
Kenzi melahap bekal yang sudah ada di ruangannya tadi. Terlambat bangun pagi ini, menjadikannya tak sempat sarapan. Meski sang bunda telah menyiapkannya, Kenzi pergi dengan terburu-buru.
Pikiran Kenzi melayang ke beberapa hari yang lalu. Memang, belakangan ini Mia terlihat sering memberikannya perhatian. Namun Kenzi tak menganggapnya berlebihan.
Terkadang, gadis itu mengingatkannya makan siang. Kadang, mengajaknya jalan. Alasannya sederhana, 'sedang ingin keluar' katanya.
Sepertinya, Kenzi adalah tipikal pria yang tidak peka dengan perasaan wanita. Selesai melahap bekal itu, terlihat ponselnya berbunyi. Segera, ia membuka pesan yang masuk ke ponselnya.
Tania:
Sudah sarapan?
Kenzi segera membalas pesan itu.
Kenzi:
Baru saja.
Tumben sekali anak bosnya menghubungi dirinya pikir Kenzi saat membaca pesan dari Tania.
Tania:
Ya sudah. Mau makan siang bersama?
Kedua alis Kenzi, menyatu sempurna di dahinya. Apa maksud Tania bicara seperti itu? Pikirnya.
Kenzi tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, ia memilih tidak membalas pesan Tania lagi. Ia pun mulai mengembalikan fokusnya pada pekerjaan.
Saat mendekati waktu makan siang, lagi-lagi Tania mengirimkannya pesan. Bertanya hal yang sama seperti pagi tadi.
Di saat pikirannya tengah berkecamuk antara ya dan tidak, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, justru Mia yang mengirim pesan. Kenzi menghembuskan nafas lega saat melihat nama Mia. Setidaknya, itu bisa ia jadikan alasan untuk menolak seorang Tania.
Mia:
Zi, Lisa mau ajak makan bareng nih. Mau ikut gak. Sebelum dia melahirkan katanya.
Kenzi:
Oke.
Dengan senang hati, Kenzi memilih makan bersama para sahabatnya. Ia pun mengirimkan pesan permohonan maaf pada Tania. Berharap, gadis itu bisa mengerti dirinya.
*****
Kenzi tiba di restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka. Ia memutar pandangannya mencari dua orang terdekatnya.
Saat matanya menangkap keberadaan mereka, ia pun menghampiri mereka. Dengan langkah pasti, Kenzi tiba di meja mereka, dan duduk di samping Mia.
"Sudah lama?" tanya Kenzi pada mereka saat ia sudah duduk.
"Baru Lima menit kok." jawab Lisa.
__ADS_1
Entah mengapa, lidah Mia terasa kelu. Satu patah katapun tak keluar dari mulutnya. Padahal sebelumnya ia masih membicarakan banyak hal dengan Lisa.
"Kok tumben Lo diem?" tanya Kenzi pada Mia.
Mia tersenyum kaku dan tak membalas pandangan Kenzi. Ia merasa canggung. Lisa menatap mereka bergantian.
"Oh iya, makasih ya bekal nasi gorengnya pagi tadi." ungkap Kenzi. Tidak lupa, senyum manis milik Kenzi terkembang.
Jantung Mia seperti berlomba. Hingga ia hanya menjawabnya dengan anggukan. Mia berusaha bersikap seperti biasa. Lisa tersenyum mendengar penuturan Kenzi. Sudah ada kemajuan rupanya. pikir Lisa.
Tak lama pelayan datang dan mencatat pesanan mereka. Sambil menunggu makanan tiba, mereka saling bertukar cerita.
"Bagaimana kondisi janin Lo?" tanya Kenzi pada Lisa.
"Dia baik, sehat." jawabnya.
"Masih lama ya lahirnya?" kali ini, Mia yang bertanya.
"Kurang lebih, satu bulan lagi." jawab Lisa dengan pancaran mata berbinar.
Lisa dan Nathan memang sangat antusias menyambut kedatangan buah hati mereka. Segala perlengkapan, sudah tersusun rapih di kamar bayi.
Tak lama kemudian, pelayan mengantarkan pesanan mereka. Baru saja mereka ingin menyantap makanan itu, terdengar suara lain dari belakang Mia dan Kenzi.
"Kenapa aku tidak di ajak berkumpul?" tanyanya.
Serempak, mereka menolehkan pandangan pada sumber suara. Seketika, wajah Mia berubah jadi masam.
"Kakak apaan sih. Sini." ucap Lisa pada Tania.
Mereka makan dalam diam. Hingga semua makanan tandas, tidak ada yang berbicara. Hanya saling melirik satu dengan yang lain. Lisa dan Tania terlibat pembicaraan meski tak terlalu sering. Antara Kenzi dan Mia, benar-benar tidak ada.
*****
Langit mulai berganti warna menjadi jingga, saat Mia membereskan meja kerjanya. Sejak siang tadi, moodnya berubah drastis. Ia jadi jauh lebih pendiam.
Rekan-rekannya sendiri heran melihat Mia. Mereka sangat tahu betapa cerewetnya Mia. Melihat ke-diamannya, membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Mungkinkah gadis itu tengah sakit? Tidak mungkin kan ia patah hati? Mereka sangat tahu, jika Mia seorang jomblo.
Baru saja Mia selesai, terlihat Kenzi yang menghampirinya. Pria itu membawa kotak bekal yang Mia bawa pagi tadi. Kotak bekal itu pun sudah Kenzi cuci sampai bersih di pantry sebelum ia pulang tadi.
"Ini Mi. Makasih ya. Sering-sering saja." ucap Kenzi seraya tersenyum.
"Enak saja Lo. Kebetulan saja tadi pagi gue bikin lebih. Berhubung gue kenyang, ya gue kasih ke Lo deh." Mia sepertinya malu mengakui jika dirinya memang sengaja membuatkan makanan kesukaan Kenzi.
Kenzi terkekeh. Kemudian pria itu berpamitan dan hendak keluar. Namun, Mia menahan langkahnya.
"Tunggu Zi. Sebagai gantinya, Lo harus nganter gue balik." Mia tersenyum.
"Perhitungan banget." cibir Kenzi.
"Emangnya ada yang gratis di dunia ini?" Kenzi membelalakkan kedua matanya.
__ADS_1
"Gila, baru tahu gue Lo punya sifat kaya begini." ujar Kenzi.
"Gak usah protes. Mau gak?" desak Mia.
"Okelah. Ayo." dengan terpaksa, Kenzi menyetujui permintaan Mia.
Dalam hati, Mia bersorak penuh kemenangan. Wajahnya yang semula mendung, berganti cerah secerah mentari pagi.
Tiba di loby, terdengar suara Tania memanggil Kenzi. Jengkel, Mia merasa Tania seolah merusak suasana.
"Ken..." panggil Tania.
"Kenapa?" tanya Kenzi.
"Bareng ya. Gue gak bawa mobil. Tadi, gue naik taksi. Mobil ada di kantor." Tania mencoba menjelaskan.
Dasar perusak suasana.... geram Mia dalam hatinya.
"Kamu saya yang anter." mereka menatap pada sumber suara secara serempak. Tidak tahu sejak kapan Gerald di dekat mereka.
"Gak mau." tolak Tania.
"Kenapa?" tanya Gerald.
"Emangnya harus ada alasan ya?" bukannya menjawab pertanyaan Gerald, Tania justru balik bertanya.
"Tentu saja." Tania menutup matanya sejenak dan menghembuskan nafas kasar.
"Gue mau pulang sama orang yang gue suka. Dan itu Kenzi." tidak hanya Mia yang terperangah, Kenzi dan Gerald pun sama.
Di lihat dari sorot mata Tania, tidak ada sedikit pun keraguan di sana. Mia merasa hatinya hancur. Seperti di tusuk ribuan jarum, pedih tak terkira.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Mia meninggalkan tempat itu. Airmatanya sudah ingin tumpah rasanya. Namun ia terus menghalaunya sekuat tenaga.
Kakinya terus melangkah menjauhi gedung National Group, milik keluarga Atmadja. Mia tidak tahu sudah berapa lama ia berjalan. Saat ia menyadarinya, langit mulai terlihat mendung, semendung hatinya.
Gadis itu ingin menyerah. Akan tetapi, hati kecilnya tidak bisa menerimanya. Haruskah ia menyerah pada cintanya yang bahkan belum berlabuh itu? Haruskah ia menerima perjodohan yang di sarankan orangtuanya?
Di tengah lamunannya, seseorang membunyikan klakson mobilnya dan membuka kaca jendela mobilnya.
ππππ
Siapa ya???
Hai genks... terimakasih masih setia di cerita ini. Maafkan diriku yang tidak bisa up cepat. Terkadang, waktunya tidak tepat.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya....
Mampir juga di karya ku yang lain ya, bagi yang belum mampir. Sudah End, hanya extra part saja. Untuk extra part, tidak setiap hari up ya genks.
Judul karya: My husband, my brother personal bodyguard.
__ADS_1
Thank you genks....
Love youππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ