
"Apa kau sungguh mencintaiku?" tanya Tania.
Setelah pernyataan Gerald beberapa menit lalu, kini mereka tengah berada di sebuah taman yang ada di dekat sana.
"Aku memang belum mencintaimu sepenuhnya." ucap Gerald jujur.
Tania menghela nafas. Matanya menatap langit yang sudah menjadi gelap. Tania sangat tahu betapa sulitnya membuka hati, disaat kita sudah terlanjur mencintai seseorang. Butuh waktu dan keinginan yang kuat dari diri sendiri untuk kembali membuka hati.
"Apa kau meragukan ku?" Gerald menatap Tania.
Tania terdiam. Meragukan? Tidak, dia tidak meragukan Gerald. Melihat sikap pria di sampingnya yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya, membuat Tania tak lagi meragukannya.
"Tidak." jawabnya singkat.
Tania menatap Gerald dan tersenyum. Terlihat ada kelegaan dari pancaran mata Gerald. Gerald pun menggenggam jemari Tania lembut. Pria itu membalas senyum Tania dengan senyum tulusnya.
"Kau tahu saat kau pergi ke luar negeri sebelumnya, aku sungguh merasa kehilangan arah. Karena saat itu juga, papi Ferdinand dan om Ardian mengatakan padaku bahwa pertunangan kita di batalkan. Jujur saja, aku sangat marah saat itu." Gerald menjeda ceritanya dan menunggu reaksi Tania. Namun wanita itu, masih setia menunggunya.
"Aku bertemu dengan Sandy dan Diki di club yang biasa kau datangi. Mereka lah yang memberitahuku semua tentang dirimu. Termasuk bagaimana dirimu mencintai Nathan."
Deg,
Jantung Tania serasa ingin melompat saat Gerald mengetahui rasa cintanya pada adik iparnya itu. Ia mencoba menguasai dirinya dan tetap dengan ekspresinya. Meski Gerald sudah menangkap ekspresi terkejut di wajah wanita itu.
"Tapi aku tahu, kau juga sedang belajar melupakan cintamu padanya. Atau mungkin, kau sudah melupakannya?" Tania masih terdiam.
"Aku masih belajar melupakannya. Meski rasa cintaku sudah mulai pudar sedikit demi sedikit." lirih Tania.
Gerald tersenyum menanggapi pernyataan Tania. Nyatanya, mereka berdua adalah dua orang yang saling membutuhkan dalam mengobati luka dari patah hati. Patah hati, akibat di tinggalkan orang yang mereka cintai.
"Kau ingin tahu siapa wanita yang ku cintai?" Tania menatap pada Gerald.
Satu sisi, wanita itu tak ingin tahu, namun sisi lainnya ingin sekali mengetahui siapa wanita itu. Meski sejujurnya, ia takut mengetahui kenyataan itu. Tania menggigit b***nya.
"Adikmu. Lisa." ucapan Gerald benar-benar di luar dugaan Tania.
Tania menatap ke dalam manik mata Gerald. Mencoba mencari kebenaran di sana. Nyatanya, dari sana terpancar kebenaran. Tak sedikit pun Tania melihat keraguan dari sana.
"Tapi aku tahu, aku harus melupakannya. Karena dia juga sudah bahagia dengan pilihannya." Tania mengangguk.
Malam itu, Tania dan Gerald pun membicarakan semua yang menjadi penghalang hubungan mereka. Gerald ingin, tidak ada lagi hal yang di tutupinya. Hingga malam semakin larut, Gerald pun mengantarkan Tania kembali. Setelahnya, Gerald kembali dengan taksi online.
*****
__ADS_1
Hari berganti hari. Minggu ini adalah hari pernikahan Bimo sepupu Lisa dan Tania. Mereka saat ini tengah berada di acara resepsi pernikahan kedua insan itu.
Bimo bergabung dengan Gerald, Nathan, dan Kenzi. Mereka mulai mempertanyakan hubungan antara Gerald dan Tania.
"Gimana, sudah bisa menembus hati Tania bos?" ini adalah pertanyaan dari Kenzi.
Gerald menganggukan kepalanya. Pria itu hanya tersenyum misterius pada ketiga pria di hadapannya yang sudah menjadi sahabatnya.
"Kapan kalian akan meresmikannya?" kali ini giliran Nathan yang bertanya.
"Doakan saja." ketiga pria itu terkekeh bersamaan.
"Kelihatan misterius sekali. Tapi menurut ku tidak akan lama lagi. Karena mereka terlihat semakin dekat." ucap Bimo.
Nathan dan Kenzi melihat Bimo yang melihat Gerald dan Tania yang saling melempar pandangan dan tersenyum. Kemudian, mereka menganggukkan kepala membenarkan ucapan Bimo.
*****
Tania dan Gerald sedang memilih berbagai macam souvenir untuk pernikahan mereka. Ya, setelah melakukan pertemuan dua keluarga, mereka sepakat akan langsung menikah.
Terkadang, perdebatan kecil terjadi antara mereka. Namun, itu tak menjadi masalah besar bagi mereka. Usai memilih souvenir, mereka beralih ke tempat wedding organizer yang menangani pernikahan mereka. Melihat tema yang akan mereka gunakan, serta cathering.
Setelahnya, mereka memilih makan bersama. Saat ini, matahari bahkan sudah kembali ke peraduannya.
"Bagaimana jika kita makan di sana." Gerald melihat ke arah tempat yang Tania tunjuk.
"Pinggir jalan? Apa tidak masalah? Bukankah itu tidak higienis?" tanya Gerald. Tania mengangguk pasti.
Pria itu terkejut mengetahui Tania tidak masalah dengan makanan pinggir jalan yang terlihat tak bersih.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa. Itu, kita makan pecel ayam di sana." Gerald pun mengarahkan mobilnya ke arah samping warung tenda yang Tania tunjuk.
Mereka pun turun dan masuk ke dalam warung itu. Tania dan Gerald duduk berhadapan. Pemilik warung itu ternyata sudah mengenal Tania.
"Eh, neng Tania. Sudah lama tidak ke sini?" sapa seorang pria yang terlihat sudah paruh baya dan kurus itu.
"Iya mang. Tania sibuk." ucapnya.
"Eleh-eleh Saha iye neng?" tanyanya dengan logat Sunda.
"Calon suami saya mang." bisik Tania.
"Wah, sudah mau nikah neng?" ucap pria itu terlihat senang.
__ADS_1
"Selamat atuh kalau begitu. Mamang doakan, semoga neng Tania bahagia. Amin." doa pria itu tulus.
"Amin." ucap Tania.
Gerald memperhatikan interaksi Tania dengan pria yang dipanggil oleh Tania mamang itu. Tania terlihat sangat akrab. Bahkan tania tersenyum tulus padanya. Ada satu kebanggaan tersendiri saat Gerald melihatnya.
"Oh iya neng, mau makan seperti biasa kan? Kalau si Aa makan apa?" tanya si mamang.
"Kamu makan apa? Mau lele atau ayam?" Tania bertanya pada Tania.
"Aku, mau coba lele." jawab Gerald.
"Lelenya satu ya mang." ucap Tania pada si mamang.
"Siap neng. Mari a." Gerald dan Tania menganggukkan kepala pada pria itu.
"Kamu sudah biasa makan di sini?" tanya Gerald setelah si pemilik warung tadi berlalu.
"Sudah. Sejak jaman SMA dulu." jawabnya.
Tak lama, makanan mereka pun sampai. "Silahkan neng, a." ucap si mamang.
"Terimakasih yah mang." ucap Gerald dan Tania bersamaan.
Mereka pun menikmati makanan di hadapan mereka. Gerald merasakan sensasi berbeda saat menikmati makanan itu. Tania tersenyum melihat Gerald begitu lahap memakan makanannya.
"Enakan?" goda Tania.
Gerald hanya mengangguk tanpa menjawab. Tania mengerti dan melanjutkan makannya. Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai menyantap makanan itu.
"Pulang sekarang?" tanya Tania.
"Ayo." jawab Gerald.
Gerald pun mengeluarkan dompetnya dan menghampiri pemilik warung tersebut. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan menyerahkannya pada pria itu dan mengucapkan terimakasih.
"Eh, a... Ini kebanyakan." panggil si mamang.
"Tidak apa mang. Itu rejeki. Di ambil ya." ucap Tania yang di angguki Gerald.
"Gak bisa atuh neng." mamang pun menghampiri Gerald dan Tania. Mengambil satu lembar uang itu serta mengembalikan kelebihannya.
"Ini baru benar." ucap si mamang benar.
__ADS_1
Gerald terkejut melihat kejujuran pria itu. Meski Gerald berniat memberi uang lebih karena rasa nikmat yang ia dapatkan tadi melebihi kenikmatan yang di sajikan restoran. Melihat kepuasaan di wajah si mamang, membuat Gerald tak bisa memaksakan kehendaknya.