Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Lost Memory


__ADS_3

Setelah melihat video itu, Ferdinand tahu, jika pelakunya adalah sang kakak. Ardian sengaja memperlihatkan jejaknya.


Gerald yang melihat kejadian itu, mencengkeram kemeja Nathan dengan erat. Ia pun tak segan-segan menunjukkan amarahnya. Nathan bergeming. Ia tak mengelak ataupun melawan Gerald. Ia menyadari kesalahannya.


"Kau.... Dasar b*******" pekik Gerald. Ferdinand, Hendrik dan Bimo berusaha melepaskan Nathan dari Gerald.


"Gerald, tenangkan dirimu. Jangan sampai mami mu mendengar hal ini" Gerald menatap Ferdinand.


"Mami belum tahu?" tanyanya. Ferdinand hanya menggelengkan kepalanya.


"Dengar... jika sampai terjadi sesuatu pada Lisa, kau akan tahu akibatnya." ancam Gerald.


"Ge... ini bukan salah Nathan...." Bimo yang mencoba membela Nathan tak bisa melanjutkan ucapannya karena Nathan lebih dulu mencengkeram lengannya. Hingga Bimo menoleh dan melihat Nathan menggelengkan kepalanya.


Bimo hanya menghela nafas melihat adegan ini. Ia memijit pelipisnya. Satu sisi, ia tahu betul bagaimana perasaan Nathan. Tapi di sisi lain, ia memaklumi perbuatan Gerald.


Gerald yang masih menyimpan amarahnya, lebih dulu meninggalkan ruangan itu. Ferdinand hanya memejamkan mata. Menanggapi masalah ini, tak bisa dalam kondisi emosi menurutnya. Jika itu terjadi, lawannya akan sangat senang.


*****


Ardian tengah menikmati teh di balkon kamarnya saat Tania menemuinya.


"Ayah..." panggilnya. Ardian menoleh dan tersenyum pada putrinya.


"Kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam loh." ucap Ardian lembut.


"Aku gak bisa tidur." jawab Tania seraya bergelayut manja di lengan Ardian.


"Masih kesal dengan kejadian kemarin?" tanyanya lembut. Tania mengangguk.


"Sudah ayah bereskan. Tenang saja." Tania menatap wajah ayahnya tak percaya.


"Benarkah? Ayah gak bohong kan?" tanyanya.


"Apa ayah pernah berbohong?" ucap Ardian sendu. Tania menggeleng. Senyumnya pun terbit.


"Terimakasih ayah.. I love you." Tania memeluk Ardian dan mengecupnya senang. Ardian hanya tertawa melihat tingkah sang putri.


Setelah Tania tak lagi terlihat, senyumnya menghilang berganti dengan raut penuh kebencian.


*****


Ferdinand segera mencari cara untuk menyelamatkan putrinya. Entah mengapa, pikirannya kali ini terasa buntu. Ia tak punya ide sedikit pun.


Mereka kini tengah berdiskusi. Mencari jalan keluar tanpa harus melalui baku hantam. Sebisa mungkin menyelesaikan masalah ini sampai tuntas tanpa melibatkan pihak kepolisian.

__ADS_1


Mereka dikejutkan dengan ponsel Ferdinand yang berbunyi. Ferdinand mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


Ketika ia melihat nama Ardian, tanpa pikir panjang ia mengangkatnya dan me-loudspeaker nya, agar semua yang ada di sana mendengar ucapannya.


"Ardian..." ucap Ferdinand.


"Adik tercintaku."


"Bagaimana kabarmu?" ucapnya basa basi.


"Tidak usah basa basi. Apa mau mu?" terdengar suara tawa Ardian dari ponsel itu.


"To the point sekali."


"Baiklah. Tidak banyak."


Mereka tak merespon dan berusaha fokus pada ucapan Ardian.


"Aku ingin melihat kedua putrimu saling membunuh." Ferdinand mengernyit.


Kedua putriku? pikirnya.


"Apa maksudmu?"


"Putriku hanya Lisa." ucap Ferdinand.


Tidak hanya Ferdinand yang merasa bingung. Hendrik, Bimo dan Nathan pun ikut merasakan kebingungan.


Setelah berpikir cukup lama, Ferdinand teringat akan putri pertamanya yang hilang. Bertepatan dengan itu, hendrik pun mengingat kejadian itu.


Tiga puluh tahun yang lalu, Alena baru saja melahirkan di rumah sakit milik keluarga Atmadja. Alea dan Hendrik, hadir di sana. Kebahagiaan tengah melingkupi keluarga itu.


"Kapan bayi kalian akan di bawa kesini?" tanya Alea.


"Mungkin sebentar lagi. Sedang di observasi lebih dulu." jawab Ferdinand.


Mereka pun bersenda gurau. Sesekali, mereka menggoda adik Bimo, Clarissa. Bocah itu kini berusia tiga tahun. Bimo sendiri, saat itu tidak ikut ke sana.


Sudah lebih dari tiga jam, namun bayi mereka tak kunjung di antarkan pada mereka. Seorang perawat masuk dengan tergesa ke dalam ruang rawat VIP itu.


"Ada apa sus?" tanya Ferdinand saat perawat itu masuk ke ruangan.


Perawat itu menghampiri mereka dan menundukkan pandangannya. Tubuhnya bergetar ketakutan.


"Ma-maaf tuan. Bayi anda, di culik." ucap perawat itu.

__ADS_1


Ferdinand membelalakkan matanya tak percaya. Dengan tergesa, ia melangkahkan kaki menuju ruang CCTV. Tiba di sana, ia menggeram marah mengetahui CCTV sudah di rusak sebelumnya. Alena tenggelam dalam kesedihan setelah itu. Bertahun-tahun mereka berusaha mencari keberadaan putri kecil mereka, namun nihil. Anak itu tak pernah di temukan. Hingga kehadiran Lisa dalam rahim Alena, sedikit mengobati rasa kehilangan mereka.


Ferdinand tercengang mengenang memori itu. Ia benar-benar melupakan kejadian itu. Lalu, apakah Ardian ada hubungannya dengan kejadian hilangnya Putri pertamanya?


Sepertinya begitu. Jadi, apa maksudnya Lisa akan saling membunuh dengan anak pertamanya? Apa Ardian mengetahui keberadaan putrinya itu?


"Sepertinya, putri pertamamu ada bersama Ardian." ucap Hendrik. Ferdinand hanya berdeham membenarkan ucapan itu.


"Tunggu, mungkin aku bisa bertanya pada Tania." seketika, Hendrik, Bimo dan Ferdinand menatap Nathan.


Tania....


Entah mengapa, Ferdinand seperti kembali menggali masa lalunya. Gadis itu, memiliki kemiripan dengan dirinya.


Pintu ruangan itu kembali terbuka. Jantung mereka sempat berpacu, sebelum melihat orang yang masuk ke sana. Saat melihat Gerald kembali, mereka menghembuskan nafas lega.


"Mami sudah tidur. Aku sudah memastikannya."


"Jadi, apa sudah ada petunjuk baru?" tanya Gerald setelah duduk di samping Ferdinand.


"Gerald, apa kau ingat Tania?" Gerald terlihat berpikir.


"Maksud papi, Tania Putri om Ardian?" Ferdinand mengangguk.


"Tunggu, apa hubungannya penculikan Lisa dengan om Ardian?" sesaat kemudian ia menyadari, jika ini semua pasti ulah omnya.


"Tania tidak akan memberi informasi apapun. Dia akan memilih bungkam." ucap Gerald selanjutnya.


"Bukan itu. Maksud papi, apa kau ingat, dulu kau pernah mengatakan jika Tania mirip dengan papi." ucap Ferdinand.


Saat di usia remaja dulu, Gerald dan Tania sempat dekat. Gerald melihat ada kemiripan antara Ferdinand dengan Tania. Ia pun menyampaikannya pada Ferdinand. Namun Ferdinand mengatakan, mungkin karena dirinya, masih om kandungnya. Sejak itu, Gerald tak lagi mempermasalahkan nya.


Gerald pun mengangguk setelah mengingat peristiwa itu. Ferdinand mendesah.


"Dari segi mana kau menilai kemiripan kami." tanya Ferdinand.


"Cara dia berbicara dan wajah kalian juga terlihat mirip. Dengan Lisa pun terlihat sedikit kemiripannya." jawab Gerald.


"Tapi Lisa selalu menghindarinya. Bahkan terlihat memusuhinya." imbuh Nathan.


Ferdinand mendesah lelah. Kini ia mengerti maksud dari Ardian. Tapi kini, ia butuh bukti jika Tania adalah putri kandungnya dan Alena.


Kenapa dirinya begitu b****, tak mengingat jika Ardian sama sekali tak menikah? Bagaimana bisa ia memiliki seorang putri? Meski menurut pengakuan Ardian, ia sempat menghamili seorang wanita. Setelah melahirkan, kondisi wanita itu melemah dan menyerahkan bayi itu padanya.


Ardian juga memiliki akses masuk ke rumah sakit keluarga Atmadja dengan bebas seperti dirinya. Ia menyesal baru mengetahui hal ini.

__ADS_1


Saat ini, ia butuh membuktikan, jika Tania putrinya. Tapi, bagaimana caranya?


__ADS_2