Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Melebihi impian


__ADS_3

Satu Minggu berlalu. Nindya masih terlihat merajuk. Sedikit pun, ia tak mengajak Nathan bicara. Namun, hal itu tak berlaku pada Lisa.


Nathan sampai menggelengkan kepala melihat kelakuan maminya itu. Semua kalimat pengandaian berlarian dalam benaknya. Sudah berkali-kali Nathan meminta maaf, namun sepertinya wanita paruh baya itu enggan memaafkannya.


Kemarin, justru Nathan menunjukan sisi manjanya pada sang cinta pertama dalam hidupnya itu. Lagi dan lagi, cinta pertamanya itu tak luluh.


Nathan kehabisan cara. Semalam, ia meminta Lisa untuk bicara pada maminya. Lisa tersenyum dan mengatakan akan membantu sebisa mungkin.


Pagi ini, dua wanita beda generasi itu berada di taman dekat kolam renang. Mereka tengah mengganti media tanam. Beberapa waktu terakhir, Nindya memang tengah tergila-gila dengan tanaman. Namun kali ini, ia menggilai tanaman yang berhubungan dengan kebutuhan dapur.


"Mami kok tahu sih tentang tanam-menanam?" tanya Lisa.


"Dari dulu, mami itu suka berkebun. Di rumah keluarga mami, hampir semua jenis buah ada. Maklumlah, keluarga mami kan mencintai pertanian. Kamu tahu, cabai-cabai yang di tanam kakek Nathan itu semua kualitas bagus...." Lisa sampai tersenyum mendengar cerita dari mertuanya.


Hingga ia tak lagi mendengar semua yang di ceritakan sang mertua. Memang benar, hoby yang memang kita sukai, tidak akan membuat kita lelah melakukannya. Apalagi, di saat waktu kita tengah senggang. Rasanya, jika melakukan hal itu, tidak percuma membuang waktu, saat kita menikmati hasilnya.


"..... Nanti, lain kali kita ke tempat almarhum kakeknya Nathan ya." beruntung, ucapan itu terdengar oleh Lisa. Tepat setelah Lisa kembali pada alam sadarnya.


"Iya mi." jawabnya seraya tersenyum.


Jujur saja, pikiran Lisa tengah melayang. Ia sedang memikirkan, bagaimana caranya ia menyampaikan keinginan Nathan semalam.


"Mi.." panggil Lisa.


"Hem..." jawab Nindya tanpa berpaling dari tanamannya.


"Mami belum bisa maafin kak Nathan?" tanya Lisa hati-hati.


Nindya terdiam. Pergerakan tangannya pun terhenti. Tak lama kemudian, wajah senangnya kembali memberengut kesal. Lisa menahan tawa melihat tingkah laku mertuanya ini.


Padahal, jelas-jelas terlihat rasa rindu di wajahnya, namun sikapnya menunjukkan lain. Apa sulitnya mengakui perasaan? pikir Lisa.


"Biarin saja. Biar dia tahu rasa. Gimana rasanya di abaikan."


"Mami kan juga pengen beli sesuatu untuk calon cucu mami. Kenapa dia harus melarang mami."

__ADS_1


Ah... rupanya masih masalah itu. batin Lisa.


Memang setelah mereka membeli perlengkapan bayi Minggu lalu, Nathan melarang orangtuanya membeli lagi. Kepada mertuanya pun, ia mengatakan hal yang sama.


"Bagaimana jika dia lahir? Bisa-bisa, aku yang ayahnya ini tidak bisa menggendongnya sedetik pun." ucapan itu kembali terngiang saat mereka masuk ke kamar dan setelah mendapatkan protes keras dari keluarganya dan keluarga Lisa.


*****


Ketika Lisa sudah kembali ke kamar, Nathan segera menghampirinya dan bertanya pada sang istri.


Lisa hanya menghembuskan nafas lelah. Raut wajahnya pun, sudah menunjukkan jika hasilnya adalah tidak berhasil. Bahu Nathan merosot, wajahnya sendu. Lisa menepuk lengan suaminya.


"Mami kalau sudah merajuk susah deh." keluhnya.


"Bukannya dari awal Lisa sudah peringatkan kakak?" Nathan mengangguk.


"Pelan-pelan saja kak."


"Mami tuh sebenarnya kangen sama kakak, tapi masih sebal ingat kejadian Minggu lalu." ucap Lisa.


"Mami kenapa jadi kaya anak kecil ya?" Lisa mengendikkan bahunya tak tahu.


Bukankah setiap manusia seperti itu? Saat usia menua, maka sikap kekanakkan itu akan kembali seperti saat dirinya anak-anak.


Dulu, kita yang ingin di mengerti. Sekarang, merekalah yang ingin di mengerti. Dulu, kita yang di rawat. Sekarang, kitalah yang merawat mereka. Dulu, kita yang selalu di peluk. Sekarang, merekalah yang ingin di peluk. Seperti itu bukan siklusnya?


Setelah Lisa memberikan pendapatnya, Nathan memutuskan sesuatu dalam hati.


*****


Makan malam pun tiba. Semua penghuni rumah itu sudah berkumpul di meja makan. Nathan sengaja duduk di depan maminya.


Di lihatnya di meja makan, penuh dengan menu yang menjadi favorit keluarga itu. Nathan ingat, maminya sangat menyukai seafood. Namun, seiring berjalannya usia mami dan papinya mulai mengurangi makanan yang di kenal memiliki kadar kolesterol tinggi itu.


Nathan mengambil ikan salmon yang di oven dengan suhu yang tepat, dan meletakkannya di piring Nindya. Nindya terbelalak kaget melihat hal itu. Sama seperti Nindya, Gerry pun terkejut. Selama ini, Nathan tidak pernah melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


"Mami makan yang banyak. Biar sehat. Salmon itu bagus untuk kesehatan." ucapnya.


Lisa sendiri sempat tak percaya. Namun ia tersenyum melihat usaha dari suaminya itu untuk meluluhkan hati sang mami.


Wow... apa aku harus sering-sering merajuk ya, Nathan berubah jadi perhatian sama maminya. Hehehe... ucap Nindya dalam hati.


Alih-alih menjawab ucapan Nathan, Nindya memakan salmon yang di berikan putranya itu. Nathan tersenyum melihat sang mami memakan salmon yang di berikan nya.


Ia tak menyangka, jika ucapan istrinya yang mengatakan maminya merindukannya, adalah hal yang benar. Mungkin memang benar pendapat istrinya itu.


Baiklah, kali ini Nathan melayangkan pandangan. Ia melihat udang yang sangat di sukai maminya. Ia mengambil sedikit dan di letakkan di piring maminya.


"Kalau sedikit gak apa kok mi. Gak akan bikin sakit. Sesekali juga baik." ucapnya.


"Ada angin apa kamu melakukan ini sama mami?" tanya Nindya dengan dahi berkerut.


"Bukannya Nathan selalu memperhatikan mami!" serunya.


Baik Lisa maupun Gerry mertuanya, menahan tawa melihat kelakuan anak dan ibu itu. Nathan yang tak pernah melayani maminya kecuali sang mami sakit, kini merelakan diri untuk melayani sang ibu ratu itu.


"Sejak kapan?" tanya Nindya.


"Sejak hari ini. Asal mami gak ngambek lagi sama Nathan." janji Nathan.


"Siapa yang ngambek? Mami cuma lagi pengen diam saja." ketus Nindya.


Gerry dan Lisa tak bisa menahan tawa lagi. Mereka pun melepaskan tawa mereka. Diam-diam, Nathan dan sang mami merasa malu di hadapan mereka.


Sudah sangat lama hal seperti ini tak lagi terjadi di rumah mereka. Nindya dan Nathan memang tak pernah mau mengalah. Mungkin sejak Nathan memilih kuliah di Surabaya dulu. Dan ini pertama kalinya Lisa melihat kejadian langka seperti ini.


Dan sejak saat itu, kedamaian ibu dan anak itu pun kembali. Nindya tak lagi merajuk. Nathan pun, mulai memberikan perhatian pada maminya itu.


Bersyukur, baik orangtuanya maupun orangtua Lisa, tak lagi meributkan hal-hal yang bisa di pikirkan nanti. Entah keributan macam apa lagi yang akan terjadi saat bayi mereka lahir nanti.


Rumah tangga yang ku jalani ini, melebihi impian ku. Aku akan menjaganya hingga maut menjemput ku.

__ADS_1


__ADS_2