
Laras dan Tania larut dalam pembicaraan. Saat waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Tania berpamitan. Laras pun tak menahan gadis itu.
"Tania, pulang dulu ya Tante." pamit Tania.
"Kamu hati-hati ya." Laras mengusap lengan Tania lembut.
Setelah Tania pergi, Laras kembali ke dalam. Ia melihat Gerald yang tertidur di dekat William ayahnya. Laras berjalan mendekat dan melihat suaminya. Wajahnya tak sepucat tadi.
Lalu, Laras mencoba kembali tertidur. Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Ia kembali teringat ucapan Tania tadi.
"Boleh Tante tanya?" ucap Laras saat mereka duduk.
"Silahkan Tante." jawab Tania.
Laras menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Kenapa kamu membatalkan pertunangan secara tiba-tiba?" Tania membeku.
"Tante tidak marah. Sungguh. Hanya saja, Tante ingin mendengar alasan kamu." ucap Laras lembut.
Tania tak bisa menjawab. Ia terdiam. Haruskah dirinya memberitahu ibu dari pria yang ia benci sekaligus ia cintai tentang alasan di balik batalnya pertunangan mereka?
Laras tersenyum dan menegang jemari Tania. Ia mengerti, mungkin berat bagi Tania berbagi cerita dengan dirinya. Apalagi, dirinya adalah ibu dari pria yang akan bertunangan dengan gadis itu, namun batal.
"Tidak apa jika kamu tak ingin berbagi." ucap Laras.
"Sebenarnya...." lidah Tania terasa kelu.
"Sudah, jangan di paksakan." ucap Laras.
"Tania tidak yakin dengan perasaan Tania pada Gerald. Begitu juga Gerald pada Tania. Tania takut, jika kami paksakan kami hanya akan saling menyakiti. Tania tidak ingin itu terjadi. Jika suatu saat cinta itu hadir, Tania tidak akan lari." Tania tersenyum pada Laras.
Laras termenung. Selama ini, ia mengakui jika dirinya tak begitu dekat dengan Gerald. Tidak hanya itu, Gerald juga terlihat sangat menutup dirinya. Sebagai ibu, Laras merasa gagal.
*****
Gerald terbangun saat ada sentuhan yang ia rasakan di kepalanya. Ia mengangkat pandangannya dan melihat ayahnya yang sudah terbangun. William tersenyum pada Gerald.
"Bapak." ucap Gerald senang. Setitik airmata menetes dari sudut matanya.
William tak bicara. Gerald segera menekan tombol panggilan di dekat tempat tidur William. Gerald menggenggam tangan William dan mengecupnya.
"Gerald senang bapak bangun lagi. Maaf, karena Gerald belum bisa jadi seperti yang bapak mau." ucapnya.
Tak lama kemudian, dokter dan perawat pun masuk ke ruangan William.
"Biar saya periksa dulu ya." ucap dokter itu.
Gerald pun menyingkir. Mendengar suara dokter, Laras yang sempat tertidur lagi kembali bangun. Wanita itu menghampiri putranya.
__ADS_1
"Bapak kenapa?" tanyanya.
"Bapak sudah sadar Bu." jawab Gerald.
Laras tersenyum bahagia. Ia menghampiri suaminya. Namun Gerald menghalanginya.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Biar dokter periksa dulu Bu." Laras pun mengangguk.
Dokter sudah selesai memeriksa kondisi William. Setelah itu, dokter menghampiri Gerald dan Laras.
"Pak William baik-baik saja sekarang. Sepertinya, beliau pingsan karena kekurangan darah saja. Saya sudah meminta perawat untuk mengambil sampel darah untuk di cek ke lab. Semoga saja, hasilnya baik ya Bu." ucap dokter.
"Iya dokter terimakasih." ucap Laras.
"Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit dokter itu.
"Terimakasih dok." ucap Gerald.
Dokter dan perawat pun meninggalkan mereka. Laras segera menghampiri William suaminya.
"Bapak kenapa gak bilang ibu kalau sakit?" tanya ibu.
"Bapak sebenarnya hanya merasa lemas. Tapi tidak tahu, ternyata anemia bapak kambuh. Bahkan sampai pingsan." William terkekeh.
"Ya sudah, bapak istirahat ya." pinta Laras. Gerald pun menaikkan selimut yang digunakan William.
"Gak apa Bu, biar Gerald di sini."
Gerald melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan tepat pukul lima lebih sepuluh menit. Gerald memutuskan mencari sarapan untuk mereka.
"Gerald, beli sarapan saja ya Bu. Ibu mau makan apa?" tanya Gerald.
Laras terlihat berpikir. "Bubur ayam saja. Bapak mau?" William mengangguk.
William memang masih merasakan lemas di tubuhnya. Gerald pun berlalu meninggalkan kedua orangtuanya. Ia mencari pesanan ibu dan bapaknya.
Setelah setengah jam mencari, Gerald pun menemukan penjual bubur ayam. Sambil menunggu pesanannya, ia memainkan ponselnya.
Ada beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Namun satu yang menarik perhatiannya.
Sandy:
Tania tahu, Lo cuma jadikan dia pelarian Lo. Kalau Lo emang cinta dia, kejar dia. Tapi jika tidak, lepaskan dia. Akan lebih sakit jika dia tahu hal ini belakangan.
Tania tahu? Tapi darimana? Sejak kapan? Apa itu sebabnya dia memutuskan pembatalan pertunangan? batinnya.
Lamunannya buyar seketika, saat penjual bubur itu memberikan pesanannya.
__ADS_1
"Ah, terimakasih pak." Gerald mengambil dompetnya dan membayar. Setelah itu, ria itu segera kembali ke rumah sakit.
*****
Lisa menyiapkan bekal makanan untuk ibu dan bapaknya. Menambahkan satu porsi lagi untuk Gerald kakaknya. Setelah Laras memberinya kabar pagi tadi, Lisa segera menyibukkan dirinya di dapur.
Usai menyiapkan bekal, Lisa segera membersihkan tubuhnya. Nathan memasuki kamar dan melihat Lisa yang sedang bersiap-siap.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Nathan heran.
"Bapak udah sadar kak." jawabnya senang.
"Benarkah?" Lisa mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit. Aku mandi dulu." Nathan segera membersihkan dirinya.
Setelah itu, ia mengantar istrinya bertemu dengan William. Tiba di sana, William tengah bercanda ria dengan Laras, dan Gerald.
"Masuk sayang." ucap Laras.
Lisa dan Nathan melangkah masuk. Lisa memeluk William dan Laras bergantian. Ia memberikan bekal yang tadi dibuatnya.
"Tidak usah repot-repot." ucap Laras tak enak hati.
"Tidak apa Bu." jawab Lisa.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Hingga waktu sudah memasuki sore, Lisa dan Nathan berpamitan.
Setelah itu, Lisa dan Nathan segera pulang.
*****
Tania mendatangi rumah adiknya Lisa. Sayangnya, Lisa sedang tidak di rumah. Tania pun memutuskan menunggu. Pria itu menggoda baby Tama yang sedang bertingkah lucu itu.
Asyik bermain, ia tak memperhatikan jika Lisa dan Nathan sudah kembali. Mereka memilih membersihkan diri. Karena mereka baru kembali dari rumah sakit. Setelah itu, barulah mereka bergabung.
"Kakak tumben ke sini?" tanya Lisa saat sudah duduk di samping Tania.
"Memangnya, aku tidak boleh main ke sini?" Tania mendelik. Nathan dan Lisa terkekeh melihat ekspresi yang di tunjukkan Tania.
"Boleh...boleh..." jawab Lisa setelah meredakan kekehannya.
"Lis, temani Tania. Biar Tama sama mama." ucap Nindya yang sudah muncul di belakang mereka.
Baby Tama langsung merentangkan kedua tangannya ingin memeluk sang nenek. Dengan sigap, Nindya segera mengangkat jagoan kecil itu dan membawanya ke kamarnya.
*****
baca kisah Kiara dan Michael di platform ungu ya. Sudah berjalan loh. Tenang aja, meski berbayar, platform menyediakan koin gratisnya setiap hari. Baca ceritanya dengan judul **Affair with my boss
__ADS_1
Jangan lupa like👍, komen💭 dan vote atau hadiahnya ya genks untuk cerita ini...
thank you genks**...