
Tania dan Lisa sedang menghabiskan waktu bersama. Mereka mengajak baby Tama hari ini. Sementara Nathan sedang bekerja. Mereka berencana pergi ke taman kota. Baby Tama kini sudah mulai bisa membalikkan tubuhnya sendiri.
"Sudah siap?" tanya Tania saat melihat Lisa menggendong baby Tama dan membawa tas perlengkapan baby Tama.
Lisa mengangguk. Tania pun berinisiatif untuk membantu adiknya itu membawa tas perlengkapan milik keponakannya yang menggemaskan.
Dalam perjalanan, sesekali Tania menggoda baby Tama yang sudah mulai terdengar tawanya.
"Baby Tama kelihatannya menyukai kakak." ucap Lisa memperhatikan putra kecilnya itu.
"Jelas saja. Aku ini kan cantik. Benarkan sayangku..." terdengar tawa khas baby Tama.
"Kau dengar itu sayang? Tante mu bilang dia cantik. Tapi lihat, om Gerald saja belum bisa dia taklukan." sindir Lisa.
"Itu lain cerita Lis." jawab Tania santai.
Tak lama kemudian, mereka tiba di taman. Tania segera memarkirkan mobilnya dan membuka bagasi belakangnya. Dia mengeluarkan beberapa boks makanan serta tikar untuk mereka duduk.
Mereka terkejut saat melihat keberadaan Mia dan Stevi di sana.
"Kalian piknik tidak mengajak kami?" Mia menunjukkan raut wajah sedih miliknya pada Tania dan Lisa.
Lisa terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu. Terutama saat melihat wajah Mia yang seperti itu. Stevi tersenyum menghampiri Lisa dan mengambil alih baby Tama. Baby yang selalu menjadi rebutan di tengah keluarga besarnya dan Nathan.
"Jadi, kapan kak Stevi dan kak Bimo akan menikah?" tanya Mia saat melihat Stevi menggoda baby Tama.
Saat ini, mereka sudah duduk di dekat pohon rindang di taman itu dengan beralaskan tikar. Kedua mata baby Tama terlihat bersinar melihat sekelilingnya.
"Rencananya, akhir bulan ini." ucap Stevi dengan pipinya yang merona malu.
"Wah, tinggal beberapa Minggu lagi ya." ucap Lisa.
Mereka pun mulai bersenda gurau. Hingga matahari meninggi, dan baby Tama tertidur pulas di dalam baby bouncer miliknya. Ke empat wanita itu, mulai membuka keranjang yang berisi makan siang mereka.
Kemudian, mereka mulai menikmati makan siang sambil berbincang santai. Hembusan angin yang menerpa tubuh mereka, seakan menjadi penyejuk untuk hari yang indah itu. Baby Tama pun, seolah terbuai dengan suasana di taman.
Taman itu sendiri terlihat ramai dengan anak-anak dan para orangtua mereka. Wajar saja, saat ini memang tengah weekend.
Makanan mereka telah habis. Kini, mereka tengah membereskan sisa makanan dan membuang nya ke tempat sampah.
"Bagaimana denganmu Tania? Apa sudah ada kemajuan dalam hubungan kalian?" Tania menatap Stevi. Ia menampilkan senyum manisnya dan menggeleng.
Meskipun begitu, Stevi tahu hati Tania tengah meratapi nasibnya percintaannya. Meski Gerald terlihat mulai mendekatinya, namun Tania bisa melihat jika Gerald belum bisa mencintai Tania. Jujur saja, Tania ingin menyerah.
__ADS_1
"Sabar ya." ucap Stevi menepuk pundak Tania.
"Iya." jawabnya cepat.
Di tengah obrolan seru para wanita itu, tiba-tiba saja para pria muncul menghampiri mereka.
"Loh, sudah selesai pekerjaannya kak?" Nathan hanya mengangguk seraya menciumi pipi gembil milik putranya.
"Bukannya kamu rapat sayang?" tanya Mia ke arah suaminya Kenzi.
Kenzi mencium pipi Mia dan mengangguk. "Semua terserah pada bos besar sayang." ucap Kenzi seraya melirik Gerald yang terlihat salah tingkah di depan Tania.
Mia mengikuti arah pandang Kenzi suaminya. Seketika dia terkekeh.
"Kamu sudah makan?" kali ini, Stevi bertanya pada Bimo.
"Sudah sayang." Bimo mengelus sayang rambut panjang Stevi.
Sementara itu, baik Tania maupun Gerald, hanya menatap ke kejauhan tanpa berbicara. Gerald merasa bingung ingin bicara apa. Terlebih, ada Nathan dan Kenzi yang siap menggodanya.
*****
Langit mulai menampakkan semburat jingga kala ke empat pasangan itu meninggalkan taman. Baby Tama sudah berganti pakaian.
Dalam perjalanan, baik Tania maupun Gerald tak bersuara. Hanya bunyi deru mesin yang terdengar. Sesekali, Gerald selalu mencuri pandang pada Tania.
"Kenapa?" tanya Tania yang sudah merasa di perhatikan Gerald sejak tadi.
"Tidak ada." jawab Gerald.
Tania kembali menatap jendela sampingnya. Seolah pemandangan di tepi jalan sana lebih menarik.
Gerald kembali menghela nafasnya. Rasanya pria itu merasakan sesak yang tak bisa ia jelaskan. Ia menarik dasi yang di gunakan nya. Dasi itu terasa mencekik lehernya. Kemudian, membuka kancing teratas kemejanya.
"Apa hubungan kita belum berubah?" pertanyaan ambigu dari Gerald membuat Tania menatap pria itu dengan kening berkerut.
"Maksud nya?" tanyanya bingung.
Siapa yang tak bingung mendapatkan pertanyaan itu. Memangnya, hubungan mereka harus berubah di saat Gerald tak mengucapkan apa pun pada Tania? Apa lagi, Gerald tak pernah menyatakan apapun.
Gerald mendesah. "Teman. Apa tidak bisa kita ubah?" tanyanya.
"Apa kau sudah bisa menggeser posisi wanita itu dari hatimu?" Gerald tersenyum pedih.
__ADS_1
Pria itu sadar, jika hatinya masih di isi dengan nama Lisa. Ingin sekali pria itu menghapus nama Lisa dan menggantinya dengan nama Tania. Entah mengapa rasanya sangat sulit.
"Sulit." lirih Gerald.
"Sulit atau kau yang tak pernah ingin melupakannya?" Tania menatap Gerald dari samping.
Benarkah itu? Apa aku tidak ingin melupakan Lisa? Ataukah ini memang sesuatu yang sulit untuk ku lakukan? Gerald tenggelam dalam pikirannya.
"Sepertinya opsi kedua adalah jawabanmu." Tania tersenyum miris.
Mengucapkan hal itu, membuat hati Tania berdenyut. Sakit, namun sulit untuk di obati.
"Ta..." ucapan Tania terpotong. Karena Gerald mulai membuka suaranya.
"Tapi aku sedang mencobanya. Meski belum sepenuhnya, menikahlah denganku." pinta Gerald.
Saat ini mereka sudah tiba di halaman rumah Tania. Tania membelalakkan mata mendengar permintaan Gerald.
"Kau melamar ku?" tanya Tania.
Wanita itu tak pernah menduga. Dulu, dirinya berkhayal akan di lamar dengan suasana romantis. Lihat lah sekarang, tidak hanya tidak romantis, tetapi juga tanpa cinta.
"Iya." jawab pria itu datar.
Tania terkekeh. "Tidak mau." jawabnya.
Tania segera membuka pintu sampingnya. Belum sempat dirinya keluar, Gerald menariknya dan memeluk nya. Tania terkejut.
"Aku tahu alasanmu menolak ku. Jika ku katakan aku mulai menyukaimu, apa kau akan percaya?" Tania tak menjawab.
"Sepertinya tidak."
Gerald melepas pelukannya dan menatap manik mata Tania. Mereka saling bertatapan cukup lama. Hingga Gerald memangkas jarak antara mereka dan menautkan b****nya di b**** Tania.
Tania membelalakkan matanya. Tak ada perlawanan dari Tania. Gerald pun melanjutkan aksinya dengan m****** b**** itu. Dengan lembut, Gerald mencecapnya.
Tania terhanyut. Jantung mereka mulai berlomba dengan detak yang semakin cepat. Tania mulai mengikuti gerakan b**** Gerald dan membalasnya.
Setelahnya, Gerald melepaskan b****nya dan menyatukan kening mereka.
"Aku sungguh-sungguh. Aku mulai mencintaimu. Percayalah padaku. Maaf, karena aku membutuhkan waktu lama untuk menyadarinya. Menikahlah denganku." sekali lagi, Gerald meminta Tania menjadi pendampingnya.
Airmata Tania luruh. Ada rasa lega di d***nya saat mendengar ucapan Gerald. Kemudian wanita itu pun menganggukan kepalanya setuju.
__ADS_1