Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Pertengkaran Tania dan Gerald


__ADS_3

Di sebuah pusat perbelanjaan paling besar di Jakarta, seorang gadis tengah berkeliling. Mungkin gadis itu mencari sesuatu di sana. Hampir di setiap toko ia masuk dan melihat-lihat. Namun sepertinya, tidak ada yang menarik perhatiannya.


Hah... Gini nih, kalau gak punya pacar. gumam gadis itu dalam hati.


Ketika waktu sudah mendekati jam makan siang, ia pun mengubah haluannya ke restoran. Beruntung, ia mendapatkan meja kosong. Ia segera memesan makanannya. Sembari menunggu makanan di hidangkan, ia memainkan ponselnya.


"Boleh aku duduk di sini?" gadis itu terdiam. Ia merasa mengenal suara tersebut.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia merasa berhalusinasi.


"Tania..." Tania pun mendongakkan kepala saat namanya di panggil.


Memejamkan mata sesaat. Tania tak berani mengharapkan pria di hadapannya nyata. Tanpa pikir panjang pria itu pun duduk di hadapannya. Ia mengerutkan keningnya heran.


Tak lama kemudian, ia terkejut. "Ah, s*** rupanya kenyataan." rutuknya dalam hati.


"Kenapa? Kok kaget begitu? Saya bukan hantu kok." ucap pria itu.


Pelayan pun mendekati meja mereka dan mengantar pesanan Tania.


"Saya pesan yang sama seperti ini ya mba." ucapnya pada pelayan itu.


"Lo ikutin gue ya?" tanya Tania setelah pelayan pergi.


"Emangnya saya kurang kerjaan ikutin kamu?" ucapnya ketus.


"Terus, Lo ngapain di sini?" tanya Tania lagi.


"Kamu bisa gak sih, bicara sopan?" tanyanya.


"Hei.... secara usia, gue lebih tua dari Lo dua tahun ya." jawab Tania kesal.


"Tapi secara sikap, kamu terlihat dua tahun di bawah saya." ucap pria itu tak mau kalah.


Tania yang memesan steak, terlihat memotong daging di hadapannya dengan kesal. Raut wajahnya pun menunjukannya dengan jelas.


Dasar nyebelin.... umpatnya dalam hati.


Pelayan kembali menghampiri meja mereka dan memberikan pesanan pria itu. Kemudian dengan anggun memotong daging steak dalam piringnya. Setelah terpotong semua, ia menukarnya dengan milik gadis di hadapannya. Tania terbelalak melihat perlakuan pria itu.


"Makan." perintahnya.


Maksud Gerald apaan sih? Kenapa dia bersikap begini sih? Bukannya kemarin dia bilang gak mau di jodohkan sama gue ya? Terus kenapa jadi begini? gumamnya.


Tania masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan ingatannya melayang ke beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


*Siang itu, Tania membawa bekal makanan untuk papinya ke gedung Nasional Group milik keluarga Atmadja. Ia sudah bisa membuat beberapa hidangan. Sudah dua Minggu ini, Tania belajar memasak dengan Lisa.


Kini, ia ingin sang ayah menyicipinya. Sebelumnya, ia sudah pergi mengantarkan bekal makan siang itu ke kantor milik Ardian.


Tiba di depan ruangan Ferdinand, Tania baru ingin mengetuk. Namun, belum sempat ia mengetuk, terdengar pembicaraan dari dalam sana. Apalagi, pintu itu tidak tertutup rapat.


"Gerald, papi ingin sekali menjodohkan mu dengan Tania." ucap Ferdinand penuh harap.


"Pi, Gerald gak suka di jodoh-jodohkan." tolak Gerald.


"Kenapa? Tania juga cantik, pintar, baik." Ferdinand memuji Tania.


Tania merasa malu mendengar pujian itu drai balik pintu.


"Tapi Gerald gak cinta sama Tania." Gerald terus mencari alasan.


"Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu." ucap Ferdinand bijak.


"Lagi pula, Tania lebih tua dari Gerald." masih mencari alasan.


"Usia itu tidak menjadi penghalang. Banyak di luar sana yang istrinya bahkan lebih tua dari suaminya. Kamu tahu berita di mana ada seorang anak muda yang lebih pantas menjadi cucu dari seorang nenek, tapi justru menjadi suaminya kan?" Gerald menghembuskan nafas lelah. Ia memijit keningnya yang tak sakit.


"Pokoknya, Gerald gak akan menerima perjodohan ini." ucap Gerald tegas.


Ada kekecewaan di mata Tania saat mendengar ucapan Gerald tadi. Sesaat kemudian, ia di kejutkan dengan kedatangan Kenzi.


Tania mengelus d***nya. Kenzi terkekeh melihatnya. Kemudian ia membuka pintu ruangan itu dan menyuruh Tania masuk dengan isyarat kepala.


Tania pun memaksakan senyumnya dan masuk kedalam. Menyapa papinya sesaat dan duduk di sampingnya. Gerald terlihat menatapnya tanpa ekspresi. Kenzi pun keluar dari ruangan itu.


"Pi, Tania bawa bekal makan siang buat papi. Di coba ya." Tania menyodorkan bekal yang di buatnya.


"Wah, anak papi sudah mulai belajar masak sekarang?" ucap Ferdinand dengan senyum merekah di wajahnya.


"Iya Pi. Tania juga ingin seperti Lisa yang bisa segalanya." Ferdinand terkekeh.


"Kamu juga bisa belajar sama mami. Mami mu itu, juga jago masak loh." ucap Ferdinand.


"Beneran pi? Asyik... Nanti Tania bicara sama mami." mata Tania berbinar-binar mendengar ucapan Ferdinand.


Hal itu tak lepas dari pengamatan Gerald. Gerald yang tadinya menolak, entah mengapa merasa tertarik pada gadis itu saat ini. Apalagi, saat mata gadis itu berbinar-binar seperti itu.


Cantik. ucapnya dalam hati saat itu. Hingga ia menyadari, telah memuji gadis yang sudah ia tolak tadi dan merutuki dirinya sendiri.


Setelahnya, Tania berpamitan pada Ferdinand dan tak menghiraukan Gerald. Hatinya terasa sakit saat mendengar penolakan Gerald tadi.

__ADS_1


Padahal, ia pun tidak menyukai Gerald. Tapi entah kenapa, hatinya terasa pedih saat itu. Hingga ia tak ingin menyapa pria itu*.


Gerald sudah memanggil Tania lebih dari sepuluh kali. Namun Tania tak juga menyahut atau meresponnya. Hingga Gerald menyentuh tangannya, reflek Tania memukul tangan Gerald.


Gerald yang memiliki kulit putih pun, langsung mengusap tangan yang di pukul Tania tadi. Terlihat, kulitnya berubah warna menjadi kemerahan.


"Kamu bengong ya. Dari tadi saya panggil gak respon." ucap Gerald kesal karena tangannya yang di pukul tadi.


"Sorry... sorry... Gue gak sengaja." Tania meminta maaf.


"Lanjutkan makan mu." perintah Gerald.


Kenapa dia jadi suka perintah-perintah sih? dahi Tania berkerut mendengar ucapan Gerald.


"Kenapa lagi?" tanya Gerald ketus.


"Lo kenapa jadi perintah-perintah gue? Lo kan bukan siapa-siapa gue." jawab Tania marah.


"Bukan siapa-siapa bagaimana? Saya saudara angkat kamu kan?" Tania mendengus.


"Iya saudara angkat. Tapi Lo itu adik gue. Gak pantes kalau Lo seenaknya perintah gue kaya gini." protes Tania dengan nada kesal.


"Ya kalau kamu mau di anggap lebih dewasa, jangan bersikap kaya anak kecil." wajah Tania memerah menahan amarah.


"Gue mau bersikap seperti apa pun, tidak merugikan Lo. Jadi jangan sok mengatur hidup gue." Tania bangkit berdiri dan meninggalkan restoran itu.


Karena emosinya yang tengah meluap, ia sampai lupa membayar pesanannya dan pergi begitu saja.


Sepeninggal Tania, Gerald tersenyum.


Kamu lucu juga kalau lagi marah. Saya suka. batin Gerald.


Sedetik kemudian, Gerald menyadari sikapnya yang aneh.


Ya ampun, kenapa gue jadi muji-muji dia? Apa gue sudah gila? rutuknya pada diri sendiri.


Gerald menghabiskan makanannya dan membayar makanan itu. Setelahnya, ia kembali ke kantor.


🌹🌹🌹🌹🌹


Hai genks... Banyak yang protes nih aku upnya lama. Jujur saja aku ,pengennya crazy up. Tapi, mengingat cerita ini belum di kontrak, jadi aku masih slow update ya.


Maaf ya. Aku bukan mengutamakan penghasilan sih... Tapi, kan lumayan tuh. Kalau sudah di kontrak, akan ada penghasilannya. Doakan supaya cepat di review ya. Supaya bisa up minimal satu atau dua kali sehari.


Thank you genks buat kalian yang sudah mampir dan meninggalkan jejak..

__ADS_1


Love you all....😘😘😘


__ADS_2