
Nathan baru saja tiba di rumah. Hari ini, ia dan Lisa memang tidak pulang bersama. Sebelumnya Nathan sudah memberitahukannya pada Lisa.
"Loh, Lisa mana than?" tanya maminya saat mereka berpapasan di tangga. Nathan terkejut mendengar pertanyaan maminya.
Seharusnya, Lisa sudah tiba di rumah saat ini. Apalagi, jam kerja Lisa sudah selesai sejak pukul 5 tadi.
"Memang Lisa belum pulang mi?" Nathan balik bertanya.
"Kalau sudah pulang, untuk apa mami tanya kamu!?" gemas Nindya.
"Tadi Nathan ketemu klien dulu. Jadi, Lisa Nathan suruh pulang duluan." Nindya mengernyit.
"Memang Lisa bawa mobil?" tanya Nindya lagi.
"Dia, Nathan suruh bawa mobil Nathan." jawabnya.
"Ya sudah, cepat kamu hubungi. Ini sudah malam loh." perintah Nindya.
Nindya pun berlalu meninggalkan Nathan yang masih terpaku di tempatnya. Sedetik kemudian, ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Lisa.
"Nomor yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan."
"Loh, kok gak bisa ya?" ada kecemasan di wajah Nathan.
Baru saja, ia akan melangkah ke kamarnya, ponselnya berbunyi. Ia melihat nama Bimo di sana. Ia pun mengangkatnya.
"Halo." ucap Nathan.
"Lo dimana than?" tanya Bimo.
"Di rumah. Kenapa?" Nathan bertanya.
"Loh, kok gue liat mobil Lo di parkiran supermarket ya?" tanya Bimo dengan nada bingung.
"Supermarket?" seketika Nathan teringat Lisa yang membawa mobilnya tadi.
"Supermarket mana Bim?" tanyanya seraya menuruni anak tangga dan melangkah cepat.
Nathan tak membuang waktu. Ia segera melajukan mobilnya menuju supermarket yang di katakan Bimo tadi. Dalam hati ia merutuki keb****** nya. Ia lalai menjaga istri dan calon anak mereka.
B**** kau Nathan.... Kenapa tidak kau ajak saja istrimu tadi? Semoga kau masih di sana sayang. Aku sangat cemas. batinnya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Nathan tiba di tempat yang sudah Bimo beritahukan. Seperti ucapan Bimo, ia benar-benar menunggu Nathan tiba.
"Bim..." panggil Nathan saat melihat Bimo. Bimo menaikkan pandangannya.
"Ini mobil Lo kan?" tanya Bimo saat Nathan tiba di hadapannya.
Bimo tengah bersandar di mobil Nathan saat ia menunggu sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Iya. Apa Lo lihat Lisa?" tanyanya. Tidak bisa di pungkiri, perasaannya begitu cemas.
Bimo menggeleng. "Coba lo lihat sebelah sana." tunjuk Bimo ke sisi lain mobil.
Bimo dan Nathan berjalan ke sisi lainnya. Nathan mengernyit melihat belanjaan yang berantakan di samping mobil. Nathan menatap Bimo.
"Apa artinya ini Bim?" tanya Nathan. Airmatanya menetes tanpa aba-aba. D*** nya terasa sesak tanpa tahu penyebabnya.
Bimo menyerahkan ponselnya yang sudah mendapatkan bukti penculikan Lisa. Sejak ia menghubungi Nathan dan tak menemukannya di dalam supermarket tadi, Bimo langsung menyelidiki hal ini. Bahkan, ia juga sudah melihat rekaman CCTV yang tepat berada di dekat Lisa.
Nathan menangis, kakinya terasa tak bertenaga saat mengetahui hal itu. Bimo menopang tubuhnya.
*****
Di tempat lain.
Ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya.Seketika tubuhnya menegang saat suara yang di kenalnya mendekat.
"Kau sudah sadar?" tanyanya. Lisa terdiam. Tangan dan kakinya terasa dingin.
Lisa merasa ada tangan yang membelai rambutnya. Kemudian, melepas penutup matanya. Lisa menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
Pria itu tersenyum ke arah Lisa. Namun Lisa menatapnya dingin. Ia sudah menduga hal ini, ketika ada orang yang membekap mulutnya dari belakang, saat di supermarket tadi.
"Tenang saja, aku memang menginginkan nyawamu. Tapi, bukan aku yang akan melakukannya." Lisa mengernyit bingung.
Apa maksud om Ardian mengatakan itu? Jika bukan dia yang melakukannya, lalu siapa? Apa om Hendrik? ucapnya dalam hati.
"Apa mau om?" tanya Lisa. Setelah terdiam beberapa saat, Lisa begitu ingin tahu alasan omnya melakukan semua ini.
"Jika om memang menginginkan harta, papi akan memberikannya." imbuhnya. Ardian tertawa.
"Aku bukanlah orang yang gila harta. Jika aku menginginkannya, sudah sejak dulu ku lakukan. Bahkan, tanpa harus menumpahkan darah." ucap Ardian.
__ADS_1
Lisa kembali berpikir. Memang benar apa yang di katakan oleh omnya. Jika harta tujuannya, kenapa baru sekarang ia menginginkannya? Bukankah usahanya sendiri cukup berkembang pesat dan berpengaruh dalam dunia bisnis? Jadi, apa alasannya?
"Sudahlah. Simpan saja semua asumsi mu itu. Dan kubur saja semua keingintahuan mu." ucap Ardian.
Setelahnya, Ardian meninggalkan Lisa yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
*****
Di kediaman Atmadja.
Alena memegang d*** nya yang tiba-tiba saja bergemuruh hebat. Saat ini, dia tengah menjalani pengobatan. Tidak seserius kemarin. Kali ini, hanya tinggal pemulihan saja.
Ferdinand, baru saja tiba. Ia menghampiri Alena yang tengah memegangi d*** nya.
"Apa ada yang sakit?" tanya nya lembut. Meski mereka masih suami istri yang sah, kecanggungan itu tetap terjadi. Apalagi, mereka sudah berpisah selama dua puluh delapan tahun.
"Mas, hubungi Lisa." lirih Alena.
Meski terpisah selama dua puluh delapan tahun, sepertinya ikatan batin antara ibu dan anak tetap bisa terjadi. Bahkan Alena, tak sempat melihat putrinya ketika lahir ke dunia. Begitu banyak momen yang tak ia saksikan dari putrinya.
Tapi semua itu, tak menghalangi cinta Alena pada Lisa. Seperti saat ini, Alena merasa Lisa berada dalam bahaya dan butuh bantuan. Ferdinand terkejut, ketika Alena menyebut nama Lisa.
Baru saja ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi Lisa, ponsel itu lebih dulu berbunyi. Terlihat nama Nathan di sana. Tanpa banyak berpikir, Ferdinand segera mengangkat teleponnya.
"Pi, Lisa di culik." ucap Nathan, begitu teleponnya di angkat.
Ferdinand terdiam saat mendengar kata-kata itu. "Datang ke rumah ku sekarang." ucapnya dengan ekspresi tak terbaca.
Alena melihat semua itu. Ia tahu, ada sesuatu yang terjadi. Ia mendekati Ferdinand.
"Ada apa mas?" tanyanya. Wajahnya sudah terlihat sangat cemas.
Secepat mungkin, Ferdinand mengatur ekspresinya dan tersenyum menenangkan.
"Tidak ada. Jangan khawatir. Istirahat lah. Ini hanya masalah pekerjaan." Ferdinand mengecup puncak kepala Alena dan beranjak pergi.
Ferdinand, tidak ingin Alena memikirkan hal ini dulu. Biar dia dan yang lainnya saja yang berpikir. Alena harus fokus pada penyembuhannya.
Saat Ferdinand keluar dari kamar utama, bertepatan dengan kedatangan Gerald. Ia pun turut mengajak Gerald. Gerald yang belum mengetahuinya pun, mengikuti Ferdinand ke ruang kerjanya.
Saat mereka memasuki ruang kerja Ferdinand, sudah ada Nathan dan Bimo di dalam. Tak berapa lama, Hendrik pun hadir di sana. Gerald hanya bisa menahan rasa ingin tahunya. Karena begitu mereka bicara, ia pasti akan tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Bimo segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video penculikan Lisa yang di dapatnya dari CCTV tadi.