Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Tidak Ingin Over Protektif


__ADS_3

Matahari senja membuat Nada meminggirkan kendaraan roda duanya di sebuah kantor ekspedisi. Dari jarak yang tidak terlalu dekat, Nada melihat sang suami sedang menata barang yang baru saja masuk. Dia tersenyum  di atas motornya melihat kegigihan dan kesungguhan suaminya menafkahinya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tidak menerima tawaran beasiswa dari Randi.


Nada tidak ingin mengecewakn suaminya. Secara materi, memang Kaysan tidak memiliki apapun. Namun, secara perasaan Kaysan mampu memberikan dirinya kebahagiaan penuh.


Lama memperhatikan suaminya, Nada pun melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah.


Tak berselang lama, Kaysan sudah kembali dari kantor menjelang magrib.


“Assalamualaikum,” ucap Kaysan masuk ke dalam rumah. Usai laki-laki itu memarkirkan motornya di teras depan rumah.


“Waalaikum salam,” jawab Nada. Perempuan berbaju gamis mocca dengan jilbab bergo instan keluar kamar  menyambut kepulangan sang suami.


Kaysan selalu tersenyum mendapat perhatian dari sang istri yang selalu menyambut kedatangannya dengan suka cita. Bagi Kaysan, melihat istrinya tersenyum sudah membuat hatinya berbunga-bunga bahagia.


Usai mencium kening sang istri, Kaysan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum waktu solat tiba.


***


Pagi menjelang tiba, usai kembali dari solat subuh seperti biasa, Kaysan membantu pekerjaan Nada membersihkan rumah.


Sementara itu, Nada disibukkan di dapur menyiapkan sarapan pagi. Kemarin sore sebelum ia kembali ke rumah, Nada sudah singgah terlebih dahulu di pasar untuk membeli beras dan kebutuhan lauk pauk,  setelah melihat suaminya di kantor.


Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab, Kaysan memberikan sebagian uang hasil pesangonnya yang di dapat dari pak Rudi, tempat bekerja sebelumnya. Sebagian sisanya dibelikan untuk mahar dan hantaran Lalu, sisanya ia sisihkan untuk kebutuhan rumah tangganya setelah menikah.


Itulah yang ia berikan kepada Nada, sebagai nafkah. Kaysan mempercayakan keuangan rumah tangga dikelola oleh sang istri.


Melihat jam hampir menunjukkan pukul 07.00 pagi, Kaysan bergegas membersihkan diri dan memakai pakaian yang rapi.

__ADS_1


Namun, saat dirinya berdiri di depan cermin untuk menyisir rambut, kedua netranya tidak sengaja melihat brosur yang berceceran di atas lantai. Laki-laki berpakaian rapi itu pun berjongkok mengambil brosur tersebut.


“Apa, Nada sengaja menyembuyikan ini dari, aku?” pikir Kaysan memperhatikan brosur beasiswa S2 salah satu kampus yang ada di luar negeri.


Sementara itu, Nada yang tidak tahu menahu jika sang suami sudah melihat brosur tersebut bersikap biasa saja. Bahkan, belum sempat ia mengatakan kepada suaminya perihal tawaran beasiswa tersebut.


Makanan sudah tersaji di atas meja. Nada pun beranjak menuju kamar memanggil suaminya.


“Mas, makanannya sudah siap. Sarapan, yuk!” ajak Nada berdiri di bibir pintu kamar.


Kaysan yang berdiri di depan jendela dengan membelakangi pintu pun langsung menoleh.


“Ini apa, sayang ?” tanya Kaysan mengangkat brosur beasiswa kuliah di depan Nada.


Kedua manik mata hitam Nada, pun membola kaget.


“M-mas... sudah li-lihat?” tanya Nada gugup.


Karena tidak ingin ada kesalahpahaman, Nada pun mulai menjelaskan perihal beasiswa tersebut.


Kaysan mendengarkan secara seksama penjelasan istrinya sampai selesai.


“Sayang, kamu tahu ‘kan kalau aku nggak pernah melarang kamu mengejar karir selama kamu tahu batasnya.” Ujar Kaysan seraya memegang kedua pundak Nada.


Laki-laki itu mengambil nafas lalu melanjutkan kalimatnya.


“Aku tidak ingin dicap sebagai suami yang over protektif, membatasi gerak-gerikmu, mengekangmu. Sebagai suami aku tidak ingin egois yang mementingkan diri sendiri. Makanya, aku percaya kamu.  Selama itu membuatmu nyaman, lakukan saja apa yang kamu senangi.”

__ADS_1


“Aku tahu, Mas kamu akan memberikanku kebebasan demi karirku. Tetapi, bagiku mengambil beasiswa di luar negeri tidak semudah itu.”timpal  Nada menarik tangan suaminya untuk duduk di bibir ranjang.


“Pernikahan kita baru hitungan hari. Ibarat tanaman baru menjadi kecambah. Apa kamu rela, kalau aku ke Inggris selama dua tahun lamanya. Padahal kita baru saja menikah. Dan bagaimana dengan kamu kalau aku ke sana? Walaupun aku sangat menginginkan beasiswa itu, namun aku tidak ingin mengorbankan pernikahan kita yang masih seumur jagung, Mas.”


Kedua netra Kaysan sudah berair membasahi pelupuk mata.


“Ta-tapi-“


Ucapan Kaysan terhenti karena Nada mengecup bibir suaminya.


“Kamu nggak usah khawatir, Mas. Walaupun, aku nggak ambil di Inggris, bukan berarti aku tidak bisa mendapatkan beasiswa lagi.”


Nada menggenggam kedua tangan suaminya sembari berkata,” Mas, aku melanjutkan studi S2 ku di kampus yang sama dengan beasiswa. Aku rasa kualitas pendidikan di sini tidak kalah jauh dengan di luar negeri. Jadi, aku harap kamu nggak usah khawatir dan merasa bersalah.” Nada terus meyakinkan suaminya agar tetap tenang.


“Terima kasih, sayang. Aku tidak salah memilih kamu untuk menjadi istriku.” Kaysan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


“Kalau gitu sekarang kita sarapan, yuk! Nasinya sudah dingin.” Ajak Nada.


“Baiklah. Ayo, sayang.”


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2