
Alena dan Tania duduk berdampingan. Di hadapan mereka berdua, duduk Ardian dan Ferdinand. Ini, adalah makan siang paling menyenangkan untuk Tania. Sangat jarang, kedua orangtuanya serta ayahnya bisa berkumpul dan makan bersama dengannya.
Tania tahu kesibukan papinya yang sering melakukan perjalanan bisnis hingga ke luar negeri. Hingga Alena sang mami, menemani papinya itu dalam perjalanan bisnisnya. Begitupun dengan Ardian.
Sementara Lisa, sibuk dengan keluarga kecilnya. Sebenarnya, Lisa tidak masalah jika Tania ingin bertemu dengannya. Apalagi, Lisa memiliki seorang mertua yang begitu menyayanginya. Mertuanya pun tak segan menjaga keponakan Tania yang menggemaskan itu. Namun, terap saja Tania merasa sungkan. Terlebih, sebelumnya Lisa dan Tania sempat bersiteru.
Ingin berbincang dengan Mia pun tidak mungkin. Wanita itu saat ini sedang berbulan madu dengan berkeliling Eropa. Hah, rasanya sulit bagi dirinya untuk menemukan seorang teman untuk sekedar berbagi.
"Tania, kamu mau ikut mami?" Tania menatap ibunya dengan mata berbinar senang.
Gadis itu pun menoleh pada Ardian. Saat Ardian menganggukkan kepalanya, Tania pun tersenyum seraya mengiyakan ajakan Alena.
"Iya mi." ucapnya dengan senyum mengembang.
Alena pun mengelus rambut putri pertamanya itu dan membalas senyumnya. Kemudian, mengalihkan tatapannya pada suami tercintanya yang langsung memberikan persetujuan.
Usai makan siang, Alena dan Tania segera meninggalkan gedung perkantoran itu. Alena menuntun Tania berjalan ke mobilnya. Tania menawarkan diri untuk menyetir mobil. Dengan senang hati, Alena memberikannya.
Alena pun mengajak putrinya itu ke salon. Ia ingin menghabiskan waktu bersama kedua putrinya. Sebelumnya, Alena sudah mengirimkan pesan pada Lisa dan di sanggupi putri keduanya.
Sekarang, di sinilah mereka berada. Mereka melakukan treatment pijat, spa dan lulur seraya berbincang banyak hal.
"Tania, boleh mami bertanya sesuatu?" Tania yang hampir terpejam pun kembali membuka matanya dan menatap pada ibunya.
"Boleh." jawab Tania.
"Apakah kamu punya seseorang yang di sukai?" Tania menatap ibunya.
Lisa ikut menyimak dan ingin tahu perasaan Tania yang sesungguhnya. Lima menit berlalu, Tania belum juga mengatakan sesuatu.
"Tania..." lamunan Tania hancur. Hingga gadis itu menatap ibunya.
Perlahan Tania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia pun mulai membuka suara.
"Ada." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Mami tidak ingin papi dan ayahmu kembali menjodohkan mu. Kamu, berhak menentukan pilihanmu." ucap Alena sendu.
"Papi dan om Ardian ingin menjodohkan kak Tania dengan siapa mi?" tanya Lisa yang terkejut. Sementara Tania, mengerutkan dahinya mendengar penuturan maminya itu.
"Sepertinya, ayah dan papi ingin menjodohkan kakakmu dengan salah satu anak kolega mereka. Mereka sedang memilihnya." jawab Alena.
"Ya ampun..." Tania menepuk dahinya.
Alena tersenyum. Wanita paruh baya itu sangat tahu, betapa sayangnya Ardian dan ferdinand pada Tania. Apalagi, Tania sudah memasuki usia kepala tiga. Hingga membuat dua pria dewasa itu sedikit khawatir dengan masa depan putri sulungnya itu.
Akan tetapi, pengalaman Alena yang di jodohkan serta di paksa menikah dengan pria yang tidak di cintainya, membuat wanita itu mengambil keputusan untuk membebaskan putrinya menentukan pilihan.
Meskipun dirinya mengakui, jika pada akhirnya bisa mencintai Ferdinand suaminya dengan segenap hatinya. Tetapi, tidak selamanya kan akhir dari perjodohan itu bisa bahagia? Jika berakhir bahagia seperti dirinya itu tidak masalah. Namun jika sebaliknya, bukankah pihak yang menjodohkan akan merasa bersalah?
"Mami hanya ingin kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Jikapun pada akhirnya tidak bisa, maka mami akan tetap mendukungmu. Jadi, kamu boleh mengatakannya pada mami." ucap Alena dengan bijak.
Tania menggenggam tangan ibunya dan menitikkan airmata bahagia. Merasa sangat beruntung memiliki ibu sebaik Alena.
"I love you mam." ucap Tania tulus.
"Jadi, siapa orangnya?" kali ini, Lisa yang bertanya.
Tania mencebikan b****nya sebal. Lisa sepertinya sengaja mengatakan itu. Mau tidak mau, Alena pun merasa antusias ingin mengetahui hal itu.
"Gerald." ucapnya pelan sekali.
Karena tempat itu begitu sunyi, membuat Lisa dan Alena bisa mendengar ucapan Tania tadi. Lisa sudah mengulum senyum mendengar hal itu. Sementara Alena, membelalakkan matanya tak percaya. Tania segera menutup wajahnya dengan bantal.
"Jadi, kamu sudah jatuh cinta padanya?" tanya Alena antusias.
"Iya. Tapi, sepertinya dia masih mencintai wanita lain." wajah sendu Tania terlihat jelas di mata Alena dan Lisa.
"Kenapa kamu tidak melupakannya saja?" tanya Alena bingung.
"Mi, kak Tania dan aku sama. Dulu, kak Nathan itu calon suami dari almarhumah Elvira adik kandung kak Gerald. Sebelumnya, Lisa sudah menyukai kak Nathan. Tetapi, saat kak Nathan dan Vira menjalin hubungan, Lisa mencoba melupakannya. Namun, karena sebuah kecelakaan yang merenggut nyawanya, Vira meminta Lisa menggantikan posisinya. Jika bukan karena hal itu, mungkin sampai saat ini Lisa lebih memilih sendiri." ucap Lisa sambil mengenang awal pernikahannya dengan Nathan.
__ADS_1
Alena terkejut mengetahui hal itu. Ia tak menyangka, putri bungsunya mengalami hal seperti itu.
"Dan untuk menggeser orang yang kita cintai, itu tidak mudah." sahut Tania. Alena menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan kedua putrinya. Ia sangat tahu tentang hal itu. Karena dirinya pun mengalami hal yang sama.
"Mami tahu. Kenapa nasib perempuan di keluarga kita seperti ini?" lirih Alena. Ia memijit kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.
Melihat fakta yang terjadi, dimana dirinya dan kedua putrinya memiliki nasib percintaan yang hampir sama, membuatnya begitu sakit. Hingga dirinya kembali mengingat masa lalu dan mencari tahu kesalahan fatal yang pernah diperbuatnya.
"Sudahlah mi. Biar ayah dan papi, Tania yang urus. Mereka pasti akan mendengarkan Tania." ucap Tania seraya menggenggam jemari Alena.
"Iya mi. Mami gak usah memusingkan hal ini. Kak Tania pasti akan menemukan kebahagiaannya. Tugas mami hanya mendoakan kami." Lisa ikut menggenggam jemari Alena dia sisi lainnya.
Alena tersenyum mendapati ketegaran hati kedua putrinya. Dalam hati wanita itu berharap, Tuhan bersedia mendengarkan keinginan mereka. Agar kedua putrinya merasakan kebahagiaan.
Mereka pun selesai melakukan perawatan saat waktu sudah menunjukkan makan malam. Keluar dari salon, mereka menuju restoran terdekat untuk makan malam. Dan di sana, mereka kembali berbincang sambil bersenda gurau.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Hai genks.... Maaf ya baru update. Sungguh, aku lagi mager dan males ngetik beberapa hari ini. Padahal waktu senggang banget. Tapi begitulah, saat rasa males dan mager menghampiri, membuat aku benar-benar menjadi kaum rebahan.
Sekali lagi maaf ya genks. Terimakasih buat kalian yang terus mendukung aku. Jangan lupa tinggalkan like, dan komen kalian. Jika tak keberatan, hadiah atau votenya ya.
Mampir yuk di karya ku yang lain:
**1. My husband, my brother personal bodyguard
He ia my boy friend (chat story')
Affair with my boss (di platform ungu**)
Thank you all... I love you more .....πππππ
__ADS_1