Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Perkataan Julid tetangga


__ADS_3

Akhir pekan menjadi waktu yang digunakan untuk berkumpul bersama keluarga. Baik itu dilakukan dengan cara bersantai, bertamasya, ataupun melakukan kerja bakti bersama keluarga.


Tidak terkecuali pada pasangan Kaysan dan Nada. Hari weekend ini mereka berdua sepakat mengunjungi kedua orang tua Nada. Biasanya baik Kaysan maupun Nada akan mengunjungi Rudi dan Masyita satu bulan sekali. Berhubung kakak kedua Nada bernama Safa baru saja melahirkan anak keduanya minggu lalu, semua anak dan menantu Rudi hari ini berkumpul di kediamannya untuk melaksanakan proses akikah kelahiran anak kedua  Safa dan suaminya Hasan.


“Mba Nada kapan nyusul kedua kakaknya menimang momongan? Jangan terlalu lama menunda loh, Mba. Walaupun sedang berkarir memiliki buah hati pasti menjadi dambaan, loh, Mba.” Kata salah satu kerabat yang diundang dalam acara akikah.


“Doakan saja, Bu.” Sahut Nada tersenyum ramah.


“Mba Nada tidak menunda ‘kan? Kasian sama Kaysan aja sih. Suami mana yang tidak mengiginkan adanya buah hati. Dari raut wajahnya sangat jelas terpancar. Lihat saja, saat Kaysan menggendong Farel (anak sarah dan Mizan) mereka berdua sangat terliha sangat akrab.” Ujar ibu Hati yang salah seorang anggota ibu-ibu pkk. Pandangannya tertuju pada Kaysan yang duduk di sebelah Mizan suami Sarah.


Nada melihat senyum dan tawa suaminya saat bersama dengan Farel ponakannya. Tidak menutup kemungkinan hati kecilnya juga menginginkan hadirnya seorang buah hati yang bisa menjadi pelengkap dan penghibur dalam rumah tangganya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, Bu, saya dan suami hanya bertawakkal kepada ALLAH SWT. Kalau rejeki sudah diatur. Begitupun dengan masalah momongan. Saya menyerahkan semuanya kepada ALLAH.” Ujar Nada bijak dengan tidak menyinggung perasaan ibu-ibu yang memberondonginya berbagai pertanyaan seputar momongan.


Sebagai seorang perempuan yang sudah menikah berbulan-bulan, siapa sih yang tidak menginginkan lahirnya buah hati. Begitupun dengan isi hati Nada. Semenjak kembali dari acara akikahan saudarinya, Nada duduk termenung di dalam kamar sembari mengusap perutnya yang tertutupi gamis berwarna pastel.


Menyadari sang istri melamun, Kaysan yang baru saja selesai membersihkan tubuh pun langsung mendekati dan memeluk sang istri dari belakang.


“Akhir-akhir ini, Mas perhatikan kamu sering melamun. Apa ada pikiran yang mengganggumu?” tanya Kaysan lembut seraya mengecup pipi kanan sang istri.


Tidak puas dengan jawaban sang istri, Kaysan pun membalik tubuh istrinya menghadap padanya.


“Sayang, kamu nggak bisa bohongi, Mas. Kalau ada masalah ataunsesuatu yang mengganjal pikiranmu katakan saja. Kita cari solusi sama-sama.”

__ADS_1


Perkataan suaminya membuat Nada membuka mulutnya. Dengan tatapan yang berkaca-kaca Nada akhirnya menceritakan semua uneg-unegnya kepada Kaysan. Dengan tenang, Kaysan mendengarkan penjelasan sang istri tanpa memotong sampai Nada selesai berkata.


Kaysan menghapus bulir bening yang sudah jatuh dari tempatnya membasahi wajah cantik sang istri. Sembari menggenggam kedua tangan Nada, Kaysan berkata, “Sayang, dengarkan Mas. Tidak usah pedulikan semua omongan orang lain. Kita berbuat baik, masih ada aja yang julid. Tidak berbuat baik, malah makin di cerita sana sini. Begitupun dengan menikah. Belum menikah, kita akan ditanya orang-orang kapan menikah. Pas setelah menikah, ditanya lagi kapan punya anak. Setelah anak lahir, kembali ditanya lagi, kapan memberikan adik. Semua pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan ada habisnya, sayang.” Kaysan menatap kedua mata istrinya dengan cinta.


“Kamu ingat, kisah seekor keledai bersama seorang ayah dan seorang anak?” tanya Kaysan.


Nada mengangguk. “Nah, begitulah orang-orang, tidak akan ada habisnya selalu mencari-cari kesalahan kita. Kita tidak bisa membungkam mulut semua orang. Biarkan saja mereka berkata apa yang akan mereka katakan. Akan ada saatnya mereka juga akan berhenti dengan sendirinya. Jadi, Mas minta kamu tidak usah memikirkan semua perkataan orang lain yang akan merugikan dirimu sendiri. Lebih baik kamu beraktivitas positif yang bisa menenangkan jiwa dan ragamu. Untuk masalah momongan kita serahkan kepada Sang Maha Pencipta ALLAH SWT, dan tentu dibarengi dengan berikhtiar.” Terang Kaysan panjang lebar.


“Kamu, paham sayang?” tanya Kaysan masih menatap sang istri penuh cinta.


“Iya, Mas.”

__ADS_1


“Kalau begitu, sekarang saatnya kita berikhitiar semoga apa yang menjadi harapan kita, Insya ALLAH akan menjadi kenyataan.” Perkataan Kaysan pun membuat Nada lebih rileks sekarang. Keduanya pun melakukan ibadah yang selalu mereka lakukan mereguk nikmatnya surga dunia.


__ADS_2