
Beberapa hari kemudian, Lisa dan Nathan tengah makan malam bersama di sebuah restoran. Ini adalah kali pertama bagi mereka makan di luar. Apalagi, tanpa keluarga besarnya dan Nathan.
Mereka menikmati masa-masa berdua sebelum kelahiran anak mereka nanti. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka membicarakan banyak hal.
"Kak, setelah melahirkan nanti, apa aku masih boleh bekerja?" tanya Lisa.
"Aku tidak akan mengekang mu. Kamu bisa menentukan pilihanmu. Aku tahu, kamu pasti tahu apa yang menjadi prioritas mu." jawab Nathan seraya tersenyum.
Nathan tahu, Lisa pasti bisa membagi waktunya. Begitupun dengan keluarga. Karena itu, Nathan memberikan Lisa kebebasan memilih.
Lima belas menit kemudian, pesanan mereka pun tiba. Mereka memilih makan lebih dulu. Beruntung, saat ini Lisa tak lagi mengalami kesulitan makan.
Selesai makan, mereka beranjak meninggalkan restoran. Langkah Lisa terhenti saat melihat sepupunya memasuki restoran yang sama saat ini. Nathan menyadari keterkejutan Lisa. Ia menggenggam jemari Lisa erat. Lisa menatap Nathan. Suaminya, memberikan senyuman hangat padanya. Lisa pun ikut tersenyum.
Tania pun melihat keberadaan sepupunya itu bersama pria yang dia cintai selama bertahun-tahun. Hatinya terasa panas. Ia mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hai sepupu. Lama tidak berjumpa." ucap Tania sinis.
"Ya, itu karena kamu ada di Amerika kan?" Tania mendelik.
"Bukan karena kau yang menghindari ku?" Lisa hanya tersenyum.
"Oh, iya. Aku dengar, adik angkat mu sudah mati? Dan itu, terjadi tepat di saat dirinya menggunakan mobil milikmu." ucap Tania sarkas.
"Wah.... kau benar-benar ratu gosip Tania." ucap Lisa.
"Padahal, kau di Amerika lebih dari 3 tahun. Tapi gosip satu tahun yang lalu bisa kau dapatkan." puji Lisa. Nathan hanya mengamati.
Jelas aku tahu, karena itu memang tujuanku. Aku tidak akan rela Nathan menikahinya. Sayangnya, aku tidak memprediksikan dirimu. ucap Tania dalam hati.
"Yah, itulah gosip. Tanpa ku minta pun, pasti akan sampai ke telingaku bukan?"
Kali ini, Tania melangkah mendekati Nathan. "Aku merindukanmu." ucap Tania seraya memeluk Nathan.
Kejadian itu, membuat orang di sekeliling mereka berbisik-bisik. Nathan berusaha melepaskan dirinya dari Tania. Hingga ia harus bertindak kasar pada gadis itu.
"Jangan bertindak seperti wanita m****** Tania." lirih Nathan. Rahangnya mengeras saat mengucapkan kata-kata itu.
Lisa cukup terkejut melihat Tania berani melakukan hal itu di hadapan banyak orang. Hingga ia mampu menguasai dirinya, bertepatan dengan ucapan Nathan. Ada kelegaan dalam hatinya melihat Nathan berusaha menolak Tania. Bahkan tanpa mempermalukan sepupunya itu.
Tania tercengang beberapa saat. Terutama saat mendengar kata-kata Nathan yang sangat menyakitkan. Ia memejamkan matanya untuk meredakan amarahnya. Tania tidak akan menunjukan sisi buruknya dihadapan pria itu.
"Apa kau tidak punya pilihan kata yang baik, selain kata itu?" ucapnya.
__ADS_1
"Ayolah, bagaimanapun kita ini teman lama."
"Oh iya, aku lupa. Kau, sudah menikah."
"Maafkan aku. Aku menyesal." ucapnya berpura-pura.
Tanpa kata, Nathan merangkul bahu Lisa dan meninggalkan tempat itu. Mereka melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Tania menatap punggung mereka hingga hilang.
Ia begitu marah. Kata-kata umpatan terus di ucapkan nya dalam hati. Selera makannya hilang. Ia pun memutuskan kembali pulang.
Dalam perjalanan pulang, Lisa hanya diam. Ia tengah berpikir, apakah Rani dan Tania memiliki hubungan? Apakah mereka berdua bekerjasama? Di saat dirinya tengah mengurai masa lalu yang mungkin terlewatkan, ia di kejutkan dengan suara Nathan yang menawan.
"Hei, kamu kenapa sayang." ucap Nathan. Lisa tersentak.
Fokusnya teralih pada sekeliling. Rupanya mereka tengah berhenti.
"Kok kita berhenti di sini kak?" tanyanya.
"Habis, dari tadi kamu diam aja. Aku panggil-panggil juga gak nyaut."
"Jadi aku berhenti dulu. Takutnya, kamu sakit lagi."
"Ternyata, kamu melamun."
Lisa menarik nafas dalam. Menatap wajah suaminya dari samping dan tersenyum.
"Gak ada apa-apa kok." jawabnya.
"Kamu gak lagi cemburu kan?" Lisa menggeleng.
"Aku tahu, kakak gak akan pernah menyakiti aku." ucapnya yakin. Nathan tersenyum.
"Kita pulang sekarang?" tanya Nathan. Lisa mengangguk.
Nathan pun kembali menjalankan mobilnya.
*****
Di tempat lain, Tania baru saja tiba di rumah mewah milik ayahnya. Wajahnya terlihat memadam. Ia menghentakkan kakinya seraya menggerutu kesal.
Sang ayah yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga melihatnya. Ia pun memanggil anak gadisnya.
"Tania..." panggilnya. Tania segera menoleh. Saat melihat sang ayah, ia berlari dan memeluknya. Ia menumpahkan kesedihannya di bahu cinta pertamanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa nak? Cerita sama papah." ucapnya setelah Tania terlihat lebih tenang.
"Tania benci sama Lisa!" serunya.
Pria itu mengerutkan keningnya. Bukankah, seharusnya Lisa sudah di bereskan oleh Hendrik? Kenapa lagi-lagi dia masih menginjakkan kakinya di bumi? pikirnya.
Tania menceritakan pertemuannya dengan Lisa dan Nathan di restoran tadi. Sementara, pria itu tidak fokus pada cerita sang putri. Pikirannya tengah berkelana.
"Papa bilang Lisa sudah di bereskan. Kenapa dia terlihat baik-baik aja?" tanyanya dengan nada manja.
Pria itu memeluknya dan tersenyum. "Kamu tenang aja sayang. Jika orang suruhan papah tidak bisa di andalkan, maka papa yang akan bertindak." jawab pria itu.
Setelah Tania meninggalkannya, ia memasuki ruang kerjanya. Mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ardian, kenapa kau menghubungiku malam-malam begini?" tanya suara di seberang sana.
"Tidak ada. Hanya ingin tahu kabarmu saja. Apa kau sudah merasa lega, setelah membalaskan dendam mu?" tanyanya.
Benar, orang yang di hubungi ya adalah Hendrik.
"Oh, masalah itu! Aku belum melakukannya." jawab Hendrik.
Pria itu menautkan alisnya. "Jadi begitu. Tapi, dari nada bicaramu, sepertinya itu sudah terjadi."
Hendrik terdiam. Sepertinya dia tengah mencari alasan untuk bisa mengecoh pria yang menghubunginya.
"Hendrik.... Kau masih di sana?"
"Ah.. Kemarin, Lisa tidak menggubris ancaman ku. Apa, sebaiknya Alena ku bunuh lebih dulu?"
Pria itu menyeringai. "Terserah padamu. Itu bukan urusanku."
"Lagi pula, aku tidak ada urusan dengan keluarga Ferdinand."
"Bagaimanapun, dia adikku." ucapnya. Namun tatapannya berkata lain.
Tanpa menunggu jawaban Hendrik, pria itu memutuskan sambungan telepon. Pria itu adalah Adrian. Kakak dari Ferdinand.
Ardian meremas ponselnya kuat. Ia menyalurkan amarahnya pada benda tak bersalah itu. Setelahnya, ia meminta anak buahnya membawa Lisa. Tidak peduli, apakah dia dalam keadaan hidup, atau mati.
Dengan segera, mereka melakukan tugas yang di berikan pada mereka. Mereka mulai mengikuti Lisa.
Lisa tengah berjalan keluar dari supermarket. Ia baru saja berbelanja bahan kue. Ia ingin mencoba resep kue yang baru di pelajari nya belakangan ini. Saat Lisa tengah lengah, mereka membiusnya dan membawanya. Saat itu, Lisa berada di tempat parkir. Dan sangat kebetulan, lokasi itu sedang tidak ada orang. Hingga mereka bisa melakukan aksinya.
__ADS_1