
Cukup lama mereka berpikir dan mencari cara untuk membuktikan hubungan darah antara Ferdinand dengan Tania. Sayangnya, mereka belum juga menemukan jalan keluar.
Nathan segera mengambil ponselnya. Jika ia beruntung, nomor ponsel Tania seharusnya masih tersimpan. Dan semoga, nomor itu masih aktif.
Ferdinand yang duduk di samping Nathan melihat semua itu. Sebelum Nathan melakukan panggilan, Ferdinand lebih dulu menghalanginya.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanyanya.
"Aku akan mencoba bicara dengannya. Setelah mencoba mengambil sample DNA nya." jawab Nathan.
Ferdinand mendesah. Bukan dirinya tak memikirkan hal itu. Hanya saja, benarkah Ardian akan diam saja, ketika dirinya sudah mengatakan tentang putri pertama nya yang hilang sejak baru lahir? Yang ia takutkan adalah kejadian setelahnya.
"Bukannya aku tidak memikirkan hal itu."
"Tapi, apa kau tidak berpikir hal yang terjadi selanjutnya?" Nathan mengerutkan dahi menangkap maksud Ferdinand.
Ketika ia menyadarinya, ia mendesah lelah. Kenapa tidak terpikirkan olehnya akibat yang akan terjadi? Nathan pun memijit pelipisnya.
"Satu-satunya cara adalah menemui Ardian lebih dulu." Hendrik angkat bicara. Mereka menatap Hendrik.
"Kau benar." timpal Ferdinand.
Ya, ini adalah cara terbaik. Jika mereka sibuk mencari tahu tentang siapa Tania, maka Lisa akan terabaikan selama beberapa hari. Dan selama itu pula, kemungkinan terburuk akan terjadi.
Lisa menjadi prioritas mereka saat ini. Setelah keamanan Lisa terjamin, baru mereka bisa mencari tahu tentang siapa Tania. Mereka pun sepakat melakukan hal ini.
*****
Keesokkan harinya, Ferdinand mendatangi kediaman Ardian. Ardian sedikit terkejut dengan kehadiran Ferdinand. Tepat di saat itu, Ferdinand melihat Tania bergelayut manja di lengan Ardian.
Tania tak mempedulikan kehadiran Ferdinand. Entah mengapa, d*** Ferdinand terasa berdenyut perih. Ia merasa sesak sesaat. Haruskah ia membawa Alena melihat Tania? Ia yakin, Alena akan memiliki ikatan batin dengan Tania.
Tunggu....
Bukankah belum ada kepastian tentang siapa Tania? Mengapa logikanya seakan kalah dengan perasaan yang kini tengah ia rasakan? Ataukah semua itu benar?
"Ada urusan apa kau ke sini?" Ardian memulai percakapan diantara mereka.
Seketika, Tania ikut menatap ke arah Ferdinand. Entah mengapa, ia terpaku saat melihatnya. Padahal, ini bukan kali pertama ia bertemu dengannya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara?" ucap Ferdinand tanpa ekspresi. Sebenarnya, Ferdinand menekan semua ekspresi yang ingin ia tunjukkan.
"Bicara saja. Tidak ada rahasia, antara aku dan putriku." Ardian menekankan kata 'putriku' di akhir ucapannya.
Mendengar ucapan Ardian, ada rasa tak terima dalam diri Ferdinand. Airmata seakan mendesak ingin keluar. Namun sekuat tenaga ia tahan. Sementara Tania hanya menyimak pembicaraan itu.
"Kemana kau membawa Lisa pergi?" terlihat jelas keterkejutan di mata Tania, yang di tangkap oleh penglihatan Ferdinand.
Sepertinya, Ardian belum memberitahu Tania mengenai itu.
"Apa pun akan aku lakukan untuk putriku tercinta." Ferdinand menangkap seringai jahat dari wajah Ardian. Yang dalam hitungan detik, langsung ia rubah, karena Tania melihatnya.
"Ah... ayah....." Tania memeluk Ardian. Dan lagi-lagi, hal itu menggores hati Ferdinand.
"Apa yang kau inginkan." kali ini, Ferdinand tak bisa lagi menahan air matanya.
"Tidak banyak, hanya kebahagiaan untuk putriku." Ardian terlihat menatap penuh permusuhan pada Ferdinand.
"Katakan." ucap Ferdinand.
Ardian menegakkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu yang tak bisa Ferdinand dengar ke telinga Tania. Hingga Ferdinand dapat melihat, Tania mengangguk dan beranjak pergi. Melihat gadis itu pergi, hatinya berontak ingin menahannya.
Ardian melihat Ferdinand menatap kerinduan pada Tania. Ia menatap puas melihat itu.
Apakah rasanya menyakitkan, ketika orang yang kau sayangi tak mengenalmu? Itulah yang ku rasakan saat Alena berpura-pura tak mengenalku. Meski aku bisa melihat sorot matanya yang mengatakan maaf. Kau yang merebutnya dari ku. geram Ardian dalam hati.
"Kenapa kau melihat putriku seperti itu?" tanya Ardian, memutus khayalan Ferdinand.
"Dia putriku." ucap Ferdinand tegas. Ia menatap tajam pada Ardian.
Ardian tertawa. "Atas dasar apa kau menyebutnya putrimu? Kau punya bukti?"
Mendengar ucapan Ardian, membuat Ferdinand yakin, jika Tania adalah putrinya yang hilang.
"Akan ku buktikan." ucap Ferdinand.
"Tapi, sebelum hal itu terjadi, kau akan kehilangan putrimu yang lain." ucap Ardian setengah berbisik.
Ferdinand menatap marah pada Ardian. "Apa alasan mu melakukan ini?"
__ADS_1
"Apa salahku padamu?" ucap Ferdinand frustasi.
Semalaman Ferdinand mencoba menggali masa lalunya. Mencoba mencari tahu kesalahan yang dia perbuat, hingga membuat Ardian marah.
Sayangnya, ia tak menemukan apa pun. Hingga keputusan yang sudah di sepakati sebelumnya, ia lakukan. Sementara Ferdinand tengah menemui Ardian, Hendrik dan yang lainnya mencoba mencari Lisa.
*****
Nathan tak bisa berpikir dengan jernih. Bayangan buruk seolah menari indah dalam benaknya. Ia mendesah frustasi. Sudah lebih dari tiga jam mereka mencoba melacak keberadaan Lisa. Namun semua terasa sia-sia.
"Kamu dimana sayang?" gumamnya.
Gerald yang mendengar ucapannya mencibir dalam hati. Kau yang membuat Lisa hilang. Kau, sungguh tidak pantas mendampingi Lisa.
Bimo terus mengotak Atik laptop miliknya dan mencoba meretas CCTV rumah Ardian. Hingga senyumnya terbit setelah berjibaku lebih dari tiga jam.
Ia memperlihatkan semua ruangan yang tertangkap CCTV. "Lihat."
Serentak, Hendrik dan yang lainnya melihat laptop itu. Mereka memperhatikan satu persatu ruangan yang tersorot CCTV.
Setelah menelitinya, mereka tidak menemukan Lisa di ruangan manapun. Mereka pun menarik kesimpulan jika Lisa tidak di sekap di rumah itu. Lagi-lagi, mereka gagal. Hendrik mengirimkan pesan ke ponsel Ferdinand. Jika mereka tidak menemukannya di rumah itu.
*****
"Kau ingin tahu salahmu?" ucap Ardian sinis.
"Kau, merebut wanita yang aku cintai."
Ferdinand memicingkan mata menatap Ardian. Ia bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang Ardian maksud? Selama hidupnya, hanya Alena lah yang bertahta di hatinya. Dan setahunya, Alena pun begitu.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Ferdinand.
"Kau tahu, aku sangat mencintainya. Aku rela melakukan apapun untuk dirinya. Aku, selalu menjaga dan melindunginya. Tapi, saat kau datang, ia seakan melupakan semua yang ku lakukan padanya. Bahkan, seolah tak mengenal diriku. Kau tahu seperti apa sakitnya hatiku? Kau.... Merebutnya dari ku." baru kali ini, Ferdinand melihat Ardian menampilkan emosinya.
Sejak kecil, Ardian tak pernah terlihat emosional. Ia bahkan tak tahu siapa wanita yang di maksud Ardian.
"Belum cukupkah semua perhatian kau curi? Sejak kau lahir, hingga saat ini, hanya dirimu yang di perhatikan mama dan papa. Aku berusaha untuk tidak iri. Tapi saat wanita yang ku cintai kau rebut, aku sudah berniat menghancurkan mu berkeping-keping." pekik Ardian.
Ferdinand bisa melihat luka dalam mata Ardian.
__ADS_1