
Mengetahui kenyataan, bahwa orang yang melahirkan mu masih hidup, adalah sesuatu yang membahagiakan. Apalagi sejak mengenal dunia, tidak pernah sekalipun bertemu. Itulah yang saat ini Lisa rasakan.
Tidak ada alasan baginya untuk tidak bersyukur atas kesempatan yang di berikan Tuhan padanya. Saat ini, fokus Lisa adalah menyelamatkan dirinya. Meski ia terlihat setia mendengarkan kisah masa lalu yang menimpa keluarganya, otaknya berpikir dengan keras cara melarikan diri.
Lisa melihat sekeliling. Ia mencoba mencari celah untuk menyelamatkan dirinya dan ibunya.
Ia mengelus perutnya. Dalam hati ia berkata 'Nak, mami mohon kamu yang kuat ya. Mami tidak tahu, apakah papi menyadari hal ini atau tidak. Tapi mami harus menyelamatkanmu dan Oma mu. Kamu percaya kan sama mami?'
Lisa mencoba meyakinkan dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja.
Di tengah pemikirannya, ia melihat anak buah omnya memiliki senjata. Pikirannya kembali kacau.
"Om, tidak bisakah kita bicara baik-baik?" Lisa memohon.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Sudah cukup bagiku menahan diri selama lebih dari dua puluh lima tahun." wajah Hendrik memerah padam. Sepertinya, amarahnya sudah memuncak.
"Tapi bayiku tidak bersalah om." Lisa mencoba mengulur waktu.
Pada akhirnya, Lisa memutuskan menunggu pertolongan. Ia tak ingin menanggung resiko saat ia melawan mereka tanpa senjata.
Apakah sesulit ini membujuk omnya itu? Ataukah omnya sudah di buta kan oleh dendam? Tidak, pasti ada jalan. Tapi apa?
"Aku tidak peduli pada bayimu. Tapi jika bayi itu ikut mati, itu artinya, bonus untuk ku." Lisa mengerutkan dahinya.
Apa benar orang ini pamannya?
Lisa masih berkutat dengan pemikirannya. Hingga semua itu menjadi buyar, saat melihat anak buah omnya, secara tiba-tiba terjatuh.
Lisa, Hendrik dan Alena, memandang sekeliling mereka. Apa yang terjadi? Itulah pikiran mereka sekarang. Lisa yang sempat terkejut segera tersadar dan mencoba melepaskan ikatan maminya.
"Mami harus lari dari tempat ini secepat mungkin. Lisa tidak mungkin bisa melakukannya. Cari bantuan." bisik Lisa.
"Tidak mungkin mami meninggalkanmu nak." Alena ikut berbisik.
Hendrik mencoba melihat anak buahnya. Sialnya, seluruh buahnya itu jatuh pingsan. Bahkan, yang berjaga di luar sekali pun.
__ADS_1
"Cepat mami. Kita tidak punya banyak waktu. Lisa pasti menyusul mami." mereka berdebat. Mata Lisa terus mengawasi sekelilingnya.
Hendrik tersadar, bahwa sanderanya masih di dalam. Ia kembali ke dalam, dan mendapati Alena telah terlepas dari ikatannya.
Terlambat, pikir Lisa dan Alena.
"Kalian pikir, kalian bisa lari semudah itu? Jangan mimpi." Hendrik berteriak hingga Lisa dan alena memejamkan matanya.
Rasa takut kembali membayangi mereka. Mereka dikejutkan dengan suara derap langkah. Mereka pun segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Ferdinand dan beberapa orang yang datang bersamanya.
"Cukup Hendrik." Hendrik tersenyum sinis.
"Ferdinand..." geram Hendrik.
"Sudah cukup kau hidup dalam dendam dan kesalahpahaman. Apa kau b**** hingga kau bisa di jadikan alat untuk menghancurkan keluargaku?" Hendrik memicingkan matanya.
"Apa kau bilang? Kesalahpahaman? Alat?" Hendrik tertawa. Tawanya menggelegar memenuhi ruangan itu.
"Kau pikir aku bodoh? Rupanya, kau selalu berlagak sok pintar." terlihat kilatan amarah dalam tatapannya.
Lisa memeluk maminya.
Hendrik merasa apa yang dikatakan Ferdinand hanyalah omong kosong belaka. Lagipula, siapa orang yang lebih mengenalnya di banding Ferdinand, yang notabene sudah menjadi sahabatnya sejak masa kuliah?
"Kau tidak percaya padaku? Apa kau melupakan Ardian?" seakan tahu jika Hendrik tak mempercayainya, Ferdinand langsung memberitahukannya.
Seketika, Hendrik mengingat kejadian sebelum Alea meninggal.
Kau tahu, Ferdinand ingin membunuh istrimu. Kau harus berhati-hati. Aku memberitahumu, karena kau sudah ku anggap seperti adikku. Sahabat macam apa Ferdinand itu? Kenapa juga dia mengincar istrimu? (Ardian)
Kau bohong. Mana mungkin Ferdinand tega membunuh saudara dari istrinya sendiri. (Hendrik)
Ayolah, jangan terlalu polos, apa kau tidak ingat, bahwa Ferdinand pernah mencintai istrimu? Mungkin ia ingin balas dendam. (Ardian)
Tidak. Aku sangat mengenal Ferdinand. Ia tidak pernah mencintai Alea. Jangan memprovokasi hubungan kami.(Hendrik) ucapan itu, terngiang dalam benaknya. Seolah, potongan-potongan memory itu mengingatkannya kembali.
__ADS_1
Ya, sepertinya pembunuhnya sengaja mengincar Alea agar apa yang dikatakan Ardian terjadi. Hendrik mengumpat dengan keras. Ferdinand mendekati sahabatnya.
"Kau tahu, aku pasti akan memburu orang yang mencoba menghancurkan keluargaku."
"Apa aku pernah tinggal diam?" Hendrik terdiam.
"Sudahlah. Lebih baik kita berbaikan." ajak Ferdinand. Ia mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan sahabatnya.
Hendrik melihat tangan Ferdinand yang terulur. Ada rasa malu ketika sahabatnya ini masih memaafkannya.
"Aku tidak pantas mendapat maaf mu." lirihnya.
"Aku tidak menyalahkan mu. Aku justru berterimakasih, karena kau menyelamatkan istri dan anakku." Ferdinand menepuk pundak sahabatnya.
Hendrik tertegun mendengar ucapan sahabatnya. Ia merasa menjadi orang paling b**** di hadapan sahabatnya. Airmatanya mengalir tanpa di minta.
Hendrik malu pada sahabatnya, malu pada putra pertamanya dengan Alea Bimo. Malu pada adik iparnya Alena, saudara kembar istrinya. Malu pada keponakannya, malu pada almarhum istrinya.
Ferdinand menghampiri istri dan putrinya. Mencium pucuk kepala mereka. Rasa rindu pada Alena, terpancar dari matanya.
Kini, ia harus membereskan dalang dari semua drama ini. Ardian, harus segera di beri pelajaran.
"Sekarang saatnya kita menyelesaikan urusan dengan Ardian." ucap Ferdinand dingin. Aura kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
Ferdinand terlihat seperti singa yang siap memangsa lawannya. Jika sudah seperti ini, Hendrik pun tak bisa menghentikannya.
Ardian, kurasa aku tak bisa lagi mendiamkan mu. batin Ferdinand.
Nathan menatap rindu pada Lisa. Ia memeluk Lisa dan menciumi pucuk kepalanya. Lisa balas memeluk Nathan. Alena tersenyum bahagia menatap putrinya.
Bimo menghampiri Hendrik ayahnya. Memeluknya hangat dan menangis. Sudah lama rasanya ia tak melihat sang ayah. Hendrik yang mendapatkan pelukan dari putranya, balas memeluknya. Ia merasa bersalah pada putranya ini.
Bimo menoleh, dan melihat wanita yang begitu mirip dengan ibunya. Ibu, yang begitu di rindukannya. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk wanita itu.
Alena yang menyadari tatapan Bimo, menghampirinya. Ia merentangkan tangannya. Bimo terdiam, air matanya mengalir dengan deras. Ia pun berlari memeluk Alena. Di tumpahkan nya segala rasa rindu itu pada Alena. Bimo menangis.
__ADS_1
Setelah drama itu selesai, mereka mulai mengatur strategi untuk membuat Ardian mengakui segala kesalahannya. Namun dalam hal ini, mereka harus bisa berakting layaknya aktor dan aktris dalam drama. Dan itu, harus bisa membuat si pelaku utama tak menyadarinya.
Dapatkah mereka menemukan alasan dari sang pelaku utama? Benarkah asumsi Ferdinand selama ini, jika sang kakak menginginkan harta warisan bagiannya? Tapi kenapa harus ada nyawa yang di korbankan?