobatannya harus benar-benar tuntas."
"Aku mengerti. Lakukan yang kau bisa."
____________
Keesokkan harinya, kondisi Lisa semakin membaik. Lisa sudah mulai berbicara meski terkadang ia bisa kembali depresi. Keluarga mulai mengetahui, bahwa Lisa bisa sembuh total.
Mereka semua mengupayakan kesembuhan. Lisa. Nathan sudah tak lagi mengungkit kepergian Vira. Ia tahu, bahwa hal itu akan membuat depresi Lisa kembali karena rasa bersalahnya.
Beberapa hari telah berlalu. Lisa bahkan sudah terlihat ceria kembali. Dia sudah bisa beraktivitas seperti semula, namun ia masih harus terus konsultasi untuk benar-benar sembuh dari depresinya.
Saat ini, keluarga Lisa dan Nathan berkumpul di rumah orang tua angkat Lisa bapak William dan ibu Laras. Di sana juga ada Kenzi, Mia, Gerald dan Tuan Ferdinand.
Nathan sedikit bingung dengan kehadiran mereka. Namun ia tak juga bertanya. Saat Lisa menghampiri pria paruh baya yang di panggil Tuan oleh dokter beberapa hari lalu, ia tercengang mendengar Lisa menyebutnya 'papi'.
__ADS_1
"Kak, mungkin sudah waktunya kakak tahu segalanya." Nathan terdiam. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Beliau, adalah orangtua kandungku." Nathan menatap Lisa. Terlihat jelas ia begitu terkejut.
"Bapak dan ibu, adalah orangtua kandung kak Gerald dan Vira."
"Mia adalah asisten pribadiku. Kenzi, sahabatku sekaligus asisten dan orang kepercayaan kak Gerald dan papi." jelas Lisa pada Nathan.
Nathan diam seribu bahasa. Ia tidak mengerti semua yang terjadi. Ia merasa menjadi orang b***h saat ini.
"Kau pasti tidak mengerti apa yang terjadi. Singkat cerita, aku dan William, yang kau kenal sebagai mertuamu, sengaja menukar Lisa dengan Gerald. Karena sampai detik ini, Lisa masih menjadi incaran orang-orang dari pamannya yang ingin membunuhnya." ucap Ferdinand.
Nathan semakin terkejut mendengar penuturan pria yang Lisa bilang 'orangtua kandungnya' itu.
"Apa ini masalah harta?" tebak Nathan.
"Bukan." jawab Ferdinand jujur.
"Saya sendiri belum tahu apa motifnya."
"Aku tahu, kamu ingin tahu bagaimana Vira celaka." ucap pria yang di panggil kakak oleh Lisa.
"Pamannya, membuat rem mobil Lisa rusak. Ia menyewa orang yang bekerja di perusahaanmu untuk merusak rem mobilnya. Dan, salah satu karyawan mu melihat itu. Wanita itu tahu, kau akan menikah dengan adikku. Sepertinya dia menyukaimu.
"Hingga ia akhirnya, mengorbankan Vira. Tapi sayangnya, Vira lebih dulu mengambil inisiatif untuk membuat kalian menikah." Dan sejujurnya, itu menyakitiku.
Lisa menutup mulutnya tak percaya. "Benarkah kak?" tanyanya pada Gerald.
"Ini rekaman yang di dapat Kenzi. Kau pikir, bagaimana karyawan mu yang merusak mobil adikku itu bisa secara tiba-tiba mengundurkan diri? Dia sudah di bayar mahal." Gerald mengulurkan flashdisk dan di ambil oleh Nathan.
Kenzi menyerahkan laptop yang di bawanya, agar Nathan dan Lisa melihat sendiri kejadian itu. Mereka benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kamu, baru tahu masalah ini?" tanya Nathan. Lisa mengangguk.
"Kenapa? Kamu pikir Lisa tahu segalanya?"
__ADS_1
"Ada beberapa hal yang harus kami tutupi darinya, mengingat kondisinya saat itu."
"Saat ini, kami membukanya karena kondisi depresinya harus sembuh total."
"Dokter bilang, rasa bersalah yang tersimpan di alam bawah sadarnya, yang membuat Lisa kembali depresi."
"Karena itu, kami memilih memberitahunya hari ini."
"Pada intinya, bukankah semua tetap salah ku?" ucap Lisa sendu. Nathan merangkul bahu Lisa. Menyalurkan kekuatan padanya.
"Tidak nak. Itu pilihan Vira." ucap ibu Laras.
"Sebelum kamu datang saat itu, Vira sudah mengatakannya pada kami. Dia tidak ingin kamu celaka." ibu Laras kembali menitikkan airmatanya mengingat kejadian satu tahun lalu.
Lisa menghampiri ibu angkatnya dan memeluknya. Mereka saling bertangis-tangisan. Semua yang hadir di sana, ikut merasa haru dengan kejadian itu.
Beberapa menit kemudian, mereka saling melepaskan pelukan itu. Dari ibu Laras, Lisa menemukan kasih sayang ibu yang tidak pernah di dapatnya.
"Nathan, selama ini, identitas Lisa di tutupi. Bahkan, sejak usia sepuluh tahun, dia harus rela hidup jauh dariku, ayah kandungnya."
"Tolong, lindungi dia, dan sayangi dia." pinta Ferdinand.
"Saya akan berusaha semampu saya, untuk melindungi Lisa." janji Nathan pada Ferdinand.
Kenapa kalian mempercayakan lusa pada orang lain? Kenapa tidak padaku? Lisa, seandainya kau tahu aku juga mencintaimu. Tapi kau tidak pernah memandangku. Tidak bisakah kau melihatku sebagai pria? batin Gerald. Gerald sendiri, mati-matian mempertahankan ekspresi datarnya.
"Dan untuk Rani, saya akan membuat perhitungan padanya. Karena dia, sudah membuat jurang pemisah antara aku dan Lisa. Dia juga, yang menjadi penyebab kematian Vira." ucap Nathan.
"Masalah wanita itu, kami serahkan padamu. Kamu jauh lebih memiliki wewenang." ucap pak William setelah sejak tadi mendengarkan.
"Maaf, satu lagi. Hati-hatilah. Tania sudah mulai mengikuti pergerakan Nathan. Jika sampai ia tahu Lisa istrimu, maka pamanmu pun akan segera tahu, jika dia sudah gagal." Kenzi memperingatkan.
Nathan terkejut mendengar nama Tania. Apa lagi hubungannya dengan Tania? pikir Nathan.
"Tania adalah sepupuku. Putri dari pamanku yang ingin membunuhku." ucap Lisa saat melihat raut bingung di wajah Nathan.
__ADS_1
Nathan sendiri kembali di kejutkan dengan kenyataan itu. Apakah masih ada rahasia lainnya? pikir Nathan.
Hingga mereka memutuskan kembali, karena hari mulai gelap. Ingin sekali Nathan bertanya. Tapi ia pun tak mengerti apa yang ingin di tanyakan nya.