
Sampai di rumah, Nada melemparkan tasnya secara asal di kursi ruang tamu, lalu langsung masuk ke dalam kamar.
“Jahat kamu, Mas. Jahat!” isak Nada tersedu-sedu di atas ranjang dengan menenggelamkan kepalanya di balik bantal.
Melihat perlakuan Kaysan di depan matanya sendiri mampu membuat darah Nada berdesir. Ia tidak pernah menyangka jika Kaysan berani melakukan hal tersebut pada perempuan lain saat usia pernikahannya yang baru seumur jagung.
Karena kelelahan menangis, akhirnya Nada tertidur tanpa membuka kerudung dan mengganti pakaiannya.
***
Menjelang sore, Kaysan bersiap untuk pulang. Usai berpamitan pada sesama temannya laki-laki yang tidak tahu jika istrinya itu melihat apa yang dilakukannya siang tadi dan membuat Nada salah paham, terus melajukan kendaraan motornya ke penjual martabak manis makanan kesukaan sang istri.
“Pak, tolong bungkus dua, yah martabak coklat keju dan seres,” pesan Kaysan.
“Baik, Den.”
Sembari menunggu pesanan martabak selesai, Kaysan yang duduk di atas motor yang terlebih dahulu ia pinggirkan di pinggir jalan, mengambil ponselnya dari dalam saku celana berniat menghubungi nomor istrinya.
“Kok, nggak dijawab,”gumam Kaysan memandangi ponselnya.
“Mungkin saja, Nada sedang mandi.” Pikir Kaysan yang masih berusaha tenang dan berpikir positif tentang istrinya.
“Semuanya lima puluh ribu, Den,” ujar penjual martabak seraya menyerahkan dua kantong kresek hitam berisi martabak manis pesanan Kaysan.
Kaysan merogoh kantong celananya mengeluarkan selembar uang biru.
“Ini, Pak. Terima kasih,” ucap Kaysan. Laki-laki itupun berlalu dan langsung menuju rumahnya.
Suara lantunan alquran mendayu-dayu pertanda sebentar lagi masuk magrib. Sampai di rumahnya, Kaysan melihat rumahnya dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan cahaya.
__ADS_1
“Nada ke mana. Tumben sudah sore lampu belum dinyalakan.” Ia pun lekas turun dari motor.
“Loh, motornya ada kok. Kemana Nada,” gumamnya bingung. Tidak ingin terjadi hal buruk kepada istrinya, kaysan pun pun bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum, sayang.” Ucap Kaysan. Ia pun meraih saklar lampu dan menyalakan. Lalu melangkah menuju dapur. Sampai di sana, Kaysan tida menemukan keberadaan sang istri. Bahkan, kamar mandi kosong tidak ada orang.
Belum sempat ganti baju dan masih mengenakan jaket di tubuhnya, Kaysan menuju kamarnya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka. Kaysan bernafas lega saat melihat istrinya tengah tidur. Lalu ia pun mendekat ke arah ranjang. “Sayang. Bangun bentar lagi magrib.” Kaysan mencoba membangunkan sang istri.
Nada mengerjapkan kedua matanya secara perlahan mendengar suara suaminya. Lekas, ia pun bangun duduk.
“Loh, matamu kenapa sayang? kamu habis nangis?” tanya Kaysan panik melihat kedua kelopak mata Nada bengkak.
Nada tidak menjawab. Perempuan yang masih berbalut gamis itu lekas meraih handuk dan mengambil baju di dalam lemari bergegas menuju kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Kaysan.
***
Sampai makan malam pun, Kaysan merasa sikap Nada semenjak sore tadi menjadi lebih diam dan cuek. Semua perkataannya tidak ada yang digubris sama sekali.
‘Apa karena beasiswa itu yang membuat Nada jadi diam karena menolak ke luar negeri. Tetapi, Aku kan mengizinkannya. Terus kalau bukan itu, apa dong yang membuat Nada seperti ini menjadi pendiam,’ batin Kaysan. Sejak tadi dirinya mengamati gerak gerik sang istri.
Usai makan malam, Kaysan pun menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.
“Sayang, di kulkas ada martabak kesukaan kamu.” Ujar Kaysan sembari duduk di hadapan sang istri yang tengah membaca buku bersandar di atas ranjang.
“Aku tidak minat, Mas,” sahut Nada singkat tanpa melirik suaminya.
__ADS_1
“Bukannya martabak makanan kesukaan kamu?” tanya Kaysan lagi. Ia tidak menyerah untuk mencari tahu apa yang membuat istrinya itu diam.
Tidak tahan dengan omongan suaminya yang terus mengganggu konsentrasinya membaca, Nada pun menutup buku secara kasar dan beralih menatap Kaysan di depannya.
“Kamu berikan saja martabak itu pada perempuan yang kamu datangi rumahnya dan pegang-pegang mesra,” ketus Nada dengan mata berembun.
“Maksud kamu apa, sayang? Mas, tidak mengerti?” Kaysan bingung dengan ucapan sang istri. Menurutnya, tidak mungkin Nada melihatnya siang tadi saat di rumah Nuri.
“Kamu tidak usah mengelak, Mas. Aku melihat kamu dengan mataku sendiri. Kamu masuk ke dalam rumah seorang perempuan seksi dan kalian saling bermesraan di halaman. Kamu kira bisa menyembunyikan masalah ini, Mas? Tidak! Kamu tidak bisa membohongiku!”
“Ka-kamu salah paham, sayang. Kejadiannya tidak seperti i-“
Belum selesai Kaysan, berucap Nada sudah memotong ucapannya.
“Alah, sudahlah, Mas. Kalau memang kamu suka perempuan seperti itu kenapa justru kamu malah menikahiku,” lanjut Nada dengan air mata yang jatuh membasahi wajah cantiknya. Ia sudah kecewa kepada suaminya. “ Atau jangan-jangan selama ini kamu sudah lama berhubungan dengan perempuan seksi itu dan kalian berdua sudah lama menjalin kasih?” tuduh Nada.
“Tu-tunggu. Dengarkan penjelasan, Mas. Kamu salah paham. Apa yang kamu tuduhkan itu semuanya salah.” Kaysan berusaha memegang tangan Nada. Meyakinkan sang istri bahwa ucapannya salah. Namun Nada, terus menghindar.
“Aku tidak butuh penjelasanmu, Mas. Jangan sentuh aku, Mas! Aku tidak sudi di sentuh oleh pria brengsek seperti kamu!” seru Nada dengan emosi.
“Nada!” seru Kaysan tidak kalah keras. Kedua tangannya ia kepalkan seerat-eratnya. Urat di lehernya menyembul pertanda emosinya naik atas tuduhan istrinya yang tidak berdasar. Suaranya begitu menggelegar di dalam rumah. Sungguh ia baru kali ini bersuara tinggi kepada istrinya karena sudah terlanjur emosi melihat tingkah dan tuduhan Nada yang tidak berdasar.
Apa yang dituduhkan, Nada tidak seperti itu kejadiannya. Kaysan sungguh kecewa pada sang istri yang tidak mau memberinya kesempatan untuk menjelaskan titik permasalahannya.
Nada bangkit dari ranjang. “Keluar kamu dari kamar ini, Mas! Aku tidak ingin melihatmu apalagi berbagi ranjang dengan laki-laki yang sudah menyentuh perempuan selain istrinya,” Kata Nada dingin. Perempuan itu berbalik membelakangi suaminya yang masih duduk di atas ranjang.
Hati Nada begitu sakit saat teringat kembali apa yang dilakukan suaminya siang tadi di depan rumah Sari.
Kaysan memilih keluar dari kamar tanpa mengucapkan kata apapun pada istrinya. Karena menurutnya, Nada saat ini emosi. Begitupun dengan dirinya. Untuk menghindari hal buruk lebih baik ia mengalah. Kaysan pun berlalu dari dalam kamar. Laki-laki itupun meraih kunci motor dan melajukan kendaraan roda dua itu ke mesjid untuk menenangkan diri di sana untuk sementara.
__ADS_1
Mendengar motor suaminya berlalu dari rumah, Nada pun menangis sejadi-jadinya. “Astagfirullah, ampuni hamba Ya Allah. Hamba hanya manusia biasa.” Ucapnya menenggelamkan kepalanya dengan bertumpu pada kedua kakinya.