Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Sepenggal kisah masa lalu


__ADS_3

"Maaf, Aku tidak akan menikah dengan Mia." ucap Bimo tegas.


Hendrik yang baru saja menelan roti tersedak. Ia terkejut mendengar pernyataan Bimo tadi. Bukankah malam tadi Bimo dan Mia baru saja jalan bersama? Kenapa tiba-tiba Bimo mengatakan itu.


Hendrik meraih gelas berisi air di hadapannya. Ia segera meminum isinya hingga tandas.


"Kamu gak bercanda kan Bim?" tanya Hendrik.


"Bimo serius pa." Bimo menatap Hendrik serius.


Jika Bimo sudah menatap seseorang seperti itu, maka bisa di pastikan jika ucapannya sungguh-sungguh.


"Boleh papa tahu alasannya?" tanya Hendrik lembut.


Bimo terdiam. Haruskah ia katakan jika Mia tidak mencintainya? Ataukah ia katakan jika Mia sudah mencintai pria lain? Bimo tengah menimbang-nimbang untuk menjawab pertanyaan itu.


"Tidak ada cinta di antara kami." ucapnya tanpa ekspresi sedikit pun. Ia pun bangkit berdiri dan berniat pergi lebih dulu.


Hendrik tak bisa mencegahnya. Ia tahu, Bimo belum bisa membuka diri sejak di tinggalkan kekasihnya lima tahun lalu. Kekasihnya, lebih memilih menikah dengan pria lain di banding putranya itu.


Ada rasa bersalah yang bersarang di hati Hendrik. Saat hal itu terjadi, Hendrik masih melakukan misi balas dendam b**** nya itu. Hingga ia tak mengetahui hal itu.


Bahkan, kondisi Bimo sempat jatuh. Jika bukan karena seseorang yang membantunya empat tahun lalu, mungkin Bimo masih akan terpuruk. Entah mengapa, gadis itu menghilang tanpa jejak.


*****


Bimo tengah merasakan sakitnya di tinggal oleh sang kekasih saat itu. Ia terjerat dengan dunia malam. Entah apa jadinya jika gadis yang tidak di ketahui itu tak menolongnya.


Di saat Bimo membuat masalah dengan pelanggan lain di bar itu, gadis itu menolongnya. Bimo yang sudah terkapar tak berdaya dan mengalami banyak luka lebam di sekujur tubuhnya, di larikan ke rumah sakit.


Gadis itu tak mengetahui apa pun tentang Bimo. Saat melihat KTPnya, gadis itu hanya mengetahui alamat dan namanya saja.


Hingga Bimo bisa kembali dan bangkit dari keterpurukannya. Selama enam bulan perkenalan mereka, kedekatan itu terjadi begitu saja.


"Bim, aku harus pergi. Maaf jika aku meninggalkanmu tanpa mengatakan apa pun. Terimakasih untuk semua kebahagiaan yang kau berikan. Sampai kapanpun, aku akan menyimpan namamu di dalam hatiku. Jangan bersedih karena aku pergi. Bangkitlah, dan cari lah wanita yang mencintai dan kau cintai."

__ADS_1


with love,


SP


Hanya surat itu yang ia temukan. Bimo sendiri tak tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Nama saja ia tak tahu. Karena setiap di tanya, gadis itu selalu mengatakan "kau tidak perlu tahu namaku. Cukup aku yang mengetahui namamu".


Bimo menghela nafas kala mengingat sepenggal kisah dari masa lalunya. Empat tahun berlalu, jujur saja wajah gadis itu pun sudah tak lagi bisa di ingatnya. Hanya samar-samar ia mengingat sebuah tato bergambar kupu-kupu di belakang leher gadis itu.


Bimo mengenyahkan pikiran tentang gadis itu. Ia kembali teringat dengan gadis yang di tolong nya semalam. Ia harus mengembalikan barang gadis itu.


Segera, Bimo melajukan mobilnya menuju apartemennya. Tiba di sana, ia memencet bel. Meski apartemen itu adalah miliknya, namun ia tak berani masuk begitu saja. Terlebih, ada orang lain yang tengah menggunakannya.


Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Gadis itu terlihat sedikit lebih baik dari pada malam tadi.


"Boleh aku masuk?" tanya Bimo.


"Masuklah. Ini kan apartemen mu." jawab gadis itu.


Bimo pun melangkah masuk. Ia melihat makanan yang tersaji di atas meja. Bimo pun menoleh menatap gadis itu. Gadis itu mengerti dan segera menjelaskannya.


"Oh, itu. Tadi aku lapar, jadi aku membuat makanan dari bahan yang ada saja. Maaf tidak bertanya padamu dulu." ucap gadis itu tak enak hati.


"Oh iya, ini barang milikmu. Maaf semalam aku membuka dan mencari identitas mu." Bimo mengulurkan sebelah tangannya yang memegang tas milik gadis itu.


Gadis itu mengambilnya. "Terimakasih." ucap gadis itu.


"Stevi. Namamu Stevi. Itu yang kulihat di kartu identitas mu."


Stevi mengernyitkan kepalanya. Tiba-tiba saja, kepalanya terasa berdentum dengan kuat. Stevi mencoba memejamkan mata menghalau rasa sakit itu. Namun tak kunjung mereda.


Dengan sigap, Bimo menangkap tubuh Stevi yang akan terjatuh. Stevi memegang lengan Bimo kuat.


"Kita ke rumah sakit saja. Sepertinya kau mengalami amnesia." ucap Bimo.


Stevi menatap Bimo sendu. "Tidak usah. Aku hanya merasa sedikit pusing tadi." tolak Stevi.

__ADS_1


"Sudah makan?" tanya Bimo.


"Tadinya baru akan makan." jawabnya lirih.


Bimo menuntun Stevi untuk duduk di meja makan. "Makanlah." perintah Bimo.


"Kau tidak makan?" tanya Stevi.


"Tidak usah. Aku sudah sarapan tadi. Makanlah. Aku akan ke kantor sekarang. Jika butuh apa-apa, hubungi aku." Bimo menuliskan nomor ponselnya di atas secarik kertas, dan memberikannya pada Stevi.


Stevi mengangguk mengiyakan ucapan Bimo. Bimo pun segera meninggalkan apartemen dan bertolak ke kantornya. Sepeninggal Bimo, Stevi membongkar tasnya.


Aku tidak menyangka bertemu denganmu lagi. Bimo, apa kau tidak mengingatku? Apa kau sudah melupakanku? Hanya sedikit perubahan dari wajahku. batin gadis itu.


"Apa aku harus berpura-pura amnesia lagi? Tapi sampai kapan?" gumamnya.


Stevi mengambil ponselnya dan menghubungi kantornya. Ia mengajukan cuti, karena ia sedang kurang sehat.


Setelah izin kantor ia kantongi, Stevi berniat membersihkan apartemen milik Bimo. Tidak etis rasanya, di saat Bimo memberinya tumpangan, namun ia duduk bersantai dan membiarkan ruangan itu kotor dan berantakan.


Ia juga berbelanja online dan memesan kebutuhan dapur, serta mengisi kulkas di apartemen Bimo. Stevi merasa enggan kembali ke rumah. Apa lagi, ia selalu saja di tuntut menikah oleh orangtuanya.


Puncaknya adalah malam tadi. Saat orangtuanya menjodohkan dirinya dengan pria yang usianya jauh lebih tua darinya. Mungkin lima belas tahun di atasnya. Hampir seusia ayahnya sendiri.


Ponselnya berbunyi. Ia melihat nama yang tertera di sana. "Mama?" gumamnya. Ia memutuskan mengangkatnya.


"Iya ma?" jawabnya saat sambungan telepon itu ia terima.


"Kamu dimana nak?"


"Kenapa, mama sama papa masih berniat menjodohkan aku dengan tua bangka itu lagi?" tanyanya ketus. Rasanya, kemarahan Stevi sudah berada di puncak kepalanya.


"Bukan mama yang menginginkannya. Kau tahu bagaimana sifat papamu. Apalagi, papa sedang butuh uang banyak untuk membantu perusahaan."


"Dengan cara menjual ku pada pria yang lebih pantas ku panggil ayah itu? Mama tahu bagaimana hancurnya hati Stevi?" airmata merebak dari kedua mata Stevi.

__ADS_1


"Maaf kan mama yang tak bisa berbuat apa-apa."


Tanpa kata, Stevi memutus sambungan telepon itu. Sakit rasanya, saat orangtuanya sendiri menjual anak mereka pada pria hidung belang itu.


__ADS_2