Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Salah Paham


__ADS_3

Sampai di mesjid, Kaysan mengambil air wudhu lalu solat sunnah dua rakaat. Suasana sepi menyelimuti kekhusyukan Kaysan bermunajat pada sang pencipta. Dalam doanya ia memohon agar diberikan kekuatan, dan kesabaran dalam menjalani pernikahannya. Tidak lupa ia selipkan doa-doa keutuhan rumah tangganya.


“Aamiin ya rabbal aalamiin.”  Kaysan pun mengakhiri doanya. Setelah selesai ia memilih berdzikir dan beristighfar kepada sang khalik.


“Tumben, kamu datang ke mari malam-malam? Apa yang sedang membuatmu resah, ada masalah?” tanya ustad Budi ikut duduk di samping Kaysan. Ustad Budi yang biasa menjadi imam di mesjid lingkungan tempat tinggalnya, kembali ke mesjid mengambil berkas kepengurusan panitia mesjid yang ketinggalan.


Melihat raut wajah Kaysan, ustad Budi tahu Kaysan saat ini mengalami masalah.


“Dalam hidup tidak selamanya apa yang kita inginkan berjalan lancar. Ada kalanya kita harus berjuang lebih dulu agar bisa mencapai tujuan. Begitupun dengan ujian. Tentu kamu tahu, Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya di luar batas kemampuannya.”


Sejenak ustad Budi menjeda lalu melanjutkan. “Dengan adanya cobaan ini maka Allah percaya saat ini kamu mampu melewati ujian ini. Dengan syarat kamu harus sabar dan bertawakkal. Karena sesungguhnya dibalik kesulitan pastinakan ada kemudahan.” Terang ustad Budi.


Kaysan diam mendengarkan petuah dari ustad Budi. Apa yang diucapkan ustad Budi semuanya benar. Hanya karena emosi, ia lari dari masalah tanpa menyelesaikan masalah.


“Lekaslah pulang ke rumahmu. Jangan tinggalkan istrimu sendirian apalagi malam-malam begini. Hadapi dan selesaikan secara baik-baik. Aku yakin, kamu pasti bisa.” Ujar ustad Budi meninggalkan Kaysan di tempatnya usai mengambil berkas yang ketinggalan tadi di atas mimbar.


“Baik, Ustad. Terima kasih nasehatnya.”

__ADS_1


Tidak lama sepeninggal ustad Budi, Kaysan pun kembali menuju rumahnya dan memilih tidur di ruang tamu di atas lantai yang dingin.


***


Sayup suara azan menggema di subuh hari membuat Nada bangun. Ia pun menoleh ke samping ranjang tidak melihat keberadaan suaminya pasca bertengkar semalam. Nada pun memejamkan mata sambil beristighfar. Ia pun melangkahkan kakinya keluar kamar untuk berwudhu.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Ada rasa sedih di hati Nada melihat suaminya tidur meringkuk di atas lantai. Baru ia melangkah mendekat , Nada langsung teringat kejadian kemarin siang saat melihat suaminya bersama perempuan lain dengan mesra. Ia pun membatalkan niatnya untuk membangunkan sang suami.


Kembali dari masjid, Kaysan menghampiri sang istri yang masih terisak dalam doanya. Hati Kaysan berdenyut mendengar curahan hati istrinya  mengadu pada sang pemilik semesta.


“Ya, Allah berikan hamba kekuatan menghadapi ujian rumah tangga yang engkau berikan kepada kami. Hamba memohon ampunan ats segala dosa- dosa yang telah hamb perbuat. Berikanlah petunjukmu jika apa yang hamba liat itu salah. Jika engkau merestui pernikahan kami, berikan kami jalan keluar menyelesaikan permasalahn rumah tangga yang sedang kami hadapi saat ini. Aamiin ya rabbl aalamiin.”


Kaysan yang berdiri di belakang Nada turut mengaminkan doa tersebut.


“Assalamualaikim, Sayang,” ucap Kaysan memberanikan membuka suara.

__ADS_1


Nada menoleh. “Waalaikumsalam.” Melihat istrinya masih berbalut mukenah, Kaysan langsung mendekap Nada ke dalam pelukannya.


“Mas, minta maaf sayang. Semua itu hanya salah paham. Apa yang kamu lihat kemarin itu tidak seperti apa yang ada di dalam pemikiranmu. Berikan, Mas kesempatan menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.


Kaysan mengajak istrinya duduk di bibir ranjang dan mulai menceritakan sedetail-detailnya masalah kemarin siang.


“Jadi, begitu sayang. Percaya pada, Mas. Jika bukan karena pekerjaan, Mas juga tidak akan melakukannya. Tetapi, Mas terpaksa lakukan karena, Mas sebagai karyawan baru harus selalu siap membantu. Jadi, Mas berharap kamu usah khawarir lagi mengenai masalah kemarin.”


Nada pun langsung memeluk suaminya. “Maafkan, aku juga, Mas. Aku egois tanpa mau mendengrkan penjelasanmu.”


Kaysan menggeleng. “Tidak, sayang. Kamu tidak salah. Wajar, jika kamu marah sama, Mas seperti itu. Mas, mengerti,” ujar Kaysan menenangkan sang istri.


Kaysan bernafas lega pagi ini, karena bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara istrinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2