Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Depresi


__ADS_3

\=\=>


Mereka berusaha menghibur Lisa. Namun semua usaha mereka gagal. Sudah lebih dari lima hari Lisa dalam kondisi yang memprihatinkan. Ferdinand sangat mengkhawatirkan kondisi putrinya itu. Ia memutuskan memanggil dokter ke rumah sahabatnya William. Karena saat ini, Lisa berada di sana.


"Silahkan masuk dokter." ucap Ferdinand. Dokter itu segera memeriksa kondisi Lisa.


"Maaf Tuan, sepertinya anda harus membawa nona Lisa pada dokter psikiater. Secara fisik, nona baik-baik saja." ucap dokter Dion.


"Kau mengenal seorang dokter yang bisa mengobati putri ku?" tanya Ferdinand.


"Ada Tuan. Akan segera saya hubungi." ucapnya


Dokter Dion segera menghubungi rekannya yang ia rasa dapat di percaya. Setengah jam kemudian, salah satu ART memberitahu pada Ferdinand bahwa ada dokter yang mencarinya.


tok.. tok.. tok..


"Masuk." perintah Ferdinand. Pintu terbuka.


"Tuan, di depan ada dokter perempuan."


"Persilahkan masuk saja bi." pintu terbuka. Seorang dokter perempuan muda masuk.


"Selamat sore Tuan." dokter itu menundukkan kepalanya. Ferdinand hanya mengangguk.


"Siapa nama mu?" tanyanya dingin.


"Clarisa Tuan."


"Baik, satu hal yang harus kau ingat, jaga mulut mu dari pembicaraan tentang putri ku, maupun keluarga ku." ucapnya tegas.


"Saya mengerti Tuan."


Clarisa mulai memeriksa kondisi Lisa. Lima belas menit berlalu. Lisa sama sekali tak bicara atau pun bergeming ketika di tanya. Ia benar- benar diam seribu bahasa.


"Maaf Tuan, boleh saya bertanya?"


"Silahkan."


"Adakah kejadian yang mungkin memicu kondisi nona?"


Ferdinand menghela nafas kasar. "Kecelakaan yang di alami adiknya saat mengendarai mobil miliknya."

__ADS_1


Dokter Clarisa mengerti. "Nona mengalami depresi. Dukungan keluarga, akan sangat membantu."


"Kami sudah mencobanya, tapi kondisinya tidak berubah." Ferdinand menjelaskannya.


"Maaf Tuan, saran saya keluarga harus selalu mendukung nona. Depresinya, untuk saat ini memang tidak berbahaya, namun jika di diamkan kemungkinan terburuk akan terjadi."


"Terus hibur dan dukung nona tanpa henti. Jangan bosan mengajaknya bicara hal yang positif." Ferdinand mengangguk.


Ferdinand melakukan apa yang di katakan dokter Clarisa. Ia selalu mengajak Lisa bicara. Meski Lisa hanya diam tak bicara, seluruh keluarga terus menghiburnya.


Setelah dua minggu Vira koma, ia tersadar dan bicara pada Gerald. Gerald segera menghubungi Ferdinand untuk membawa Lisa ke rumah sakit.


"Pi, Vira sudah sadar. Dia ingin bertemu dengan Lisa." ucap Gerald.


"Tapi kondisi kejiwaan Lisa belum stabil."


"Tolong berikan teleponnya pada Lisa pi." pinta Gerald. Ferdinand berjalan ke arah Lisa duduk.


"Sayang, kakak mu ingin bicara." Lisa menoleh sesaat. Kemudian kembali menatap arah lain.


"Ini tentang kondisi Vira." Lisa kembali menoleh. Kali ini, tatapannya tak lagi kosong.


Seperti menemukan oasis di padang pasir, ekspresi Lisa seketika berubah begitu mendengar nama Vira. Ia merebut ponsel itu dengan cepat. "Halo kak."


"Benarkah?" air matanya mulai menetes kembali.


"Dia mau ketemu kamu."


"Lisa ke sana sekarang kak." ucap Lisa dengan isak tangis.


"Kamu sudah sehat?" Gerald sangat khawatir dengan kondisi Lisa.


"Lisa baik-baik aja kak. Lisa ke sana sekarang." Lisa memutus panggilan itu sepihak.


"Pi, ayo kita ke rumah sakit." ajak Lisa.


Ferdinand segera mengambil kunci mobil dan membawa Lisa ke tempat Vira di rawat. Ferdinand sedikit heran. Ia berniat akan menanyakannya pada dokter clarisa.


Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah sakit. Lisa langsung keluar dan berlari menuju ruangan Vira di rawat.


Lisa kembali menangis mengingat kejadian itu. Rasa sesak di dadanya kembali membuatnya depresi. Nathan sendiri masih terdiam. Ia berbalik dan melihat Lisa dalam kondisi yang tak pernah ia lihat.

__ADS_1


Lisa terus menangis membuat Nathan tak mengerti apa yang harus di lakukan. Ia butuh ruang untuk berfikir. Akhirnya, Nathan memilih meninggalkan Lisa. Ia menemui kedua orang tuanya dan membicarakan masalah ini. Ia butuh saran dari kedua orang tuanya.


Nindya dan Gerry tak percaya jika kehidupan Lisa begitu rumit.


"Kasihan Lisa. Temani dia nak. Jangan biarkan dia sendiri." Nathan mengangguk.


"Pi, apakah aku harus bertanya pada mertua ku tentang kondisi ini?"


"Sepertinya jangan." Nathan mengangguk.


Nathan menuju taman belakang. Ia termenung memikirkan semua yang terjadi. Ia juga meyakini hatinya pada Lisa. Ia mencintai Lisa sepenuh hatinya. Vira hanyalah masa lalunya. Ia tak bisa kembali ke masa lalu. Lisa lah masa depannya.


Waktu terus berlalu. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia kembali ke kamar. Saat memasuki kamar, Ia melihat Lisa duduk di sudut kamar dan memeluk lututnya. Air mata tak lagi tampak di matanya. Hanya sisa-sisa air mata di pipinya.


"Sayang, kenapa di sini? Ayo kita tidur ini sudah larut." Lisa tak bergeming.


"Sayang maafkan aku ya." Nathan memeluk Lisa, namun Lisa tetap tak bergeming.


Nathan menangkup wajah Lisa dan menatap matanya. Nathan terkejut, tatapan Lisa kosong. Ia mulai panik dan mulai berlari ke kamar orang tuanya.


"Mi.. mi..." Nathan mengetuk pintu kamar dengan nada cemas. Tak lama, Nindya membuka pintunya.


"Kenapa nak, kenapa kamu panik begini?" Nindya ikut cemas.


"Lisa mi.. Lisa.."


"Ada apa dengan Lisa?" Gerry keluar dari kamar. Mereka menuju kamar Nathan dan Lisa.


Nindya terkejut melihat kondisi Lisa. "Kenapa Lisa begini sayang?" Nindya menghampiri Lisa.


Nathan mengangkat tubuh Lisa dan membaringkannya di ranjang. Lisa tak melawan, tapi juga tak bicara. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit.


"Hubungi mertuamu. Hanya mereka yang mengerti kondisi Lisa." Nathan mendial nomor mertuanya.


Nathan mencoba terus menghubungi. Hingga panggilan ke tiga, baru lah mertuanya mengangkat panggilannya. Ia mulai menjelaskan kondisi Lisa. Tak lama, telepon terputus. Nathan mulai khawatir. Ia sudah mengguncang bahu Lisa, namun Lisa tak juga bereaksi.


Sudah lebih dari satu jam setelah ia menghubungi mertuanya. Orang tuanya mulai ikut cemas. Baru saja mereka membuat keputusan untuk membawa Lisa ke rumah sakit, bel rumah berbunyi. Nathan berlari ke luar dan membuka pintu.


"Pak, bu." Nathan mencium punggung tangan William dan Laras. Namun di belakang mereka, ada dua orang yang sepertinya ia kenal dan dua orang lagi dengan pakaian dokter. Ia tak ingin bertanya. Saat ini, kondisi Lisa jauh lebih penting.


Mereka bergegas menuju kamar Nathan dan Lisa. Di sana, mereka melihat kondisi Lisa satu tahun lalu. Seorang pria paruh baya memeluk Lisa erat dan menangis. Kedua mertuanya pun memeluk Lisa dan menangis. Begitu pula seorang pria muda yang Nathan rasa sangat familiar. Dalam benaknya ia terheran mengapa mereka menangis.

__ADS_1


"Dokter, cepat periksa." seorang wanita muda mendekati Lisa. Nathan dan orang tuanya masih tak mengerti apa yang terjadi.


"Tuan..."


__ADS_2