
Sejak tadi, Nada tidak henti-hentinya menangis di depan ruang operasi suaminya. Mendengar Kaysan kecelakaan membuat dunia Nada seolah runtuh. Padahal , Nada sudah merencanakan membuat masakan favorit sang suami. Makanya ia pulang cepat begitu urusan kampus selesai.
Namun sayang, kabar mengejutkan dari pihak rumah sakit membuatnya tidak mampu monopang tubuhnya. Untung saja, Randi yang masih menemani Nada saat motornya mogok langsung menangkap tubuh Nada dan dibawa segera kenrumah sakit tempat Kaysan di rawat.
Sementara itu, Randi yang tengah duduk di taman rumah sakit masih tidak percaya dengan status Nada yang sudah menikah. Ia tidak menyangka, Nada sudah menjadi istri dari seorang laki-laki yang tengah terbaring lemah di atas bangkar ruang operasi. Randi menyugar rambutnya ke belakang. Putus sudah harapannya untuk mempersunting Nada.
Segala macam pendekatan ia lakukan demi menaklukan hati sang pujaan, namun, terlebih dahulu Nada memilih pria sederhana yang sangat jauh dari dirinya menjadi pendamping hidupnya.
“Huft! Aku tidak menyangka jika kamu sudah bersuami, Nada. Pupus sudah harapanku kepadamu.” Randi berkata seraya menatap kosong pandangam ke depan. “Pantas saja kamu menolak mengambil beasiswa di Inggris, karena kamu sudah bersuami. Kamu memilih suamimu dibandingkan dengam karirmu.” Randi tertawa miris dengan satu sudut bibir terangkat ke atas lalu berjalan menuju ke parkiran dengan hati yang patah. Ibarat pepatah, layu sebelum mekar. Begitulah hati Randi saat ini. Antara gelisah dan kecewa.
***
Lampu di depan ruang operasi sudah mati. Nada tidak sabar menunggu penjelasan dokter lebih akurat mengenai kondisi suaminya. Oleh karena itu ia cepat berlari ke depan pintu menunggu dokter keluar.
__ADS_1
“Sabar, Nak. Tunggu dokter keluar.” Ujar Rudi papa Nada yang duduk di kursi ruang tunggu.
“Benar apa yang dikatakan, Papamu sayang. Sembari menunggu dokter, Kamu berdoa semoga Kaysan baik-baik saja pasca operasi.” Kali ini Masyita, mama Nada ikut berkomentar.
Nada menuruti perkataan kedua orang tuanya. Tidak lama, seorang laki-laki muda berpakaian hijau keluar dari rumah sakit. Nada pun segera berdiri dan langsung menanyakn perihal kondisi suaminya.
“Dokter bagaimana hasil operasi suami, saya?” tanya Nada dengan raut wajah yang tidak sabar.
Dokter muda itu melepas kacamata yang bertengger di atas hidung mancungnya, “Nona, tenang saja, kondisi Tuan Kaysan bagus usai melewati msa krisisnya. Oleh karena itu, kalian tunggu saja di ruang perawata. Kami akan segera memindahkan pasien,” terang dokter berkacamata itu.
***
Semenjak Kaysan di pindahkan ke ruang perawatan, Nada tidak pernah beranjak dari samping bed Kaysan. Perempuan itu terus saja berdzikir dan sesekali mengaji menunggu sampai suaminya siuman.
__ADS_1
Mendengar suara sayup istrinya, Kaysan memperlihatkan respon dengan pergerakan jemari tangannya yang bergerak.
“Ha-haus.” Ucap Kaysan.
Nada terkesiap melihat sang suami siuman. “Alhamdulillah, Mas sudah sadar.” Ujar Nada. Lalu meraih botol mineral yang ada di samping nakas. Dengan bantuan sedotan, Kaysan mulai minum membasahai tenggorokannya. Setelah itu Nada memanggil dokter untuk memberi tahukan kondisi suaminya pasca siuman.
Tidak lama kemudian, seorang dokter berpakaian putih dengan stetoskop yang menggantung di telinga langsung datang bersama perawat. Usai pemeriksaan alat vitalnya yang semuanya baik-baik saja, Kaysan lalu membuang muka dan tidak merespon ucapan istrinya sepeninggal dokter dan perawat.
Melihat suaminya merajuk, Nada pun menanyakan soal itu, Pasalnya sejak tadi Kaysan cuek tanpa berkata satu apapun.
“Sayang, kamu kenapa? Ada masalah?”tanya Nada dengan meraih telapak tangan Kaysan.
Namun laki-laki itu langsung menarik tangannya dan tidak sudi disentuh oleh Nada, istrinya. Nada pun mengernyitkan kedua alisnya. “Ada apa ini?” tanyanya dalam hati.
__ADS_1