Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Melahirkan


__ADS_3

Sejak pagi tadi, Lisa sudah merasakan mulas dan panas yang menjalar ke pinggang dan punggungnya. Ia bahkan sengaja berjalan mengelilingi taman untuk mempermudahnya dalam proses persalinan nanti.


Lisa memang sudah di minta bersiap-siap oleh dokter kandungannya. Nathan yang melihat istrinya masih terus mengelilingi taman di rumah pun menghampirinya.


"Sayang, sudah waktunya makan. Ayo, kita makan dulu." Lisa hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Lisa memaksa semua makanan untuk masuk ke perutnya. Sejujurnya, ***** makannya sirna, sejak rasa mulas mulai mendominasi. Meski masih sering menghilang, namun wajah Lisa sudah terlihat berbeda.


Nindya mengamati setiap perubahan di wajah menantunya. Nindya menduga, Lisa akan segera melahirkan. Terlihat bulir keringat sebesar biji jagung di sekitar dahi Lisa.


Nindya pun bangkit berdiri dan menghampiri Lisa. "Sudah dari kapan?" tanyanya seraya mengelap keringat menantunya itu.


Baik Gerry maupun Nathan segera menoleh. Gerry segera mengerti apa yang di maksud istrinya dan menghentikan suapannya. Sementara Nathan memperhatikan pembicaraan dua wanita yang di cintainya itu.


"Dari pagi tadi mi." jawab Lisa.


"Berapa menit sekali?" tanyanya lagi. Kini tangannya beralih mengusap perut buncit Lisa.


"Sekarang masih sekitar lima belas menit." Nindya menganggukkan kepala.


Matanya beralih menatap Nathan. "Nathan, segera siapkan semua perlengkapan Lisa." Nathan mengernyit.


"Sudah di siapkan kan?' tanya Nindya pada Lisa. Lisa mengangguk.


"Perkiraan dokter masih satu Minggu lagi mi." jawab Nathan yang masih belum mengetahuinya.


"Sudah... Kamu nurut saja sama mami mu." ucap Gerry menimpali.


Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tak ayal, dia melakukan perintah mami dan papinya tersebut. Ia melangkahkan kaki menuju kamarnya dan Lisa. Mengemas setiap keperluan ibu dan anak yang sudah Lisa siapkan.


"Nathan taruh mobil nih mi?" tanya Nathan.


"Iya." jawab Gerry.


"Jangan panik ya. Tarik nafas perlahan, terus hembuskan." Lisa melakukan petunjuk dari mami mertuanya.


Saat Nathan kembali kedalam, ia melihat wajah pucat istrinya dan mulai panik. Ia bergegas menghampiri istri dan kedua orangtuanya.


"Lisa kenapa mi?" tanya Nathan cemas.


"Kamu tenang." Gerry menghampiri Nathan dan menenangkannya.

__ADS_1


Nindya segera membuatkan teh hangat untuk Lisa minum. Lisa segera meminumnya hingga tandas. Lisa merasa ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya.


Matanya mengerjap. Ia berjalan tertatih menuju kamar mandi terdekat di area dapur. Nathan membantu memapahnya. Ia pun menunggu Lisa keluar dari kamar mandi.


"Gak usah di kunci sayang." teriak Nathan dari luar.


Nindya dan Gerry segera bersiap-siap. Tak lama kemudian Lisa, membuka pintu dan terlihat panik. Nathan yang melihat pun ikut panik.


"Kamu kenapa? Mami..." teriak Nathan pada mami nya.


"Kenapa?" Nindya segera berlari menghampiri Lisa dan Nathan.


"Mi, sudah ada flek." lirih Lisa.


"Ya sudah jangan khawatir. Kita ke rumah sakit sekarang." ucap Nindya.


"Papi aja yang bawa mobil Nathan sedang panik."


Mau tidak mau, Nathan mengikuti perintah maminya. Ia memapah Lisa dan mendudukkannya di kursi belakang. Nathan duduk di sampingnya.


Mobil segera meluncur menuju rumah sakit. Nathan sudah menghubungi dokter yang menangani Lisa.


Malam hari pun tiba, Kenzi segera mempersiapkan dirinya menuju restoran tempat ia melakukan janji temu dengan Mia.


Ia memantapkan hatinya untuk menyatakan rasa cintanya pada Mia. Kembali Kenzi melihat penampilannya.


Oke, udah keren, dan wangi. Gue perlu bawa bunga gak ya? ia sedang menimbang-nimbangnya. Pada akhirnya, ia memutuskan membeli sebuket mawar putih untuk Mia.


Kenzi tiba lebih dulu di restoran itu. Ia menunggu Mia datang dengan perasaan yang campur aduk. Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya untuk menghilangkan rasa gugup yang menderanya.


Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Entah sudah berapa puluh kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rasanya, waktu bergerak amat lambat malam ini.


Tepat pukul tujuh, seperti waktu yang di tentukan Kenzi, Mia terlihat menuju tempatnya datang. Seperti biasa, Mia lebih suka bergaya kasual dibanding feminim di hadapan orang terdekatnya.


Ia segera duduk di hadapan Kenzi. Kenzi keren banget... Apa ada acara? Atau mau kencan? pikirnya.


"Ada apa Zi?" tanya Mia tanpa basa basi.


Pelayan datang dan menyela pembicaraan mereka. Setelah memesan, Kenzi berniat menyatakannya secara langsung.


"Mi..." Mia menatap Kenzi dengan senyum tipis di b****nya.

__ADS_1


"Gue...." Kenzi gugup, teramat gugup.


Mia masih menunggu ucapan Kenzi.


Namun kejadian selanjutnya, membuyarkan semua ungkapan yang ingin di ucapkan Kenzi pada Mia. Ponsel Mia dan Kenzi berbunyi bersamaan.


Mereka pun menjawab panggilan itu bersamaan. Detik berikutnya mereka saling bertatapan dan mematikan panggilan itu.


"Lo bawa mobil?" tanya Kenzi.


"Iya gue bawa." jawabnya.


"Mau barengan aja atau masing-masing?"


"Masing-masing." jawab Mia segera melarikan diri ke area parkir. Begitu pun Kenzi.


Kenzi memukul roda kemudi seraya mengumpat. Ia merasa menjadi orang paling b**** sedunia. Mengapa ia harus bertanya, kenapa tidak langsung memutuskan menggunakan mobilnya.


"Argh... b****nya Lo Kenzi....." ucap Kenzi pada dirinya sendiri.


Mereka kini tengah menuju rumah sakit. Ya, mereka mendapat kabar jika Lisa akan segera melahirkan. Gerald yang menghubungi Kenzi, dan Nathan yang menghubungi Mia.


Setengah jam kemudian, mereka tiba di pelataran parkir rumah sakit. Mereka bergegas menuju ruang persalinan.


Terlihat, hampir semua anggota keluarga Lisa dan Nathan hadir di sana. Kenzi, yang sudah di anggap anak oleh keluarga Ferdinand pun mendekati mereka. Sementara Mia, adalah tunangan Bimo. Wajar jika dirinya ada di sana sebagai calon sepupu ipar Lisa.


Setelah menunggu hampir satu jam, mereka pun menghembuskan nafas lega saat mendengar tangis bayi menggema dalam ruang bersalin itu.


Seakan melupakan tujuannya, Kenzi tak lagi memperhatikan Mia. Jika saja Kenzi jeli melihat, dia akan melihat bagaimana Mia dan Bimo terlihat dekat secara fisik, namun jauh dari hati.


Bimo menggenggam jemari Mia. Dan Mia, balas tersenyum pada Bimo. Entah sudah berapa kali Mia melirik pada Kenzi. Namun pria yang di liriknya tak sedikitpun melihatnya.


Nathan keluar dari ruang bersalin. Setiap orang segera mengucapkan selamat pada ayah baru itu. Terlihat wajah haru dan lega di wajah Nathan. Bahagia, mungkin itu lebih tepat.


Kini, mereka berkumpul di ruang rawat Lisa. Sebentar lagi bayi mungil itu akan segera di bawa ke tempat Lisa di rawat.


"Cowok apa cewek nih." tanya Mia. Yang lain pun ikut mendengarkan. Pasalnya, Nathan tak memberitahu mereka tadi.


Kenzi menatap Mia nanar. Gagal gue ungkapin perasaan gue. Kapan lagi gue ungkapin? Kenzi menghela nafas dan menunduk. Gerald pun menepuk bahu Kenzi.


Namun ekor matanya menangkap pemandangan lain. Ia segera mengalihkan pandangannya dan melihat dengan jelas perhatian Bimo pada Mia. Benaknya di penuhi tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2