Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Mulai menaruh perhatian


__ADS_3

Tania tiba di kediaman Nathan, saat sore hari. Hatinya yang tengah diliputi rasa marah, belum juga mereda. Saat keluar dari resto itu, Tania segera menelpon Lisa dan menanyakan keberadaannya.


Saat Lisa mengatakan di rumah Nathan, ia bergegas menuju ke sana. Lisa sudah menunggunya.


Mereka pun berpindah tempat ke taman belakang. Setelah mbok Sumi mengantarkan minuman dan camilan, dengan nada kesal Tania meluapkan emosi itu.


"Dasar laki-laki tidak berpendirian, ketus ngeselin, pengen gue Pendem rasanya cowok begitu." umpatnya.


Lisa membelalakkan matanya tak percaya. Pada siapa umpatan itu Tania layangkan? Kenapa ia begitu terlihat kesal?


"Kakak kenapa?" tanya Lisa heran. Lisa memegang dahi Tania. Mungkin saja Tania demam.


"Apa sih... Aku baik-baik saja." ucap Tania masih dengan perasaan dongkolnya. Ia menepis tangan Lisa yang seakan mengecek suhu tubuhnya


"Kakak tuh aneh. Tadi bilang mau cerita sama aku, tapi nyatanya kakak malah mengumpat di sini. Itu siapa yang di umpat kakak. Kakak punya pacar?" tanya Lisa tanpa jeda.


Tania sampai mendesah mendengar semua pertanyaan lisa.


"Sudah selesai pertanyaannya?" Lisa mengangguk.


"Sorry..." Lisa mengerutkan dahi bingung.


"Sorry kenapa?" tanyanya.


"Kakak tuh lagi kesal." lirih Tania.


Tania pun menceritakan kejadian beberapa waktu lalu tanpa menyebutkan nama pria itu. Tania tak ingin, menjadi bahan olok-olokan oleh adiknya itu.


"Apa cowok itu dekat dengan kakak?" Tania menggeleng.


"Apa dia pernah menyatakan cinta sama kakak?" tiba-tiba, raut wajah Tania terlihat kembali kesal. Namun tak bersuara.


Cinta? di jodohkan sama gue saja dia gak mau, apalagi menyatakan cinta? Lengkap banget sudah. Tania menggeleng menjawab pertanyaan lisa.


"Ya sudah, kakak coba saja dulu. Menurutku, cowok itu suka—" Tania segera menyela.


"Stop. Gak usah di terusin." Lisa mengulum senyumnya.


"Itu gak mungkin." jawab Tania cepat.


"Kok kakak bisa bilang begitu?" tanya Lisa lagi.


"Mana ada sih, cowok yang suka sama seorang cewek, tapi mulutnya ketus luar biasa." gumam Tania sedikit pelan.


"Maksudnya?" Lisa yang tak mendengar jelas ucapan Tania, kembali bertanya.


Tania mengibaskan tangannya. Ia menengguk minuman yang tadi di bawakan mbok Sumi.


"Apa Nathan ketus sama kamu?" Lisa menggeleng.

__ADS_1


"Apa pernah dia cuek sama kamu?" tanyanya lagi.


Lisa mengangguk membenarkan ucapan Tania yang terakhir. Tania membelalakkan matanya tak percaya. Tania mengenal Nathan cukup lama. Ia tahu betul, teman sekaligus adik iparnya itu memiliki kepribadian yang hangat.


"Kakak gak percaya?" Tania mengerjapkan matanya.


"Itu terjadi di awal pernikahan." ucap Lisa. Pikirannya menerawang ke waktu satu tahun yang lalu. Di mana Nathan, masih terlihat cuek dan tak peduli padanya.


"Kamu gak bohong kan?" Lisa menggeleng.


"Tunggu saja. Begitu dia pulang, pasti langsung aku bejek-bejek." Lisa terkekeh.


"Itu dulu kak." ucap Lisa.


"Saat kak Nathan belum menyadari perasaannya padaku." imbuh Lisa.


Apa Gerald juga begitu? gumamnya dalam hati.


"Siapa sih cowok itu?" tanya Lisa penasaran. Pasalnya, Tania tidak pernah membicarakan masalah ini padanya.


"Nanti saja kakak kasih tahu." Tania mendesah lelah. Belum ingin rasanya ia berbagi cerita tentang Gerald pada keluarganya. Yang ada, mungkin ia akan segera di nikahkan dengan Gerald jika papinya mengetahui hal ini.


Lisa pun mengendikkan bahunya. Ia tak ingin memaksa sang kakak bercerita. Bagi Lisa, jika Tania ingin berbagi, maka ia akan memberitahunya sendiri.


*****


Beberapa hari kemudian, entah sudah berapa kali Tania mendapatkan pesan dari orang yang tidak ia ketahui. Orang itu, mengiriminya pesan. Saat Tania mengecek profilnya, tidak ada foto atau keterangan apapun di sana.


08xxxxxx


Jangan terlalu bekerja keras. Istirahat sejenak, tidak akan merugikan mu.


Tania mendesah lelah. Jujur saja, dari cara orang itu menulis pesan, Tania seperti mengetahui siapa orang itu.


Tania memilih tidak menggubrisnya dan membiarkannya.


Hingga malam menjelang, pesan demi pesan terus saja masuk ke ponselnya. Tania memutuskan membalas pesan itu kali ini.


***08xxxx


Sudah malam, tidurlah.


Tania


BISA TIDAK UNTUK TIDAK MENGGANGGU SAYA***!!!


Pesan yang di tulis Tania, sengaja di buat dengan huruf besar semua. Menandakan, jika ia merasa terganggu.


***08xxxx

__ADS_1


Saya tidak mengganggu kamu? Saya hanya mengingatkan.


Tania


TIDAK PERLU***!!!


Lagi, Tania membalas dengan cara yang sama. Karena perasaannya yang tengah kesal, Tania memutuskan mematikan ponselnya. Ia malas menghidupkan ponselnya. Kehidupannya terasa di usik oleh orang-orang yang tidak jelas.


Keesokkan paginya, Tania bangun dengan tubuh yang segar. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan membersihkan diri.


Setelah bersiap, Tania segera menuju ruang makan. Ia yakin, ayahnya pasti telah menunggunya untuk sarapan bersama.


Saat ia berada di ujung anak tangga, ia membuka mulutnya tak percaya saat melihat keberadaan Gerald di sana. Sejak kapan ayahnya dekat dengan Gerald? pikirnya.


"Sayang, ayo sarapan dulu." dengan berat hati, Tania melangkah mendekati meja makan dan bergabung.


Seperti biasa, alih-alih menyapa Tania, Gerald justru hanya meliriknya sekilas tanpa ekspresi. Tania memberengut kesal melihatnya.


"Kenapa Lo ada di sini?" tanyanya tanpa memandang Gerald.


Ardian mendongak dan menatap Tania serta Gerald bergantian. Ada apa dengan cara bicara putrinya yang manja ini? pikir Ardian


"Ingin bertemu denganmu." ucap Gerald lugas.


Ardian mengulum senyum. Pria di sebelah kirinya ini, sangat mirip dengan ayahnya saat muda. Tapi sayangnya, putri kecilnya itu kurang peka dengan perasaan pria itu.


"Gak salah?" Tania terlihat biasa saja. Bahkan terkesan tidak peduli.


"Tidak." jawab Gerald.


"Katakan ada apa." Gerald menatap Tania.


"Nanti saja. Kita berangkat bersama." Ardian hanya menjadi pendengar di antara mereka.


Tania semakin jengkel. Sang ayah yang biasanya begitu posesif padanya, entah mengapa kadar keposesifannya, kini telah berkurang. Ataukah ini hanya perasaan Tania saja?


"Sudah. Habiskan sarapan kalian. Ayah berangkat duluan." Ardian bangkit berdiri dan mengecup puncak kepala Tania.


Tania semakin tak mengerti dengan sikap ayahnya itu. Kemudian, ia segera menenggak segelas susu yang ada di mejanya dan membawa roti yang sudah ia beri selai. Ia berniat memakannya di mobil.


Sengaja Tania menyusul Ardian. Ia merasa perlu menghindari Gerald saat ini. Entah apa alasannya.


Tiba di halaman, mobil yang di kendarai Ardian sudah keluar dari halaman. Tania mendesah lelah. Tak lama, Gerald ikut keluar dan menarik pergelangan tangan Tania. Ia membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Tania begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Hingga setiap kata-kata yang ingin terlontar, seakan kembali tertelan dari tenggorokannya.


Gerald pun memutari mobil dan masuk di belakang kemudi.


"Pakai seat belt nya." perintah Gerald.

__ADS_1


Tania masih belum tersadar dari keterkejutannya. Hingga Gerald sendiri yang memasangkannya.


__ADS_2