
"Lo bukannya sebentar lagi bertunangan Tan?" tanya pria di sebelah kiri Tania.
Tania mengibaskan tangannya dan menenggak minuman di hadapannya. Gerald sudah berdiri beberapa langkah di belakang Tania.
"Gak usah bahas itu. Gue males." ucap Tania.
Kedua pria itu tertawa mendengar ucapan Tania. Terlepas buruknya perangai Tania, dia adalah teman yan cukup baik bagi mereka.
"Lo gak mau cerita sama kita?" tanya pria sebelah kanannya.
"Kalau gue cerita, Lo pasti belain cowok itu. Logikanya, kalian itu kan sejenis." ucap Tania sinis.
"A**** Lo kalau ngomong. Kalau dia salah ya tetap salah. Mana mungkin gue bela." pria di sebelah kanannya membela diri.
Tania kembali bungkam. Haruskah dirinya bercerita pada dua pria yang selalu menjaganya ini? Dua pria yang selalu ada saat dirinya kesulitan.
Ya, dua pria itu adalah sahabatnya sejak SMA. Mereka bahkan pernah menolong Tania dari para pria yang memanfaatkannya. Sama seperti Ardian, mereka pun menyayangi Tania.
"Udah, kalau Lo gak mau cerita, gak usah cerita. Simpan aja biar hati Lo jadi busuk." pria di sebelah kirinya menyindir.
Tania menatap tajam pada pria itu. "Lo berdua dari dulu kalau ngomong gak bisa di saring ya."
"Halah, Lo pun sama." ucap mereka bersamaan.
Gerald masih memperhatikan interaksi mereka. Dari sudut pandangnya, kedua pria yang bersama Tania, tidak akan berbuat macam-macam padanya.
Seorang pria yang pernah ingin membawanya dulu, menghampirinya setelah memastikan ayah gadis itu tak ada di sekitarnya. Ia merangkul bahu Tania.
Gerald menahan amarah melihat itu. Sementara, kedua pria tang duduk bersama Tania menatap pria itu tajam.
"Slow man. Gue cuma mau ngajak dia minum bareng aja kok." ucap pria itu.
"Lepasin tangan Lo dari pundak gue." ucap Tania sarkas.
Pria itu terkekeh pelan. "Santai sayang.." ia mencolek dagu Tania.
Gerald sudah berdiri dan akan menghajar pria itu. Namun kedua pria yang bersama Tania bertindak lebih dulu.
"Lo dengarkan dia bilang apa?" pria yang duduk di sebelah kanan menarik kerah baju pria yang bertindak kurang ajar itu.
"Santai bro.." pria itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Sekali lagi Lo cari masalah sama adik gue, Lo bakal kita habisin." ancam pria di sebelah kiri.
__ADS_1
Pria itu pun mulai terlihat pucat pasi. Rasa takut terlihat sangat jelas di wajahnya. Sepertinya, dia harus mengubur hasratnya pada Tania. Dengan langkah lebar, pria itu segera menjauh dari mereka.
Gerald kembali duduk. Ia memilih mengawasi calon tunangannya itu dari jauh. Bukan karena ia takut, namun ia merasa bersalah atas ketidak peka-annya pada Tania.
"Lo kenal cowok tadi?" Tania menggeleng.
"Jadi, kenapa dia berani mendekati Lo?" tanya pria di sebelah kirinya.
Tania mengangkat bahunya tak peduli. Ia malas meladeni pria brengsek seperti tadi. Berhubung sahabatnya tengah ikut berkumpul dengannya, ia bisa duduk santai tanpa perlu turun tangan.
"Cukup." pria di sebelah kanan Tania menarik gelas minumnya.
"Lo kan harus menyetir mobil?" imbuhnya.
"Gampang, cari supir pengganti saja." jawabnya enteng.
"Tidak. Pulang sekarang." perintahnya.
Pria di sebelah kiri Tania hanya terkekeh melihat kejadian itu tanpa melarang atau pun membela salah satu dari mereka.
"Ah, gak asyik Lo San." ucap Tania. Ia mengerucutkan b****nya.
"Biar saya yang antar dia pulang." sela Gerald.
"Saya calon tunangannya." Tania tak membantah. Ia membuang pandangannya ke arah lain.
"Diki, antar gue yuk." ucap Tania.
Pria bernama Diki menoleh. Tania segera melempar kunci mobilnya dan di tangkap oleh Diki.
Gerald terdiam. Ia memandang Tania dengan sendu.
"Sandy, gue duluan. Gue sudah malas di sini." ucap Tania pada pria yang menghalangi Gerald.
Tania dan Diki segera melaju meninggalkan keduanya tanpa menoleh ke arah belakang lagi. Gerald menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya.
Pria bernama Sandy menepuk pundaknya. Saat Gerald menatapnya, Sandy memintanya duduk dengan dagunya.
Gerald pun duduk di tempat Tania tadi. Selama lebih dari dua puluh menit, tidak ada di antara mereka yang berbicara. Mereka di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
"Jadi, Lo laki-laki yang akan bertunangan dengan Tania?" Gerald hanya mengangguk.
"Kelihatannya, Tania sangat marah sama Lo?" lagi, Gerald menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Tania memang sedikit kekanakan, tapi dia sangat baik."
"Dia juga keras kepala, tapi mudah luluh."
"Dia juga sangat mudah sakit hati, tapi mudah memaafkan"
Sandy pun memberitahu apa yang dia ketahui pada Gerald. Hingga Gerald menceritakan permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Tania.
Reaksi yang ia dapatkan, sama persis dengan reaksi Kenzi dan Mia tadi. Sandy terkekeh mendengar penuturan Gerald. Seketika wajah Gerald berubah merah menahan malu.
"Dia itu marah sama Lo. Dia minta pendapat Lo, tapi sedikitpun Lo tak memberikan pendapat. Tapi lo tenang aja. Gak lama lagi, dia pasti baikan. Asalkan Lo bisa membuat dia lebih baik. Untuk saat ini, jangan pancing emosinya dulu. Biarkan saja." Gerald semakin menundukkan kepalanya dalam.
"Sejak kapan kalian berteman?" tanya Gerald penasaran.
Sandy terlihat berpikir keras. "Entah lah. Mungkin sekitar sepuluh sampai dua puluh tahun yang lalu." ucapnya.
Gerald menganggukkan kepala. Pantas saja Sandy sangat mengenal Tania.
"Apa kau tidak pernah jatuh cinta pada Tania?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Gerald.
Sandy menoleh dan mengernyitkan dahinya memandang Gerald. Membuat Gerald salah tingkah.
"Lo mau tahu jawabannya?" Gerald mengangguk.
"Logikanya, hampir setiap persahabatan antara pria dan wanita adalah tidak mungkin. Salah satu di antara mereka, pasti menaruh hati. Bukan hanya gue yang jatuh cinta pada Tania. Diki pun sama. Tapi saat kami tahu, dia memilihmu, kami memutuskan untuk menjaganya." tutur Sandy.
Gerald merasa sedikit takut. Banyak pria yang menaruh hati pada gadisnya itu. Hingga membuatnya harus lebih berhati-hati, agar gadisnya tak berpaling darinya.
Tidak akan ku lepaskan semudah itu. Gerald, tunjukkan pada dunia, bahwa kau pantas untuk Tania. Dan buat Tania tak menyesal dengan keputusannya menikah denganmu. batinnya bermonolog.
Mereka pun kembali terdiam dan di sibukkan dengan berbagai macam hal yang mereka pikirkan.
πππππ
Hai genks, Bagaimana kabar kalian sehat ya genks. Terimakasih untuk kalian semua yang masih stay tune di cerita ini. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah meninggalkan jejak-jejak kalianπππ...
Terus dukung cerita ini ya genks....Dengan like, komen, dan vote atau hadiah. Love you all....
Semangat untuk kita semua....
Salam hangat dan penuh cinta,
Ruth89
__ADS_1