
Sementar suaminya tengah bekerja, Nada akan bersiap ke kampus untuk menyetor skripsi yang sudah di revisi. Saat ini, Nada sudah berada di rumahnya. Sebelumnya ia sudah menelfon orang tuanya meminta agar di jemput ke sana untuk mengambil laptop dan skripsi yang akan dibawa ke kampus.
“Ma, Pa, Nada ke kampus dulu mau nyetor skripsi ke dosen,” pamit Nada saat melewati ruang tengah. Di mana Rudi dan Masyita tengah bersantai siang hari menikmati secangkir kopi hitam ditemani dengan kue kering.
“Kamu sudah izin sama suami mu, Nak?” tanya Rudi usai menyesap kopi hitam buatan istrinya yang masih mengepulkan asap. Diletakkannya kembali ke atas meja bermaterial kaca bening.
“Sudah, Pa. Mas, Kaysan memberi izin, kok.”
“Ya, sudah. Kamu hati-hati, Nak. Jangan sampai telat pulang. Apalagi, suamimu sudah kerja.” Pesan Masyita pada anak bungsunya.
Kedua orang tua Nada sudah mengetahui perihal pekerjaan Kaysan. Mereka bersyukur, Karena Kaysan cepat mendapatkan pekerjaan dan bisa menafkahi istrinya. Apalagi mereka sudah lama mengenal Kaysan sebagai pemuda yang rajin, santun dan pekerja keras. Jadi, baik Masyita maupun Rudi tidak terlalu khawatir dengan kehidupan anaknya yang jauh dari kata mewah seperti sebelumnya.
Walau dilimpahkan dengan harta yang banyak, Rudi dan Masyita tidak sombong. Baginya harta hanya titipan Tuhan yang sementara. Jadi buat apa, sombong dan angkuh. Toh, yang dinilai di hadapan Tuhan nanti hanya amal dan perbuatan. Bukan dari jabatan dan banyaknya harta.
Maka dari itu, Rudi dan Masyita selalu menanamkan sikap sederhana kepada ketiga putirnya.
“Iya, Ma, Pa. Kalau gitu, Nada pamit duly. Nanti kesorean dan dosennya pulang. Assalamualaikum,” pamit Nada sembari mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
***
Nada melajukan motor matic putihnya itu menuju kampus. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Nada sampai di kampusnya. Lekas, ia menuju ruangan jurusan di mana letak jurusan yang ia ambil, yakni desain.
“Nada...” panggil seseorang dari belakang.
Perempuan bergamis coklat susu dipadukan dengan hijab mocca bermotif bunga itu pun menoleh ke sumber suara.
“Kak, Randi.” Sapa Nada dengan tersenyum.
Laki-laki berkemeja krem dipadukan celana chinos hitam meneteng buku dan ipad di tangannya. Lalu mendekat menghampiri Nada.
__ADS_1
“Bukannya, kamu sudah selesai sidang. Juga berkas pengajuan S2 mu kemarin sudah rampung, jadi sisa ngurus apalagi?” tanya Randi.
Kini mereka berdua berbicara di depan ruangan dosen. Di mana, Randi pun berada. Agar tidak menimbulkan firnah, Nada memilih berbicara di depan ruangan di mana banyak orang yang melihat mereka sehingga tidak terjadi salah paham.
“Ini, Kak skripsi kemarin yang sempat direvisi akan disetor.” Sahut Nada memperlihatkan sebuah tentengan yang berisi beberapa skripsinya.
Randi pun mengangguk. Lalu kembali berkata, “Gimana, Nad kamu yakin nggak akan ngambil beasiswa ke Inggris itu? Kan di sana nanti kamu bisa mengembangkan diri kamu menjadi seorang designer kelas dunia. Sayang, banget kalau kesempatan ini kamu sia-siakan.”
Sebagai dosen Randi berharap Nada mengambil kesempatan itu. Ia yakin, mahasiswanya itu memiliki bakat yang luar biasa jika di asah lebih dalam.
Nada menggeleng. “Nggak, Kak. Saya ingin di sini saja.” Bukan tanpa alasan Nada menolak beasiswa langka itu. Walau memilih melanjutkan pendidikan di sini, ilmu yang didapatkan tidak jauh beda dengan di luar negeri. Menurutnya, sejauh apapun kita melangkah menuntut ilmu, hasilnya akan sama saja jika kita berusaha lebih baik.
Dan juga, karena status pernikahannya yang masih baru dengan Kaysan. Tidak mungkin, bagi Nada meninggalkan suaminya yang baru beberapa hari menikah. Makanya ia memilih di sini saja melanjutkan pendidikannya sekaligus bisa bersama dengan sang suami.
“Ya, kembali lagi pada pilihanmu. Terserah kamu. Itu hak kamu. Saya hanya mendoakan yang terbaik untuk kamu.” Tambah Randi.
Tidak ingin terlalu lama mengobrol dengan lawan jenis, apalagi ia sudah menikah, walaupun tak ada satupun yang tahu statusnya saat ini, Nada pun memilih pamit duluan.
“Oh, iya silahkan. Kebetulan, saya juga ingin masuk ke ruangan.”
***
Setelah semua urusannya selesai, Nada bergegas kembali ke rumah . Mengingat hari sudah sore. Ia tidak ingin suaminya sudah lebih tiba dahulu sampai di rumah dibanding dirinya. Lekas, ia pun melajukan motor matic kesayangannya menuju rumah.
Sementara itu, Kaysan baru saja menyelesaikan pengantaran paketnya hari ini. Ia pun berpamitan pada atasannya.
“Kaysan, kamu sudah boleh pulang. Nanti besok datang lagi seperti biasa. Soal motor itu, kamu bisa bawa pulang.” Ujar Alatas sekaligus penanggung jawab di kantornya yang sangat mengerti keadaan Kaysan.
“Baik, Pak. Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Sepanjang perjalanan pulang, Kaysan teringat dengan sang istri yang tadi meminta izin ke kampus. Ia pun segera memacukan kendaraannya menuju rumah memastikan istrinya sudah tiba. Ia khawatir, jika Nada belum sampai. Bukannya ingin terlalu protektif, tapi Kaysan melakukannya sebagai bentuk rasa sayang dan cintanya kepada sang istri.
Sampai di rumah, Kaysan melihat motor istrinya sudah sampai. Lekas ia pun memarkirkan kendaraan beroda dua itu di samping motor istrinya di deoan rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Kaysan memsuki rumah. Karena pintu rumah tidak terkunci, Kaysan langsung masuk saja. Ia pun mencari keberadaan sang istri. Namun, sayang ia tidak melihat Nada di dalam kamar.
“Mungkin, Nada sedang mandi.” Pikirnya sembari melepaskan baju yang dipakainya lalu meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar.
Saat kedua kakinya akan keluar, tiba-tiba nada dering ponsel Nada bergetar. Kaysan pun beranjak melihat siapa yang menelfon istrinya.
“Mungkin, Papa atau mama mertua yang menelfon,” gumamnya sembari berjalan ke nakas samping ranjang .
Belum sempat, Kaysan melihat ponsel istrinya, Nada pun sudah masuk ke dalam kamar. Perempuan itu sudah memakai bajunya di dalam kamar mandi tadi.
“Mas, kamu sudah pulang? Mandi, gih!” kata Nada melihat suaminya sudah berbalut handuk.
“Kamu sudah selesai, sayang? Ya, sudah, Mas mandi dulu.”
***
Seperti biasa usai menjalankan solat magrib, keduanya melakukan makan malam. Tadi sebelum sampai di rumah, Kaysan sempat beli ikan bakar di warung depan gank. Jadi, Nada tinggal memasak nasi dan sayur yang masih tersedia di dalam kulkas.
Usai makan malam, Kaysan pun membantu sang istri membereskan meja makan. “Nggak usah, Mas. Biar aku aja,” tegur Nada pada suaminya yang sudah mencuci piring ke dalam bak.
“Nggak, papa sayang. Cuman nyuci piring aja, kok , laki-laki juga bisa. Bukankah, Rasulullah sering membantu pekerjaan istrinya juga? Jika Rasul yang notabene laki-laki paling sempurna di muka bumi ini, apalah daya Mas, yang hanya manusia biasa. Tidak ada salahnya membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” jelas Kaysan sembari mencuci piring terakhir dan meletakkan di tempatnya.
Nada terdiam dan tersenyum mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
“Oh, iya sayang, Mas lupa. Tadi sore ada yang menelfon di ponselmu saat mandi. Tapi, Mas, belum sempat liat siapa yang menelfon, keburu mati saat kamu sudah selesai mandi. Siapa tahu, mama atau papa, sayang.” Keduanya kembali masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Nada bergegas memeriksa ponsel mengecek siapa yang menelfon. Ia terkejut saat melihat nama yang tertera di ponselnya. Sejenak ia pun melirik pada sang suami yang tengah membaca quran di atas ranjang.
“Kak, Randi. Ada apa ia menelfonku?” gumam Nada.