Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

“Hey! Astaga kamu ke mana aja sih, Nad? Setelah lulus SMA kamu nggak ada kabar sama sekali tahu nggak! Bahkan teman-teman juga nggak tahu kamu kuliah di mana.” Cerocos Intan sahabat Nada saat SMA. Gadis berbalut gaun biru navy selutut itu langsung berhambur memeluk Nada.


“Kalau nanya itu satu-satu, Tan. Kebiasaan kamu dari dulu nggak berubah,” timpal Nada tersenyum senang bertemu kembali sahabatnya.


Keduanya pun saling melepaskan pelukan. “Gimana kalau kita, ke kafe dekat sini aja. Banyak yang harus aku tanyain sama kamu selama ini. Heran, begitu lulus sekolah nggak ada kabarnya sama sekali.” Kata Intan.


Nada hanya tersenyum menanggapi ocehan cerewet sahabatnya. Dia pun setuju ke kafe bersama Intan. “Kamu naik, gih ke mobil. Aku ngikutin dari belakang pakai motor. Nggak mungkin kan kalau aku tinggalin motor aku di sini.”


“Oke!” sahut Intan, naik ke mobil honda jazz merahnya. Dengan diikuti Nada dari belakang.


Sebelum naik ke motor, Nada mengabari suaminya melalui aplikasi hijau bahwa dirinya akan singgah di kafe bersama sahabatnya yang jaraknya dekat dari kantor Kaysan.

__ADS_1


***


Kini Nada dan Intan duduk di salah satu kursi yang ada di sudut ruang kafe yang bergaya minimalis. Keduanya memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalan.


“Jadi, kamu sudah menikah, Nad?” Tanya Intan usai menyeruput jus sirsak di depannya.


Nada mengangguk. “Iya, Tan. Tiga bulan yang lalu.”


“Jahat kamu!” ucap Intan menyahuti setelah mencomot kentang goreng di atas meja beserta sambal.


Dengan serius Intan menatap sepasang netra Nada lalu berkata, “Kata siapa! Kesalahan kamu banyak, loh Nad. Semenjak lulus SMA kamu nggak ada kabar. Lost contac sama kita. Bahkan teman-teman yang lain juga nggal punya nomor kamu. Mana kamu nggak punya media sosial lagi. Jadi susah dihubungi. Selama lima tahun terakhir kamu itu kayak ditelan bumi loh. Nggak ada kabar sama sekali. Bahkan, kamu kuliah di mana kami semua nggak ada yang tahu! Lah, pas ketemu, kamu dengam santai bilang sudah nikah. Siapa coba yang tidak kaget dengan semua itu!” imbuh Intan mendramastis.

__ADS_1


Seperti biasa, Nada hanya menggeleng dan tersenyum. Intan tipe sahabat yang tingkat khawatirannya berlebihan. Bisa dikatakan lebay dari dulu. Walau gayanya sedikit trendy namun tidak dengan kecerewetannya yang awet sampai sekarang.


Nada pun menjelaskan alasan dirinya tidak mengabari Intan selama ini. Bahkan memilih lost kontak dengan teman-temannya yang lain termasuk Intan.


“Iya, sih. Kamu kan pintar dan kurang bergaul ya ‘kan jadi kamu memilih kuliah di tempat yang beda dari kami.”


Yah, tempat Nada menimba ilmu selama S1 adalah kampus yang memiliki kualitas terbaik. Tidak salah jika Nada pun melanjutkan ke jenjang magister dan tidak mengambil di London. Secara kampus Nada salah satu kampus dengan penerimaan mahasiswa yang super ketat. Betul-betul hanya mahasiswa unggulan yang bisa masuk ke sana.


Keduanya pun bercerita panjang lebar selama beberapa tahun terakhir. Nada yang jarang berkumpul di reuni SMA membuat beberapa teman mereka beropini kalau Nada sombong makanya hilang kontak.


Namun semua ditepis dengan penjelasan Nada yang masuk akal. Untung Intan mengerti dengan sahabatnya itu. Sampai menjelang sore, keduanya pun mengakhiri pertemuan dadakan kali ini. Dan keduanya pun berjanji akan kembali bertemu lagi.

__ADS_1


“Sampai jumpa lagi, Nad. Next dipertemuan kita selanjutnya lo bawa suamimu.”


“Inysa Allah.” Keduanya pun berpisah di parkiran


__ADS_2