
Pagi sebelum Lisa menghilang
Pagi ini, Nathan akan bertemu dengan klien nya. Mereka akan membahas kerjasama di antara mereka.
Tiba di gedung Darmawan Corp., Nathan segera menuju ruangannya. Kris sudah menunggunya. Nathan memberikan arahan pada Kris sebelum rapat di mulai. Memeriksa berkas yang akan di tanda tangani dua perusahaan. Ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun.
Waktu terus bergulir. Nathan, Kris dan Mery sekretarisnya memasuki ruang rapat. Tak lama berselang, Bimo dan asistennya pun memasuki ruang rapat. Rapat kali ini adalah untuk menandatangani dokumen kerjasama mereka.
Ya, rupanya klien Nathan kali ini adalah sahabatnya Bimo. Mereka mulai membahas hasil rapat sebelumnya. Hingga dua puluh menit kemudian, mereka mulai menandatangani berkas persetujuan itu. Selesai menandatangani berkas, mereka bersalaman.
"Boleh gue ngobrol sedikit sama Lo?" tanya Bimo.
"Boleh. Kalau gitu, kita ke ruangan gue saja. Yuk." mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan Nathan.
Sebelum masuk ke ruangan, Nathan meminta Mery menyiapkan minuman untuk sahabatnya. Setelahnya, ia dan Bimo masuk ke dalam.
"Ada apa?" tanya Nathan begitu mereka duduk di sofa ruangannya.
"Hufth.. Ada sesuatu yang harus Lo tahu." Nathan menyimak. Sementara Bimo, menjeda ucapannya.
"Sebenarnya, Lisa itu sepupu gue." Nathan mengernyit.
"Gue tahu Lo pasti bingung dan gak percaya. Tapi ini nyata."
Bimo pun menceritakan pada Nathan, bahwa ibu mereka adalah saudara kembar. Dan kejadian yang menimpa ibu kandung Lisa pun, Bimo beritahu pada Nathan. Nathan yang mendengarkannya, tercengang. Ada rasa tidak percaya tentang cerita Bimo. Namun ia tahu, masalah informasi Bimo tidak perlu di ragukan. Dia sangat handal.
"Dari mana Lo tahu ini semua?"
"Dua puluh tahun yang lalu, gue dan keluarga pindah ke Singapura. Gue ingat, ayah bilang ke gue, kalau bunda mengalami kecelakaan. Adik gue meninggal di tempat. Sementara bunda, mengalami krisis hingga harus di bawa ke Singapura. Entahlah, gue gak paham saat itu.
"Intinya, saat usia gue dua belas tahun, gue gak sengaja dengar ayah memanggil bunda dengan nama Alena. Sementara, nama bunda adalah Alea. Dan gue tahu, bunda punya saudara kembar. Singkat cerita, ayah menyalahkan Tante Alena, atas kecelakaan yang menimpa bunda dan adik gue. Gue balik ke Jakarta, untuk menemui om Ferdinand dan bertanya tentang makam bunda."
__ADS_1
Nathan tercengang. Pantas ia merasa Bimo memiliki kemiripan dengan istrinya. Inilah jawabannya. Ibu mereka, adalah saudara kembar. Namun ia, hanya bisa berucap dalam hati.
"Jadi sekarang bagaimana? Apa ada yang bisa gue bantu?" tanya Nathan.
"Tolong, selamatkan Lisa." tatapan Bimo terlihat penuh harap pada Nathan. Nathan sendiri terkejut mendengar ucapan Bimo.
"Apa maksud Lo?" tanya Nathan. Tiba-tiba, jantung Nathan berdegup kencang.
"Ayah, sudah merencanakan untuk membuat Lisa mendatanginya. Dan akan berusaha mencelakainya." seketika, kilat amarah muncul di mata Nathan.
"Ada beberapa anak buah gue yang gue taruh sebagai anak buah ayah. Mereka bilang, Lisa sudah di sana."
Nathan mengambil ponselnya. Dengan cepat ia mendial nomor Lisa. Namun, hingga tiga kali ia menghubungi istrinya, tidak juga ada jawaban. Seketika raut wajah Nathan berganti dengan rasa cemas.
"Ada apa? Tidak di angkat?" tanya Bimo.
"Hem.." jawab Nathan dengan dehaman.
"Katakan, apa ini ada hubungannya dengan Lisa tidak menjawab telepon gue?" tanyanya dengan amarah yang di tahan hingga wajahnya terlihat memerah.
"Jangan. Gue gak bisa melibatkan papi dalam hal ini." tolaknya.
"Lo salah, om Ferdinand jauh lebih tahu tentang masalah ini di banding gue. Hanya saja, dia menahan diri. Tapi gue yakin, saat ini dia akan bertindak." ucap Bimo. Nathan menoleh.
Tak lama Bimo memberitahu Nathan masalah ini, ponselnya berbunyi. Dilihatnya nama pemanggil itu. "Papi Ferdinand". Dengan cepat ia mengangkatnya.
Belum sempat ia berbicara sepatah kata, Ferdinand sudah mengatakan apa yang ingin diketahuinya. Ponsel pun mati.
Benar, tebakan Bimo sangat tepat.
"Lo salah kalau Lo pikir, gue hanya menebak. Om Ferdinand, tidak sebodoh yang kita kira. Dia jauh lebih cerdik dari yang Lo tahu." ucapan Bimo, seakan menjawab pertanyaan yang tersirat dari mata Nathan.
__ADS_1
"Papi bilang, sekarang waktunya bergerak." ucap Nathan memberitahu apa yang di katakan mertuanya.
Mereka segera keluar dari gedung Darmawan Corp. menuju gedung National Group. Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bimo yang duduk di bangku penumpang, tidak merasa takut sedikit pun. Fokus Bimo kali ini adalah, menyadarkan ayahnya dari segala kesalahan nya.
Tiba di sana, Nathan segera menuju ruangan mertuanya. Di sana, mereka membuat rencana yang matang. Mereka tidak ingin Lisa terluka. Apalagi, Lisa tengah mengandung. Dan untuk Alena ibu kandung Lisa, mereka pun harus menyelamatkannya dengan hati-hati. Kondisi ibu Lisa, masih harus di periksa secara teliti.
Setelah rencana ini di mengerti, mereka mulai menjalankannya. Nathan benar-benar tak bisa berpikir jernih. Hingga Bimo mengambil alih kemudi. Nathan sedang di kuasai amarah. Ia tak bisa mengendalikan emosinya.
"Than, Lo gak boleh begini. Kalau emosi Lo meluap-luap seperti ini, bukan berarti rencana ini akan berhasil. Justru, kemungkinan besar akan gagal." ucap Bimo masih terus fokus dengan kemudinya.
"Tenangkan diri Lo. Atur nafas bro." Bimo mengarahkan Nathan.
Nathan memejamkan mata. Ia benar-benar kehilangan kendali. Entah mengapa, sejak Lisa merajai hatinya, ia tak bisa mengendalikan emosinya.
Apalagi saat ini, istrinya dalam bahaya. Dunianya serasa menggelap. Pikirannya pun tak jernih. Setelah emosinya sedikit berkurang, Nathan membuka kembali matanya.
Lisa, apa pun akan ku lakukan. Maaf karena aku lalai menjaga mu. Akan ku pastikan kau selamat sayang. Tunggu aku. ucap Nathan dalam hati.
Bimo membawa mereka ke tempat Lisa. Bimo yakin, Lisa sudah bertemu ibu kandungnya. Sayangnya, anak buahnya di tempatkan sang ayah di luar. Hingga ia tidak bisa mendapatkan informasi tentang kejadian di sana.
Tidak hanya Nathan yang cemas, Bimo pun turut merasa cemas. Bimo hanya ingin ayahnya tahu, bahwa kematian ibu dan adiknya, adalah murni kecelakaan. Tidak ada hubungannya dengan Lisa dan tantenya Alena.
Entah apa yang membuat ayahnya menjadi seorang pendendam seperti ini. Bimo Tidak tahu.
*****
"Kalian pikir, dengan airmata kalian aku akan iba?" Hendrik tersenyum sinis.
"Baik, jika kalian ingin aku bebaskan, kembalikan istri dan putriku. Bisa?"
"Kau gila Hendrik." pekik Alena.
__ADS_1
"Aku hanya menginginkan mereka. Kau tahu, aku hidup, hanya untuk membalaskan dendam mereka padamu." Alena dan Lisa bisa melihat kepedihan dari mata Hendrik.
Airmata Hendrik sudah menetes tanpa di minta. Suaranya pun ikut tercekat di tenggorokannya.