
Selama hampir seminggu mendapatkan perawatan, akhirnya hari ini Kaysan diperbolehkan pulang, dengan catatan harus kontrol kembali setelah tiga hari.
Nada merasa tidak tahu harus berkata apa, sebab selama suaminya mendapat perawatan Kaysan tidak pernah mengajaknya berbicara. Justru laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu malah menghindarinya.
Tidak tahu menahu akan kesalahannya, Nada tetap saja melayani kebutuhan suaminya selama sakit. Pasalnya, Kaysan belum bisa terlalu banyak bergerak akibat cedera kepala yang dialaminya sehingga semua kebutuhan makanan, sampai soal ke buang air kecil atau besar, Nada terpaksa harus turun tangan. Dia tidak peduli dengan tatapan dingin suaminya. Daripada orang lain yang membersihkannya lebih baik dia sendiri saja yang mengrs suaminya sendiri. Walaupun ini sebenarnya salah satu tugas perawat, namun Nada tidak rela orang lain melihat tubuh suaminya.
“Mas, bisakan turun dari ranjang?” tanya Nada menginstruksikan agar Kaysan duduk di kursi roda untuk sementara waktu sampai di parkiran.
Seperti biasa, kaysan tidak merespon ucapab sang istri. Dengan perlahan dia turun dari ranjang dan mendaratkan tubuhnya pada kursi roda yang sudah disediakan sebelumnya oleh perawat.
Setelah mengurus segala administrasi, Nada membawa Kaysan keluar. Dia sudah memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Sebelumnya, Rudi selaku orang tua Nada sudah menawarkan agar mereka yang jemput menggunakan mobil keluarganya, namun dengan cepat Nada menolak. Karena dia tahu, suaminya tidak suka merepotkan banyak orang.
Sampai di depan lobi, taksi online yang Nada pesan sudah tiba di depan. Nada pun mendorong kursi roda suaminya sampai ke taksi.
__ADS_1
“Hati-hati, Mas.” Ujar Nada seraya membantu Kaysan masuk ke dalam taksi sembari menyusul suaminya duduk di kursi penumpang. Sang sopir sudah memasukkan barang bawaan mereka ke dalam bagasi.
***
Sampai di rumah, Nada memasak makan siang. Berhubung mereka berdua tiba sebelum duhur, Nada dengan gesit beradu di dapur mempersiapkan makan sianh. Dengan menggunakan bahan sederhana yang telah dibeli di warung depan rumah, Nada membuat sayur sop.
“Mas, makan dulu sebentar lagi masuk waktu duhur!” Nada menghampiri Kaysan yang tengah duduk di dalam kamar. Kedua tangannya sudah membawa nampan yang berisi nasi dan lauk pauk racikannya di dapur.
Tanpa menunggu lama, Kaysan segera meraih sendok dan memakan makanan yang sudah istrinya masak.
Usai salat duhur berjamaah, Nada meraih tangan suaminya hendak mencium. Dia tidak peduli dengan suaminya yang tidak mengajaknya berbicara. Selama Kaysan tidak mengusirnya dia akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik.
Masih berbalut mukenah dengan duduk saling berhadapan, Nada menatap suaminya dengan berkaca-kaca. “Mas, aku tidak tahu apa salahku sampai kau mendiamiku selama ini. Kalau ada, tolong katakan agar aku bisa tahu. Selama beberapa hari kamu sakit sampai sekarang kamu tidak pernah mengajakku berbicara.” Ucap Nada dengan suara parau.
__ADS_1
Nada meraih tangan Kaysan. Menggengam kedua tangan kekar itu. “Tolong katakan, apa salahku, Mas,” desak Nada. Ditengah isak tangisnya. Dia seperti orang yang linglung di dekat Kaysan. Tidak tahu harus berbuat apa agar suaminya itu menemaninya bercerita.
Kaysan menatap dalam manik mata Nada dengan sejumlah pertanyaan. Namun, dirinya terlanjur sakit hati saat ingatan di telepon kembali terngiang di kepalanya. Obrolan Nada dengan laki-laki yang sampai membuat dirinya kecelakaan.
“Kalau kamu memiliki seseorang yang bisa membuat hidupmu bahagia, aku tidak bisa apa-apa.” Ujar Kaysan dingin. Dia pun membelakangi Nada.
Nada terkesiap dengan ucapan suaminya.
“Mas, kamu ngomong apa, sih?” tanya Nada bingung mengartikan ucapan suaminya baru saja.
“Tinggalkan, aku sendirian!” seru Kaysan.
Tidak mendapat penjelasan dari suaminya, Nada terpaksa keluar kamar dengan hati yang perih. Air mata yang sejak tadi mengalir, keluar tambah deras.
__ADS_1