
"Ayo masuk." ucap pria itu saat Mia menatap ke arahnya.
Dahinya berkerut. Sepertinya, ia mencoba menggali ingatannya tentang pria di hadapannya. Pria itu terkekeh dan keluar dari mobil yang di kemudikan nya.
"Aku Bimo." pria bernama Bimo itu mengulurkan tangannya.
Mia masih terdiam dan mencoba untuk mengingatnya.
Bimo? Sepertinya pernah dengar. Wajahnya juga terlihat familiar. ucap Mia dalam hati.
Bimo yang tak mendapat sambutan pun, menarik kembali tangannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur saja, sudah lebih dari tujuh tahun, dirinya tak pernah mendekati wanita. Yang ada, para wanitalah yang mendekatinya.
Hal inilah yang menjadikannya kaku dalam bersikap pada wanita. Selain itu, menjadi faktor kegagalan dalam menjalin hubungan.
Bukan karena Bimo tak tampan, atau tak memiliki uang. Akan tetapi, semua wanita yang menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dengannya, merasa sama saja dengan menjadi temannya.
Tidak ada perbedaan sikap yang di tunjukkan pria tampan itu antara teman dan kekasih.
"Sepertinya kau lupa pada ku. Aku sepupu Lisa dan Tania." seketika, Mia menyadarinya.
Mereka memang baru bertemu saat makan bersama di kediaman Atmadja beberapa waktu lalu. Lagi pula, saat acara itu berlangsung, pikiran Mia tengah fokus pada Kenzi.
"Maaf, aku lupa." Mia merasa tidak enak hati.
"Tidak apa. Itu wajar. Lagi pula, saat acara kemarin, kita tidak banyak berinteraksi." Bimo bersandar pada mobilnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"By the way, kok bisa lewat sini?" tanya Mia.
"Ah, tadi baru bertemu klien di restoran sana." Bimo menunjukkan restoran yang ada di dekat kantornya. Ia mengangguk mengerti.
"Jadi, mau ku antar?" tanya Bimo lagi.
"Tidak usah, biar aku naik busway saja." tolak Mia.
"Oke." Bimo tersenyum dan berputar memasuki mobilnya.
"Kalau begitu, sampai jumpa." ucapnya.
Setelah itu, Bimo benar-benar melajukan mobilnya dan meninggalkan Mia. Gadis itu sampai membelalakkan mata tak percaya, melihat pria yang adalah sepupu dari sahabatnya.
Baru tahu gue ada cowok begitu. Di tolak, ya sudah. Ckckck.... gumam Mia.
Akhirnya, Mia melanjutkan langkahnya menuju halte busway. Ia kembali teringat kejadian di lobi.
__ADS_1
"Gue mau pulang sama orang yang gue suka. Dan itu Kenzi." ucapan Tania tadi, kembali terngiang.
Saat ia masih menunggu busway, hujan mulai turun. Sepertinya, Tuhan tahu hatinya yang tengah bersedih. Hingga membiarkan langit menumpahkan hujan.
Gak ada harapan lagi. Entah apa yang di jawab Kenzi di sana. Jika dia menerima Tania, maka gue gak bisa melarang atau marah. Siapa gue di hati Kenzi? Dia cuma anggap gue teman baiknya! Mia, ayo Mia.... lupakan Kenzi ..
Mia mulai menitikkan airmatanya. Namun ia segera menghapusnya. Dirinya tak ingin menjadi bahan gunjingan jika orang-orang melihatnya menangis.
*****
Di lobi National Group
"Maaf nona Tania, saya harus menolak anda." ucap Kenzi tegas.
"Kenapa?"
"Apa kamu punya kekasih?" Kenzi menggeleng.
"Jadi, kenapa kau menolak ku?" suara Tania terdengar menahan geram.
Tanpa peduli keinginan Tania lagi, Gerald menarik tangan Tania. Tania sempat menahan tubuhnya, hingga mereka terlihat seperti tengah tarik-menarik.
"Gerald lepas." Tania mencoba berontak.
"Diam." Gerald menatap tajam pada Tania.
"Hah... Ada-ada saja. Ayo Mi." ucap Kenzi yang tak menyadari, jika Mia sudah tidak di sana sejak tadi.
Begitu menyadarinya, Kenzi menggaruk pelipisnya dengan satu jarinya. Kenzi melanjutkan langkahnya menuju mobil. Begitu ia masuk ke dalam mobil, ia mencoba menghubungi nomor telepon Mia.
Beberapa kali ia mencoba, namun nomor Mia selalu berada di luar jangkauan. Kenzi mendesah lelah.
"Mia kenapa sih? Masa iya ngambek? Ahhh... Gak tahu deh...." gumamnya sendiri.
Kenzi merasa kepalanya teramat pusing. Apalagi, saat Tania mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Tidak tahukan Tania, Gerald bisa membunuhnya karena masalah ini?
*****
Tania duduk di bangku penumpang samping Gerald. Ia bersidekap dan membuang pandangannya keluar.
Gerald masih mengatur emosi yang sempat terpancing oleh sikap Tania tadi. Berkali-kali Gerald menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Mau jalan tidak. Gue mau pulang nih " ucap Tania ketus saat mobil Gerald, tak jua meninggalkan pelataran parkir.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Tania mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Gerald.
Memang gue ngapain? ucapnya dalam hati.
Tania tak menoleh sedikitpun. Namun, bulu kuduknya terasa berdiri. Ia tahu, saat ini Gerald tengah menatapnya tajam tanpa ekspresi.
"Kenapa diam?" tanya Gerald lagi.
"Emangnya, gue ngapain?" Tania balik bertanya.
"Kamu sadar gak, kamu itu wanita tapi kamu rela menjatuhkan harga dirimu sendiri dan mengucapkan kata cinta pada pria?" suara Gerald mulai meninggi.
Tania ketakutan. Ia tak pernah menyangka, Gerald bisa marah seperti ini.
Tunggu, gue gak bilang cinta kok ke Kenzi. Gue cuma bilang suka. Kenapa dia menilai gue begitu? sayangnya Tania tak mengeluarkan opininya, dan hanya ia pendam dalam hatinya.
"Gak ada salahnya kan? Zaman sekarang, cewek juga banyak begitu." entah mengapa, jawaban itu keluar dari mulutnya.
Tania sadar, ia sudah kelepasan bicara. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Gerald mencengkeram roda kemudinya dengan kuat. Sepertinya, Tania menguji dirinya.
Apa kurang jelas, perhatian yang diberikannya pada Tania? Tidak bisakah Tania melihat, jika Gerald mulai menyukainya? Gerald menyugar rambutnya kasar.
Tanpa kata, ia melajukan mobilnya. Ia mengendarai mobil itu, dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. Tania merasa bingung dengan kesalahan yang di buatnya.
Gue salah apa sih? Kenapa dia kelihatan marah banget.
Tiba di rumah Ardian, Tania segera keluar tanpa diminta. Begitu Tania sudah menjauh, Gerald memutar mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Rasanya, ingin dia berteriak menyatakan rasa yang sudah bertumbuh di hatinya. Namun apa daya, kata-kata itu seakan tersangkut di tenggorokannya dan tak bisa terucap.
Dengan menahan perasaan dongkol yang tercipta di hatinya, Tania memasuki rumah mewah milik sang ayah.
Tania merebahkan tubuh lelahnya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Gak mungkin kan dia suka sama gue? Bukannya dia nolak dijodohkan dengan gue? Ah... jadi pusing." Tania memutuskan untuk mandi dan membersihkan tubuhnya.
Saat ini, Tania tak ingin memikirkan hal itu. Lebih baik, ia biarkan saja masalah ini mengalir seperti air.
πππππ
Malam genks.... bagaimana kabar kalian.. Kira-kira, Tania lebih cocok dengan siapa ya? Apa Tania akan menyadari rasa yang ada pada Gerald untuknya?
Bagaimana dengan Kenzi dan Mia? Belum lagi, kehadiran Bimo.
Akan kah semua berakhir bahagia? Tetap tunggu cerita selanjutnya ya. Jangan lupa like, komen, dan vote ya....
__ADS_1
Thank you all...
π