Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Penyelesaian #2


__ADS_3

Tak lama setelah Tania mengatakan itu terdengar suara langkah kaki yang menggema di sepanjang lorong rumah sakit. Apa lagi, rumah sakit ini adalah milik keluarga mereka. Dengan bebas, mereka mengosongkan area itu.


"Kenapa kau lakukan ini pada ayah Tania?" tanya Ardian saat ia berada di hadapan Tania.


Tania tak berani mengangkat pandangannya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ada rasa takut yang menghampirinya. Terlebih, saat bayangan kemarahan Ardian tadi pada Ferdinand. Ia bergidik ngeri.


Sementara, hati kecilnya ingin bertanya pada Ardian. Bertanya tentang kebenaran yang terucap dari mulutnya yang tak sengaja ia dengar tadi. Airmatanya menggenang saat mengingat hal itu.


Ardian tahu, Tania pasti ingin mengetahui duduk persoalan yang terjadi. Dan ia yakin, jika Tania sudah mencuri dengar pembicaraan antara dirinya dan Ferdinand.


Ardian menarik Tania ke pelukannya. Menyalurkan cinta yang selalu ia berikan pada putrinya. Ralat, putri adiknya. Mengecup puncak kepala Tania berkali-kali. Matanya terasa panas. Ia sadar, ia sudah mencintai gadis dalam pelukannya. Ia sudah menganggap Tania Putri kandungnya.


"Maafkan ayah." ucapnya serak menahan tangis.


Ferdinand dan yang lainnya ikut terharu melihat kejadian itu. Mereka di kejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Lisa, kamu tidak apa-apa nak?" pertanyaan itu terlontar.


Seketika, mereka menoleh dan menatap Alena. Begitupun Tania. Gadis itu, yang selama hidupnya tidak pernah mengenal ibunya. Tania menatap lekat wajah Alena. Alena pun turut menatapnya.


Ada debar aneh yang menghampirinya. Ada rasa sayang yang teramat dalam yang mendorong Alena untuk memeluk Tania.


Tania pun melepaskan pelukan Ardian. Matanya, menatap Alena lekat. Terlihat cinta di sana. Entah apa yang mendorongnya memeluk Alena. Begitupun Alena.


Tangis haru menyelimuti mereka. Lisa bahkan sudah ikut terisak. Alena memeluk erat Tania. Ada ikatan tak kasat mata di antara mereka. Karena pada dasarnya, Alena belum mengetahui siapa Tania yang sebenarnya.


Kenapa aku merasa sangat dekat dengan gadis ini? Kenapa hatiku terasa sakit? batin Alena.


Mami.... gumam Tania dalam hati.

__ADS_1


Ardian menatap penuh haru adegan di hadapannya. Ada penyesalan yang tergambar di wajahnya. Rupanya, ikatan darah lebih kental. Meski mereka terpisah sejak 30 tahun lalu, ikatan batin antara ibu dan anak tetaplah terjalin.


Nathan yang datang berikutnya, segera menghampiri Lisa. Ia memeluk Lisa erat dalam dekapannya. Mengucap syukur berkali-kali dalam hatinya. Rasa lega itu terpancar jelas di matanya.


Alena tersadar dan segera bertanya apa yang terjadi. Ardian, memilih diam. Hingga akhirnya, Ferdinand mengatakan semuanya. Alena terperangah. Namun ia memilih untuk tidak menghakimi Ardian, begitupun semua yang hadir di sana, tidak ingin menghakimi perbuatan Ardian. Ardian menunduk malu.


"Hendrik, maafkan aku. Karena keegoisanku, istri dan anakmu menjadi korban. Jika kau ingin membawa hal ini ke jalur hukum, aku akan menerimanya." ucap Ardian.


Hendrik terdiam. Jika di pikirkan kembali, ia benar-benar sudah menjadi korban atas kesalahan yang tidak berhubungan dengannya. Bimo memegang pundak ayahnya dan tersenyum, saat Hendrik menatapnya.


"Sudah lah. Aku menghukum mu pun, istri dan anakku tak kan kembali lagi." ucap Hendrik sendu.


Ardian menatap Hendrik dengan berlinangan airmata. Ia mengakui kesalahannya. Pada Alena pun, ia meminta maaf.


"Maaf." lirihnya pada Alena. Entah mengapa, semua kata-kata yang sudah di persiapkan nya, tak bisa ia utarakan.


Alena menatap pedih pada pria yang pernah menjadi bagian hidupnya itu. Semua ini terjadi pun, karena ada andil Alena di dalamnya. Pada akhirnya, Alena hanya mengangguk tanpa dapat berkata-kata.


••••••••


Keesokkan harinya, kedua orang paruh baya tersebut, akhirnya tersadar. Orang pertama yang mereka lihat adalah Ardian. Penyesalan demi penyesalan pun mereka ungkapkan padanya.


Ardian menatap nanar pada mereka. Sepertinya, airmata telah mengering dari matanya. Justru kepada dua orang yang menjadi penyebab luka batinnya lah ia tak bisa mengeluarkan airmatanya.


Keduanya mengerti. Dan mereka pun tak memaksa Ardian memaafkan mereka.


"Aku membenci kalian hingga ke tulang sum-sum ku." ucapnya. Kedua orang tua itu menangis.


Mereka sangat mengerti dan tidak meminta untuk di maafkan.

__ADS_1


Mereka mengalihkan tatapan pada Alena. Sama seperti Ardian, Alena pun terdiam menatap mereka. Jika dulu, masih ada rasa takut dalam diri Alena saat menatap kedua mertuanya, kini rasa takut itu sirna sudah. Berganti dengan iba. Ya, Alena iba namun tak menunjukkan ekspresinya.


Dan akhirnya, mereka menatap Ferdinand dan kedua cucu mereka. Yang akhirnya menjadi sasaran pelampiasan dari perbuatan mereka di masa lalu. Ferdinand sendiri, menatap mereka dengan rasa kekecewaan yang teramat besar.


Lisa dan Tania, memilih memaafkan mereka. Karena sejujurnya, mereka tahu, ini bukan ranah mereka untuk menghakimi Oma dan opanya.


******


Seminggu berlalu. Masalah kini telah usai. Tania, lebih memilih tinggal dengan Ardian di banding kedua orangtuanya. Bukan karena ia tak mengenal mereka secara pribadi, atau tidak menginginkan mereka, tapi ia merasa jauh lebih nyaman tinggal dengan orang yang sudah merawatnya sejak lahir.


Ada luka yang tak kasat mata dalam diri Ferdinand. Ia begitu ingin mencurahkan kasih sayang, pada putrinya yang sempat menghilang. Namun, ia pun tak bisa memaksakan kehendaknya. Di tambah lagi dengan kenyataan, jika Ardian sungguh menyayangi putrinya layaknya putri kandungnya sendiri.


Alena sendiri, mendukung setiap keputusan yang Tania ambil. Karena Tania, pasti mengetahui mana yang terbaik bagi dirinya.


Sebelumnya, Ferdinand pernah mengatakan pada Alena, "jika dirinya ingin kembali pada Ardian, Ferdinand akan merelakannya.". Namun Alena menentangnya. Sejujurnya, Alena sudah jatuh cinta pada Ferdinand. Meski sebelumnya, ia terpaksa menikahi pria itu, nyatanya cinta itu hadir tanpa ia sadari.


Dan Ardian pun, tak memaksa. Ia tahu, cinta untuk Alena masih bertahta dalam hatinya. Bahkan, rasanya tak ada satu orangpun yang bisa menggantikan tempat itu. Itulah alasan Ardian tak pernah menikah.


*****


Ketenangan, kini kembali dalam keluarga besar Lisa. Tania sering datang mengunjunginya dan kedua orangtuanya. Alena pun kini sudah membaik.


"Karena semuanya sudah kembali tenang, Aku rasa, kita bisa mengadakan makan malam keluarga. Sekalian kita syukuran. Karena kamu dan calon anak kita baik-baik saja." ucap Nathan seraya mengelus perut Lisa yang kini semakin membuncit.


Lisa terlihat berpikir. "Boleh. Lisa setuju. Tapi, Lisa mau di adakan nya di rumah mami dan papi Lisa." usul Lisa.


Nathan mengangguk cepat menyetujui ide Lisa. Mereka pun tersenyum bersama.


"Aku, boleh nengok baby kita?" bisik Nathan di telinga lisa.

__ADS_1


Wajah Lisa sudah memerah bagaikan tomat matang. Sedetik kemudian, ia menganggukkan kepalanya. Nathan tak membuang kesempatan. Ia segera membopong istrinya itu, menuju kamar mereka dan menikmati berbagi peluh bersama.


__ADS_2