Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Berhasil pergi


__ADS_3

Ketika pintu berhasil mereka buka, kedua mata mereka membola tak percaya. Mereka mendekati kedua orangtua yang sudah terlihat lemah. Kedua orangtua itu tersenyum melihat mereka.


"Tania, kau adalah cucu pertama kami. Kakak dari Lisa." ucap pria tua itu lirih hampir berbisik. Lisa terkejut mendengar kata-kata itu.


"Tania tahu opa." jawab Tania. Kali ini, Lisa menatap Tania.


"Tania mendengar semua ucapan ayah pada om ferdinand tadi." Tania terisak.


"Maksudmu, papi ada di sini?" tanya Lisa. Tania mengangguk.


"Sekarang, ayo kita tolong opa dan Oma dulu. Mereka terlihat tidak sehat." Lisa mengangguk.


Sangat terlihat jelas kondisi kedua orangtua itu yang sangat lemah. Entah apa yang sudah Ardian lakukan pada kedua orangtua yang sudah ringkih ini.


Tiba-tiba, Lisa berhenti. "Tunggu dulu, bagaimana cara kita membawa mereka tanpa ketahuan?" tanyanya.


Tania mendesah. Dia tidak memikirkan ini sebelumnya. Awalnya, ia hanya ingin membebaskan Lisa. Meski ia mendengar, bahwa Oma dan opanya ada dalam pengawasan Ardian, ia tak percaya jika akan menemukan mereka di tempat yang sama dengan Lisa. Apalagi, mereka terkurung selama bertahun-tahun.


Tania tersenyum. Sepertinya ia memiliki ide cemerlang. "Ayo kita melangkah ke garasi. Di garasi, tidak ada CCTV. Aku akan ambil kunci mobil sebentar." Tania meletakkan kakeknya di anak tangga menuju garasi.


Untung saja Oma dan opa mereka masih bisa berjalan meski tertatih. Hingga Tania dan Lisa, bisa membawa mereka pergi. Lisa melihat sekeliling. Rupanya, ruang tempat ia di sekap cukup tersembunyi.


"Lisa, maafkan om mu. Ini bukan kesalahannya." ucap Oma sendu.


"Oma, Lisa tidak membenci om Ardian." ucap Lisa.


Lisa berkata yang sesungguhnya. Dia tahu, ada kesalahpahaman yang terjadi di antara para orangtua. Meski ia sendiri tak mengerti. Oma pun menangis mendengarkan ucapan Lisa.


Terlihat raut penyesalan di mata tua sang Oma. Dalam benak Oma, ia banyak berandai-andai. Sayangnya, pengandaian itu tak mungkin terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Inilah buah dari kesalahan mereka.


Anak yang dulu mereka terlantarkan, karena hadirnya keturunan mereka sendiri, melakukan hal di luar dugaan mereka. Mereka pikir, Ardian tidak akan pernah membalas perbuatan mereka padanya. Nyatanya, ia bekerja dengan sangat baik. Menyembunyikan Tania selama puluhan tahun, dan menyekap mereka selama sepuluh tahun.

__ADS_1


Meski yang Ardian lakukan tak sekejam perbuatan mereka padanya, namun ini cukup membuat mereka menderita dan menyadari kesalahan itu.


Tania terlihat berlari menghampiri mereka. "Ayo cepat, sebentar lagi ayah pasti akan tahu." ucapnya.


Mereka kembali memapah opa dan Omanya. Tania memilih mobil yang tidak bisa dilihat dari luar oleh orang lain. Mobil ini, biasanya Ardian yang gunakan. Tapi kali ini, Tania memakainya.


Setelah berhasil meninggalkan rumahnya, Tania segera melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Lisa ingat belum memberi kabar pada suaminya.


Tapi ia tidak tahu dimana ponselnya. Ingin ia meminjam ponsel milik Tania, namun melihat Tania yang tengah fokus mengemudi, ia urungkan. Ia kembali melihat kondisi Oma dan opa nya yang duduk di belakang. Mereka terlihat begitu lelah.


*****


Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit milik keluarga mereka. Kebetulan, Lisa melihat Kenzi dan Mia keluar.


"Tania, panggil Kenzi dan Mia." Tania melihat arah pandang Lisa.


Ah, benar juga. Tania segera membuka pintu dan berteriak memanggil Kenzi. Kenzi pun menoleh mendengar seseorang memanggilnya.


Tania menghampiri mereka dan berbisik di telinga Kenzi. Wajah Mia memerah menahan amarah saat melihat itu. Kenzi pun mengikuti langkah Tania tanpa menoleh pada Mia.


Mia semakin kesal. Ia menghentakkan kakinya dan mengikuti langkah mereka. Lisa yang melihat kejadian itu dari mobil, hanya menggelengkan kepala.


Dua puluh menit kemudian, Kenzi dan Tania membawa dua kursi roda mendekati mobil mereka. Mia masih menyiratkan permusuhan pada Tania. Tania sendiri, tidak menggubris Mia.


Mereka mulai membuka pintu bagian belakang. Memberikan masker pada opa terlebih dulu, dan membantunya duduk di kursi roda. Mia baru menyadari, mereka berniat menolong orang lain. Mia meringis dan memutuskan ikut membantu Kenzi dan Tania.


Hal yang sama, mereka lakukan pada Oma. Tania memberikan masker itu pada Lisa juga. Serta topi yang tadi di bawanya. Lisa menggunakannya. Saat ia keluar dari mobil, Kenzi dan Mia terbelalak melihatnya.


"Hai..." Lisa melambaikan tangannya. Mia memeluknya dan menangis.


"Jangan nangis. Nanti gue ceritain. Sekarang, ayo bawa opa dan oma ke dalam dulu. Mereka butuh perawatan." Mia menurut. ia menghapus airmatanya dan berjalan bersama mereka.

__ADS_1


Mereka menghembuskan nafas lega, karena kondisi oma dan opa mereka, tidak serius. Kenzi segera menghampiri Lisa dan Tania. Tania dan lisa pun mengangkat pandangan mereka dan menatap Kenzi. Kenzi memberi isyarat agar mereka bercerita.


*****


Setelah menceritakan kejadian sejak Lisa di culik, hingga kenyataan yang Lisa baru ketahui beberapa jam yang lalu, mereka mendesah lelah.


Hal ini, di jadikan pelajaran bagi mereka. Terlebih dalam memberikan kasih sayang pada anak-anak mereka nanti. Terlepas, apakah mereka anak kandung atau angkat.


Jujur saja, mereka tidak bisa menghakimi kedua orangtua di dalam sana. Bukan ranah mereka untuk menasehati ataupun memberikan hukuman.


"Apa Gerald dan Nathan tahu kalian di sini?" tanya Kenzi. Lisa menggeleng.


"Aku sudah kirim pesan pada mereka." jawab Tania.


"Bahkan, pada ayah dan om Ferdinand." Tania merunduk. Mereka menatap pada Tania.


"Panggil papi. Dia papi mu juga." ucap Lisa.


Tania menatap Lisa. Tapi Lisa, tak bisa mengartikan tatapan itu. Apakah Tania merasa bahagia mengetahui keluarga aslinya, atau tidak.


"Rasanya canggung mengubah panggilan. Terlebih, aku tak pernah merasakan kasih sayangnya seumur hidup." ucapnya jujur. Kali ini, Lisa bisa melihat kesedihan di mata Tania.


"Kau benar. Aku pun begitu. Sejak kejadian kau hilang, kurasa papi merasa trauma. Hingga ia memilih mengasingkan ku lebih pada sahabatnya. Sementara mami, di bawa pergi oleh om Hendrik. Keluarga kita terlalu rumit. Meski sebenarnya, semua mudah untuk di selesaikan.


"Sayangnya, komunikasi juga yang memisahkan. Di tambah, luka hati yang tak pernah terlampiaskan, yang terjadi jauh sebelum kita lahir." Lisa dan Tania tertawa miris mengingat kondisi keluarga mereka.


"Kau benar. Jika saja...." Lisa memotong ucapan Tania.


"Tidak usah berandai-andai. Semua sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubahnya." Tania mengangguk menyetujui ucapan Lisa.


Mia dan Kenzi, menyimak setiap pembicaraan mereka. Terbersit rasa iba pada mereka. Komunikasi dalam keluarga mereka, terbilang sangat minim. Hingga banyak kejadian, yang seharusnya bisa di hindari, tak bisa mereka hindari.

__ADS_1


__ADS_2