Pernikahan Impian

Pernikahan Impian
Kita berteman


__ADS_3

Tania melemparkan tubuh lelahnya ke atas ranjang. Ia baru saja kembali dari kediaman Lisa dan Nathan. Rasa penasarannya tak terjawab. Jujur saja, Tania begitu ingin tahu siapa gadis yang di cintai Gerald.


Apa yang akan Lo lakukan seandainya Lo tahu siapa gadis itu?


Pertanyaan Nathan kembali terngiang. "Benar juga ya. Apa yang akan ku lakukan jika aku tahu?" gumamnya pada diri sendiri.


Tania menatap langit-langit kamarnya. Hingga matanya terasa berat dan perlahan, ia memasuki alam mimpi.


Dalam mimpinya, Tania melihat Gerald. Tania memanggilnya, akan tetapi entah mengapa Gerald terus berjalan menjauh. Tak peduli sekeras apa Tania memanggilnya.


"Gerald..." pekiknya saat ia berhasil membuka matanya.


"Mimpi..." gumamnya.


Tania meremas rambutnya perlahan. Ia melirik jam yang melingkar di lengannya. Ia terlonjak kaget melihat jam itu. Segera ia berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Ia lupa, jika Ardian ayahnya mengajak makan di luar. Secepat kilat, Tania membersihkan dirinya dan mencari outfit yang dirasa nyaman. Memakai make up tipis dan segera masuk ke mobilnya.


Entah ada acara apa ayahnya itu mengajak makan di luar. Tiba di restoran yang sudah di pesan atas nama sang ayah, Tania segera duduk. Rupanya sang ayah pun belum tiba. Ia melirik ponsel nya berkali-kali.


"Kenapa ayah belum sampai?" gumamnya.


Tania pun mulai berselancar di dunia maya. Hingga terdengar suara kursi yang berderit di depannya. Ia mengangkat pandangannya dan terkejut melihat kehadiran Gerald.


Bukankah Gerald di rumah sakit menjaga ayahnya? Kenapa dia di sini? batinnya.


"Kau sudah pesan makanan?" tanya Gerald sambil membalik buku menu.


"Kenapa kau di sini? tanya Tania.


"Karena aku ingin bicara denganmu." ucapnya datar.


Gerald pun memesan dua steak dan jus jeruk untuk mereka. Setelah pelayan pergi menyiapkan hidangan, Gerald menatap Tania. Gadis itu salah tingkah di buatnya. Entah mengapa, Tania merasa terintimidasi.


"Kau tahu aku menyukai orang lain?" tanya Gerald.


Raut wajah Gerald tak sedikitpun menyesal. Saat melihat itu, Tania menghembuskan nafasnya kasar. Entah kemana perginya sisi Tania yang merasa malu di tatap oleh Gerald beberapa menit yang lalu. Kini, raut wajah Tania menyiratkan bahwa ia terluka melihat Gerald yang mengatakan hal ini seakan bukan masalah besar.


Baiklah, ini memang bukan masalah besar bagi pria itu. Baginya pun, seharusnya itu bukan masalah besar. Bukankah mereka sudah tidak memiliki hubungan? Untuk apa Tania merasa terluka?

__ADS_1


"Bukan urusanku." ucap Tania setelah terdiam cukup lama.


Tak lama, pelayan datang dan menghidangkan pesanan mereka dan segera pergi. Gerald mulai memotong steak di depannya. Tania mengambil jus jeruk dan meminumnya. Selera makannya menguap begitu saja.


"Kau tidak makan?" Tania menggeleng.


"Aku tidak lapar." Gerald melanjutkan aksinya.


Saat semua daging steak sudah terpotong, ia menukarnya dengan milik Tania. Lalu, memberi isyarat agar Tania memakannya.


"Sebaiknya aku pergi. Aku kesini karena ayah ku bilang ingin makan bersama di sini. Jika tahu pada akhirnya kau yang muncul, sebaiknya aku tetap di rumah tanpa bersusah payah melangkahkan kaki ku ke sini." Tania mengambil tasnya dan segera berdiri.


"Aku yang meminta om Ardian untuk bertemu denganmu di sini." ucap Gerald sebelum Tania beranjak.


"Ada yang ingin aku bicarakan." mata Gerald masih menatap pada Tania.


"To the point saja." Tania kembali duduk tanpa menyentuh steak itu.


"Makanlah dulu." ucap Gerald.


Tania bergeming. Sedikitpun tangannya tak bergerak menyentuh daging itu. Gerald segera menusuk daging yang sudah di potongnya tadi, dan menyodorkannya ke mulut Tania. Gadis itu mengernyit.


"Buka mulutmu" perintah Gerald.


Gerald menaruh pisau dan garpu makannya dan menggeser piringnya. Selera makannya ikut hilang dengan penolakan Tania tadi. Pria itu pun duduk bersandar dan bersedekap. Ia menatap Tania lekat.


"Apa kau marah karena aku menyukai orang lain?" Tania berdecak.


"Untuk apa? Hanya membuang energi ku saja." gadis itu membuang pandangannya.


"Dengar, aku sedang berusaha melupakan wanita itu. Karena dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Aku mohon, bantu aku untuk melupakannya dan menempatkan mu di posisinya." Gerald menunjuk d***nya.


Tania masih diam tak bicara. Di sudut hatinya merasa tersentuh mendengar ucapan Gerald.


"Sampai kapan?" tanyanya ketus. Gerald menggeleng.


Oke, baiklah sepertinya akan sulit bagiku untuk menjauh dari mu. gumam Tania dalam hati.


"Entahlah. Aku tidak bisa memberi kepastian." jawab Gerald.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya untuk saat ini kita berteman saja." Tania mengulurkan tangannya hendak berjabatan dengan Gerald.


Gerald memejamkan matanya sejenak. Kemudian pria itu mengangguk dan menyambut uluran tangan Tania.


*****


Pagi ini, Tania bangun dengan tubuh yang terasa segar. Ia menyambut pagi dengan senyum mengembang. Hatinya terasa lebih lapang setelah kepastian hubungannya dengan Gerald semalam.


Ya, kini mereka memutuskan akan berteman. Tania ingin melindungi dirinya dari rasa sakit. Tanpa ia ketahui, jika hatinya sudah terpaut pada Gerald.


Gadis itu berpikir, jika dirinya akan dengan mudah menghapus rasa yang sempat tercipta di hatinya untuk Gerald.


Langkahnya terasa ringan. Ia tiba di ruangannya dan mulai mengerjakan setiap pekerjaannya dengan fokus. Semua pekerjaannya selesai tepat waktu.


"Selamat siang Bu." sapa salah satu karyawannya saat jam makan siang.


"Siang." sapa Tania. Gadis itu tengah berjalan menuju kantin kantornya untuk makan siang.


Ia mulai mengambil makanan untuk dirinya. Baru saja dirinya memilah apa yang ingin di makannya, ponselnya mulai berdering. Tania menyingkir dan melihat siapa orang yang meneleponnya.


"Halo yah." ucapnya begitu menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Ayo makan bersama ayah."


"Ayah gak bohongin Tania lagi kan?" Adrian yang mendengar dari seberang sana terkekeh geli.


"Tidak sayang, anggap ini


sebagai kompensasi dari kesalahan ayah tadi malam."


"Oke. Dimana?" tanyanya bersemangat.


"Di ruangan ayah saja."


"Tania ke sana sekarang."


Tania mematikan sambungan telepon itu dan menuju ruangan ayahnya. Tidak sampai lima belas menit karena dirinya menggunakan lift khusus petinggi perusahaan untuk tiba di ruangan ayahnya.


Ia segera mengetuk ruangan itu. Saat terdengar suara seseorang yang menyuruhnya masuk, Tania segera mendorong pintu itu dan masuk.

__ADS_1


Di sana, tidak hanya ada Ardian. Melainkan Ferdinand dan Alena pun turut berada di sana. Tania memeluk Alena. Begitupun Alena membalas pelukan putri sulungnya itu. Bergantian dengan Ferdinand.


Mereka mulai makan siang bersama. Tania terlihat tersenyum senang melihat keluarganya. Ini adalah salah satu keinginannya. Makan bersama dengan ayah dan ibunya. Bahkan dirinya memiliki dua orang ayah yang begitu menyayanginya dan cukup posesif dalam menjaganya. Meski begitu, Tania sangat senang berada di tengah-tengah mereka.


__ADS_2