
Pada akhirnya, Bimo dan Stevi tak mengikuti acara yang Lisa dan Nathan adakan. Bimo menarik lengan Stevi. Stevi mengikuti langkah Bimo.
Lisa dan Nathan menatap bingung pada kedua orang yang meninggalkan acara itu. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak mereka. Lisa kembali dari lamunannya, sata mendengar suara baby Tama yang menangis.
Baik Nathan maupun Lisa, segera menghampiri para orangtua yang sedang memperebutkan bayi mungil itu hingga menangis. Sejak kehadiran baby Tama, Lisa sangat jarang memegang putra kecilnya itu.
Baby Tama, lebih sering diasuh oleh kakek dan neneknya. Terkadang, muncul dalam benak Lisa untuk membawa baby Tama pergi jauh. Namun, itu tidak akan mungkin terjadi.
"Sudah, tenang saja. Kamu sudah siapkan ASIP nya kan?" Nindya segera melarang Lisa mendekat, begitu langkah Lisa hanya tersisa dua langkah.
"Iya ma. Ada di kulkas kamar." mau tak mau, Lisa dan Nathan merelakan baby Tama bersama para orangtua.
*****
Di mobil, Bimo masih menatap wajah Stevi lekat. Hingga membuat Stevi salah tingkah. Wajahnya sudah memerah malu, akibat tatapan Bimo.
"Mau sampai kapan kamu melihatku seperti itu?" tanya Stevi tanpa memandang Bimo.
Bimo tersenyum. Entah mengapa, wajah Stevi semakin menggemaskan di mata Bimo. Stevi melirik pria tampan itu dengan sudut matanya.
Rasanya, Bimo tak pernah bosan menatap gadis di hadapannya itu. Seakan, tak ingin gadis itu menghilang lagi.
"Bagaimana jika aku melamar mu?" ucap Bimo.
Deg....
Stevi terkejut. Ia tak bisa bereaksi dan hanya terdiam. Hatinya kembali terasa sakit, kala mengingat dirinya telah di jodohkan. Boleh kah ia egois kali ini?
"Kamu terlambat Bim." lirih Stevi. Wajahnya semakin menunduk dalam.
Wajah Bimo pias saat mendengar ucapan Stevi. Darah seakan surut dari wajah tampannya. Terlihat jelas kekecewaan di wajah Bimo.
"Apa, sudah ada yang..." belum sempat Bimo menyelesaikan ucapannya, Stevi memotongnya.
"Ya." Stevi menantang mata Bimo. Ia memberanikan diri menatap Bimo. Bahkan, sekuat tenaga Stevi menghalau airmata yang ingin mendesak keluar. Juga, mengatur suaranya agar tak bergetar.
__ADS_1
Bimo mengusap wajahnya kasar. Kali ini, hatinya terasa sakit. Dulu pun, gadis yang di cintainya memilih menikahi jodoh yang di siapkan orangtuanya.
Kali ini, pria itu kembali merasakan sakit hati karena penolakan. Jika saat Mia memilih untuk mengakhiri pertunangan mereka Bimo tak merasa sedih, maka kali ini hatinya terasa hancur tak berkeping-keping.
"Tak bisakah kau menolaknya?" tanya Bimo.
Stevi menggeleng. Entah berapa kali ia mengatakan tidak pada ayahnya. Sebelumnya, ayahnya akan langsung mempertemukannya dengan para pria yang menginginkannya tanpa peduli status mereka, kali ini Stevi tak di pertemukan dengan pria itu.
Yang membuat Stevi heran adalah yang melamarnya justru ayah dari pria yang belum di kenalnya itu.
"Apa dia lebih baik dariku?" Stevi menatap sendu pada Bimo.
"Jika bisa, aku pasti akan memilihmu Bimo." ucap Stevi.
"Lalu kenapa kau tidak memilih ku?" tanya Bimo frustasi.
"..." Stevi tergugu. Ia tersedak oleh airmata yang telah mengalir di pipinya.
Bimo serba salah. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
*****
Sejak bertemu Bimo pertama kali, ia sudah jatuh hati. Ia membayangkan sebuah pernikahan yang begitu romantis dan indah. Dengan dekorasi yang di penuhi berbagai macam bunga, dan di hadiri oleh keluarga dan sahabat dekat saja. Tersenyum menyambut kedatangan suaminya kelak setelah pulang bekerja.
Sayangnya, semua impian itu hancur seketika saat ayahnya mengatakan ia sudah di jodohkan. Sudah lebih dari lima pria yang di jodohkan padanya ia tolak. Kali ini, ia tak bisa menolaknya. Tampaknya, ayahnya begitu menyukai pria itu meski mereka belum bertemu.
Tuhan, aku sungguh ingin lari dari kenyataan ini. Hatiku sakit melihat kepedihan di wajah itu untuk yang kedua kalinya. Ku mohon, beri aku jalan keluar dari masalah ini.
Entah sudah berapa lama ia menangis. Hingga ia merasa lelah dan tertidur. Saat ia bangun, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia terbangun dengan keadaan perut yang meronta minta di isi.
Stevi menuju dapur dan mencari makanan. Beruntung, masih ada lauk pauk yang bisa ia makan.
*****
Hari Minggu pun tiba. Nadia sudah di sibukkan dengan berbagai macam hidangan untuk menjamu tamu sejak pagi tadi. Berbagai macam dessert pun sudah tersedia di sana.
__ADS_1
Rencananya pria yang akan melamar Stevi akan datang tepat pukul sebelas. Satu jam sebelum makan siang.
Sejak pagi, Stevi terus merasa gelisah. Ia merancang banyak kata untuk menolak perjodohan ini. Seorang juru rias pun tiba dan masuk ke kamarnya.
Stevi tertegun sesaat. Bukankah ini hanya pertemuan? Kenapa harus di rias segala? pikirnya.
Stevi tak lagi protes saat melihat tatapan tajam ayahnya dari ambang pintu. Ia pun duduk di depan meja rias.
Tepat pukul sebelas, suara mobil berhenti tepat di halaman rumahnya. Stevi yang sudah selesai di rias, semakin gugup. Keringat dingin sudah membasahi punggung belakangnya.
Nadia ibunya masuk dan mengajak Stevi turun. Tiba di anak tangga, Stevi tak berani mengangkat pandangannya. Ia memilih menundukkan kepalanya. Saat sudah duduk berhadapan pun, ia tetap tak melihat sang calon.
Begitupun dengan sang pria. Hingga para orangtua mulai berbincang. Tiba lah saatnya ayah sang pria menyampaikan niatnya ke kediaman Stevi.
"Pak Handoko, kami kemari berniat ingin melamar putri Stevi Putri, untuk menjadi istri dari putra saya Bimo Kusuma." seketika, Bimo dan Stevi saling mengangkat pandangan.
Sama seperti Stevi yang terkejut, Bimo pun merasakannya. Mereka saling memandang hingga lebih dari lima menit.
"Silahkan pak Hendrik tanyakan langsung pada putri kami." Handoko mempersilahkan.
"Bagaimana nak Stevi?" tanya Hendrik pada Stevi.
Airmata Stevi mulai mengalir tak terkendali. Setiap kata yang telah ia susun menguap begitu saja saat melihat calon suaminya adalah orang yang begitu ia cintai.
Rupanya, tangan Tuhan bekerja dengan caranya sendiri. Stevi yang tak bisa berkata-kata, memilih menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulilah." ucap para orangtua.
"Bimo, ini calon istri yang papa siapkan untuk mu. Apa kau menerimanya?" kali ini, Hendrik bertanya pada Bimo.
"Will you marry me?" ucap Bimo dengan senyum terbaiknya.
"Yes, i Will." jawab Stevi.
Hendrik, Handoko dan Nadia pun mengucap syukur. Meski awalnya mereka sempat merasa pesimis, karena saat Bimo dan Stevi di beritahu akan di jodohkan, mereka menolaknya dengan keras. Namun saat ini, ketiga orangtua itu bisa bernafas lega.
__ADS_1
Senyum bahagia terkembang di wajah kedua insan yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta itu. Apalagi, mereka akan segera dipersatukan dalam ikatan pernikahan.