
Nadia begitu bahagia saat pertama kali dia memberi ASInya pada putri kecilnya, Edelweis. Matanya berbinar bahagia, senyum selalu terukir di bibirnya. Bahkan, Nadia tidak memperdulikan rasa sakit dari luka operasi sesarnya. Putrinya, Edelweis seolah - olah mengubah rasa sakit itu menjadi berkah.
Puas menyesap ASI mamanya, Edelweis akhirnya tertidur dipelukan mamanya. Nadia menatap wajah putrinya. Menyusuri setiap inchinya. Wajah putrinya sangat mirip dengan papanya, Erland. Hidungnya yang mancung, alisnya yang lebat, rambutnya yang ikal, dan kulitnya yang hitam manis.
Keajaiban sesungguhnya adalah saat wanita melahirkan. Tuhan meniupkan roh ke dalam rahim wanita, yang menjadi tempat tumbuhnya janin. Dan, sembilan bulan kemudian lahir ke dunia sebagai manusia.
Wanita juga adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Walau memang ada sebahagian wanita tidak bisa hamil dan melahirkan. Namun, kodrat wanita jauh lebih mulia dari pria. Wanita ibaratnya tanah, bila disemai dengan bibit unggul, dipupuk dan dirawat dengan cinta setiap hari, maka saat waktu panen tiba, dia akan menghasilkan buah yang baik.
Menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui dan menopause, adalah siklus kehidupan wanita. Bila sudah waktunya semua wanita akan mengalami menstruasi dan menopause. Namun, tidak semua wanita dianugrahi karunia hamil, melahirkan dan menyusui.
Ada wanita yang bisa hamil, lalu melahirkan. Namun, dia tidak dapat menyusui. ASI nya kering. Berbagai cara dilakukan agar ASInya bisa keluar, tanpa harus memberi susu formula kepada bayinya.
Ada pula yang bisa hamil, namun kehamilannya tidak dapat bertahan. Rahimnya lemah, dan dengan terpaksa dia harus merelakan janinnya dikuret. Berbagai cara dilakukan agar rahimnya kuat dan siap untuk dibuahi.
Nadia termasuk wanita yang sangat beruntung. Dia bisa hamil, melahirkan dan menyusui. Anugrah Tuhan sangat besar padanya. Mengingat betapa besarnya dosa yang dia perbuat dengan Erland di masa lalu.
######
"ASI kamu udah keluar, sayang?. Bayi kita mau menyusu?" Erland datang mengagetkan Nadia yang sedang asyik mengagumi wajah putri kecilnya.
"Iya" ... Nadia menjawab singkat sembari menganggukkan kepalanya.
"Kamu dari mana sih, jam segini baru nongol?" protes Nadia yang matanya masih tertuju pada Edelweis, putrinya.
"Aku tadi ke pasar, jumpai bang Togar. Mau minta gajiku. Ya setidaknya aku bisa bantu walau sedikit untuk biaya operasimu." Erland mengambil Edelweis dari pangkuan Nadia, dan meletakkannya di box bayi.
"Dikasih?" tanya Nadia singkat, lalu membaringkan tubuhnya. Pinggangnya sudah kesemutan. Apalagi luka operasinya masih berdenyut sakit.
"Ya!"
"Berapa?" kejar Nadia lagi.
"250 ribu,"... Erland menyodorkan uang itu ke hadapan Nadia.
__ADS_1
"Segitu cukup ya untuk biaya operasi?" Nadia sebenarnya sudah malas menanggapi, karena dia tahu pasti bakal begini juga akhir ceritanya. Nadia yang membayar semuanya.
"Pakai dululah uangmu, nanti aku ganti. Bang Togar janji mau nambahi nanti." Suara Erland sudah mulai tinggi.
"Sampai kapan sih kamu bisa bertanggung - jawab? Bahkan, anakmu sampai lahirpun tidak ada sedikitpun usahamu untuk berjuang demi kami, ya setidaknya untuk Edelweis." Rasanya sudah di ubun-ubun emosi Nadia.
Rasa sakit luka sayatan operasi sesarnya ternyata tak sesakit hatinya. Bertahan hanya itu yang Nadia bisa lakukan saat ini. Ada putri kecilnya yang sangat membutuhkan kehadiran mama papanya. Dia baru hadir ke dunia, namun sudah disambut dengan percekcokan mama papanya.
"Coba tanya sama mama, atau kak Rena (kakaknya Erland), mungkin mereka ada uang. Pinjam saja dulu" saran Nadia.
"Manalah ada uang mereka!" sengit Erland dengan memasang wajah marah.
"Ya sudah kalau begitu, minta saja sama mamaku. Mamaku pasti sanggup melunasinya"... balas Nadia pedas.
"Minta saja sendiri!"... hardik Erland dan membalikkan badannya keluar dari ruang rawat Nadia.
Nadia menatap punggung Erland hingga menghilang di balik pintu.
Bulir bening tak terasa menetes di pipi pucat Nadia. Wajahnya yang putih semakin terlihat lebih putih. Wajar saja karena Nadia baru saja kehilangan banyak darah saat melahirkan kemarin. Namun, hal itu tak sampai membuatnya harus transfusi darah. Hanya infus yang masih bertengger di tangan kiri Nadia, sebagai penambah tenaga dan memulihkan kesehatannya.
Nadia menyibakkan kain kelambu penutup box bayi itu. Dengan perlahan dia memiringkan tubuhnya, menahan rasa sakit luka operasinya. Setelah Nadia merasa sudah berada pada posisi yang nyaman, dia mengulurkan tangannya meraih tangan kecil bidadarinya.
"Sayang, apapun yang terjadi, mama akan tetap di sisimu. Suka duka akan kita lalui bersama. Mama janji, kamu tidak akan pernah merasakan seperti yang mama rasakan saat ini. Kamu tidak akan kekurangan apapun. Cinta mama saat ini hanya untukmu, sayang. Tumbuhlah jadi anak yang kuat, sehat, pintar dan takut akan Tuhan."
Nadia menyeka wajahnya yang sudah banjir airmata. Mengembalikan posisi tubuhnya pada semula. Pinggangnya sudah sangat kaku, menahan berat tubuhnya saat posisi miring tadi.
Luka operasinya berdenyut sangat sakit. Nadia masih membutuhkan suntikan pengurang rasa sakit. Namun, waktu pemberiannya masih 2 jam lagi. Nadia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
Sekuat tenaga dia berusaha bangkit meraih tombol yang ada di dinding. Tombol yang tersambung ke ruang jaga perawat. Namun, tenaganya seakan habis. Suaranya pun seperti hilang karena menahan sakit.
Di kamar itu hanya tinggal Nadia pasiennya. Tadi pagi, 2 orang pasien sudah pulang. Yang satu melahirkan prematur, dan bayinya tak tertolong. Satu lagi operasi pengangkatan rahim, karena kanker serviks sudah stadium 3.
Keringat dingin sudah membanjiri tubuh Nadia, padahal di ruangan itu AC nyala. Bajunya basah oleh keringat.
__ADS_1
Nadia menatap putrinya seolah meminta bantuannya.
"oeeekkk... oeeekk...oeeeekk" ... tangis bayi Nadia begitu kencang. Seakan bayi merah itu tahu mamanya sedang berjuang melawan sakit.
Perawat datang tergopoh-gopoh disusul Erland, suami Nadia di belakangnya.
"Bayinya kenapa bu?" tanya perawat itu yang langsung memeriksa keadaan si bayi.
Namun, dia tak menemukan yang aneh pada si bayi. Popoknya kering.
"Haus mungkin bu,"... perawat itu menyampaikan perkiraannya sambil melihat ke arah Nadia.
"Ya Tuhan, ibu...!" Dengan refleks perawat itu langsung memencet tombol yang di dinding. Dia kaget melihat kondisi Nadia yang sudah sangat lemah. Dia segera memeriksa nadi dan infus Nadia.
"Kenapa ibunya ditinggal sendiri, pak?" tanya perawat itu pada Erland dengan kesal.
Erland hanya diam, dan berusaha menenangkan putrinya.
Satu orang perawat dan seorang dokter memasuki ruang rawat Nadia.
"Dok, sepertinya bius ibu Nadia sudah habis. Dia sangat kesakitan, dok"... ucap perawat itu pada dokter Ratna.
Dengan cekatan dokter Ratna menyuntikkan obat ke selang infus Nadia.
"Sus, bawa bayinya ke ruang bayi ya. Biar Ibu Nadia istirahat dulu. ASI yang dipompa bu Nadia masih cukup kan sampai nanti sore?"
"Masih dok" jawab perawat itu singkat, lalu mendorong box bayi Nadia.
Nadia memandang lemah ke arah bayinya, namun di bibirnya terukir senyuman.
"Terima kasih sayang, engkau menyelamatkan mama. Ikatan batin ibu dan anak ternyata benar-benar ada dan nyata"... ucap Nadia di dalam hatinya.
"Aku jatuh cinta lagi, cinta pada malaikat kecilku"
__ADS_1
********